MATARAM – Sekelompok anak-anak muda asal Gayo Takengon Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) memukau warga di Lombok Nusa Tenggara Barat selama dua hari terakhir, Ahad – Senin, 21-22 Agustus 2016. Mereka yang tergabung dalam Gayo Coffe Blues Band (GCBB) memperoleh kesempatan tampil pada acara yang berbeda.

Ahad 21 Agustus 2016 petang, mereka berada di panggung Pesona Senggigi International Jazz & World Music Festival tampil selama 40 menit di salah satu dari tiga panggung yang ada di sana. ‘’Kami pilihkan waktu tampilnya menjelang sunset sesuai dengan warna musiknya,’’ kata Imam Sofian dari Coffe Bandini selaku penyelenggara kegiatan yang terbuka untuk umum di pantai Senggigi.

Senin 22 Agustus 2016 petang kemarin, mereka diundang tampil dalam acara pembukaan Pameran Ekonomi Kreatif dalam rangka Bulan Budaya Lombok Sumbawa di panggung yang berada di Lapangan Sangkareang, ‘’Ini kesenian tradisi Didong Gayo. Barusan membawakan kisah konflik yang pernah terjadi di Aceh,’’ ujar Manajer GCBB Muhammad Agus Pramudya yang sebenarnya asli Nusa Tenggara Barat tetapi sudah 10 tahun berdiam di Takengon NAD.

Kesenian Didong Gayo sebagai salah satu kesenian masyarakat Gayo yang masih bertahan hingga zaman modern sekarang. Merupakan perpaduan antara seni tari dan seni suara, dengan unsur sastra berupa syair-syair sebagai kekuatan utamanya. ‘’Kesenian Didong Gayo oleh masyarakat Gayo ini digunakan sebagai media syiar Islam,’’ ucap Agus Pramudya.

Personil GCBB yang menekuni bisnis kopi Gayo diantaranya Ali Laskar Gayo (vokalis), Ujang Zombeetnica (bass), Riza De Canon (gitar), Juhka Zombeetnica (drum/perkusi), Wandi Gayo Choir (keyboard), De’an Zombeetnica (perkusi), Yuda Zombeetnica (perkusi), Doddy (percusi), dan Fahriandi Zombeetnica (percusi).

Menurut penggagas Pesona Senggigi International Jazz & World Music Festival Imam Sofian, musik Gayo ini layak dijadikan sebagai kebangkitan musik tradisi yang lebih universal. ‘’Bagaimana menampilkan lagu Kadal Nongak di Lombok atau gendingnya sehingga menjadi menarik di pentas internasional,’’ kata Imam Sofian lagi.

Adapun Pesona Senggigi International Jazz & World Music Festival 2016 sebagaimana dikatakan Imam Sofian, untuk mengembalikan pamor wisata Senggigi Lombok Barat yang akhir-akhir ini tersalip populernya Gili Trawangan di Kabupaten Lombok Utara. ‘’Ya setelah selama ini Senggigi menjadi perintis destinasi wisata di NTB, harus dibangkitkan lagi,’’ ujarnya.

Festival yang dihajatkan diselenggarakan setiap tahun pada waktu bulan purnama ini menghabiskan satu miliar rupiah sebagai biaya patungan antar berbagai kelompok peduli wisata ini, adalah sebuah kegiatan yang juga bertujuan untuk menggairahkan kegiatan bermusik di kalangan anak-anak muda di pulau Lombok dan Sumbawa.

Festival yang berlangsung dua hari Sabtu – Minggu 20 – 21 Agustus 2016 menampilkan delapan kelompok bintang tamu dari luar daerah seperti Aceh, Jakarta dan Bandung antara lain GCBB, Yura Yunita, Bonita and the Hus Band, Indro Hardjodikoro-Gilang Samsoe. Sedangkan yang berasal dari dalam daerah sebanyak 10 kelompok.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here