MATARAM – Amaq Baoq—tokoh wayang Sasak yang ternyata bernama “asli” Rangga—menyembunyikan kegelisahannya. Dikeriuhan Ampenan, dia merasa sendiri. Orang-orang lalu lalang nyaris tanpa tegur sapa. Setiap karib yang dia temui seperti sudah tak saling megenali, termasuk Ocong, Keseq, Itet. Seperti kebanyakan orang, mereka tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Seolah tak ada lagi waktu buat bercengkrama.

“Oe…. Ada apa ini, kenapa begini rupa Ampenan?” kata Amaq Baoq. Kegelisahan Baoq akan Ampenan akhirnya terjawab ketika satu persatu para karibnya buka suara. Meski berada di ruang yang sama, di warung kopi, di atas angkot, di jalanan bahkan di masjid, vihara dan gereja, ternyata semua orang sedang sibuk membangun dunianya masing-masing; dunia maya dengan komunitas sosial maya, tegur sapa maya, senyum dan kesedihan maya termasuk solidaritas maya.

Potongan adegan itu adalah kegelisahan Amaq Baoq tentang Ampenan dalam pertunjukan Roah Ampenan, Pentas Wayang Perdamaian, di bekas Pelabuhan Ampenan, Sabtu (13/8). Kegelisahan Baoq boleh jadi adalah kegelisahan kita. Kegelisahan yang selama ini kita simpan diam-diam sambil mencari cara untuk mensiasati dan memakluminya sebagai sebuah kelaziman, sebagai sebuah konsekwensi perkembangan zaman.

Roah Ampenan; Pentas Wayang Perdamaian, adalah bagian dari kerja Hibah Cipta Perdamaian Kelola 2016. “Roah Ampenan adalah perwujudan rasa syukur atas semua anugerah yang telah diberikan Tuhan kepda kita, terutama nikmat perdamaian,” ujar ketua Yayasan Pedalangan Wayang Sasak Abdul Latif Apriaman, saat membuka acara.

Menurut Latif, ide Roah Ampenan digagas bersama sejumlah komunitas masyarakat yang ada di Ampenan. Bersama kelompok Semeton Ampenan, ide itu digulirkan dengan mengajak perwakilan etnik yang ada di Ampenan untuk berembuk, merancang bersama sebuah pertunjukan yang partisipatif dan bisa diterima semua kalangan. “Roah Ampenan ini adalah pengingat bagi kita, bahwa Ampenan ini adalah Indonesia Kecil yang di dalamnya ada beragam etnis, suku dan agama yang berbeda. Perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan, bersama kita bisa merayakannya.” ucap Latif.

Berbeda dari pentas wayang Sasak yang selama ini dikenal, pementasan wayang dengan dalang Bayu Azmi–siswa Sekolah Pedalangan Wayang Sasak—menggunakan pola interaksi dengan penonton. Dalang tidak lagi bermonolog dan menjadi satu-satunya sumber “suara”, akan tetapi penonton yang hadir bisa diajak berkomunikasi langsung dengan tokoh-tokoh dalam wayang.

Dialog interaktif ini misalnya dilakukan dengan kelompok musik Diampenan Andamble yang menjadi bagian dari pertunjukan. Amaq Keseq, dalam lakon itu meminta para pemain Diampenan Ansamble memainkan satu-satu musik yang mereka pegang. Pesan yang ingin disampaikan bahwa, jika hanya ada satu jenis musik yang dimainkan, maka harmoni akan sulit didapatkan. Harmony kemudian terasa saat setiap pemain memainkan alat musik yang mereka bawabersama-sama dalam sebuah komposisi , tanpa memaksakan diri menjadi yang paling menonjol.

Kapolsek Ampenan Komisaris Pol Sujoko Aman, menjadi salah seorang penonton yang dipanggil maju untuk berdialog dengan tokoh-tokoh wayang. “Upaya menjaga perdamaian itu harus diawali dari diri kita massing-masing. Kalau kesadaran dalam diri sudah terbangun maka perdamaian bersama akan bisa kita wujudkan.” kata Joko saat menjawab sebuah pertanyaan tentang upaya menjaga perdamaian di Ampenan yang dilontarkan Amaq Ocong.

Selain Kapolsek Ampenan, pendiri komunitas Semeton Ampenan, Zulhakim juga menjadi salah seorang penonton yang daulat tampil ke depan layar. Dalam dialognya, Zulhakim menyatakan apresiasinya atas digelarnya Roah Ampenan, ”Terima kasih Amaq Baoq, Amaq Ocong dan kawan-kawan semua,’’ ujarnya. Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan sebagai pengingat bahwa perdamaian itu mutlak dibutuhkan untuk keharmonisan Ampenan..

Tidak hanya berinteraksi dengan penonton, pertunjukan wayang malam itu juga diwarnai dengan munculnya wayang-wayang berwarna. Ada penari Rudat yang mengenakan pakaian warna-warni, ada naga berwarna yang meliuk-liuk mengikuti alunan musik barongsae, juga ada belasan bendera merah putih yang warnanya muncul jelas di depan kelir. Wayang-wayang berwarna itu ternyata terbuat dari plastik bekas air mineral yang dicat berwarna warni. Model wayang berwarna dari bahan sampah plastik ini ternyata mendapat respon positif penonton.

Pertunjukan Roah Ampenan malam itu diakhiri dengan menyanyikan bersama lagu Indonesia raya, untuk menyambut HUT RI ke 71. Mayoritas penonton, berdiri bersama mengikuti aajakan sang dalang. “Saya kaget, baru pertama kali melihat wayang sasak yang berwarna, dan sempat merinding saat di akhir pertunjukan semua penonton berdiri dan menyanyi Indonesia Raya bersama-sama.” Kata Jumaidi, salah seorang penonton (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here