MATARAM – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan menjadikan Balai Bio Industri Laut (BBIL) di Lombok sebagai laboratorium kelautan internasional. Sebagai lembaga riset dan pengembangan di sana ada fasilitas lima laboratorium dan fasilitas produksi benih di laut guna melakukan budi daya mutiara dan lobster.

Sebelumnya, Pusat Penelitian Osenografi (PPO) LIPI sudah diminta untuk melatih tenaga kelautan Singapura di negerinya. Tetapi, Kepala PPO- LIPI Dirhamsyah menundanya dan menunggu kesiapan BBIL untuk ditempati sebagai pusat pelatihan tersebut. ‘’Saya meminta mereka yang datang ke sini. Mimpi saya, BBIL ini sebagai laboratorium internasional,’’ katanya, Kamis 4 Agustus 2016 sore.

Sebagai pusat penelitian internasional, LIPI akan melakukan kordinasi dengan Kementerian Luar Negeri agar didaftarkan. Saat ini ada 24 negara di tepian samudra yang bisa memanfaatkannya. ‘’Di sini lokasinya strategis,’’ ujarnya.

Selama ini, menurut Dirhamsyah, hanya melakukan penelitian. Setelah diresmikannya BBIL, maka akan diberdayakan untuk membantu keperluan masyarakat. BBIL sudah mampu melakukan pembenihan Teripang Pasir (Holothuria scabra), pembesaran Lobster Pasir (Panulirus bomarus) budi daya Kerang Mutiara (Pinctada maxima), budi daya Abalon, budi daya siput Mata Bulan (Turbo chrysostomus),

Sebelumnya, Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain meresmikan BBIL yang berada di Teluk Kodek Desa Malaka Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara setelah sebelumnya statusnya Loka Pengembangan Bio Industri Laut selama 2002-2016. Sebelum itu, 1997 didirikan sebagai stasiun penelitian laut.

Iskandar Zulkarnain pun mengatakan ingin mengembalikan budaya maritim dan menjalankan program yang sistematis untuk menyelematkan species-species di sini. ‘’BBIL yang menguasai teknologinya ingin berperan,’’ ucapnya. Ia ingin menjadikan konsep konservasi tidak hanya mnyelematkan tetapi juga memberikan manfaatnya. ‘’Harus ada keseimbangan tidak hanya perlindungan tetapi juga manfaat yang bisa diperoleh masyarakat,’’ katanya kemudian.

Di lahan seluas tujuh hektar, BBIL memiliki laboratorium : pembenihan, analisa, mikro biologi, genetika dan nutrisi. ‘’Ada fasilitas produksi benih di laut,’’ ujar Kepala BBIL Hendra Munandar.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here