MATARAM – Pemerintah Indonesia tidak tegas terhadap divestasi saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT). Sudah lima tahun ini sisa tujuh persen saham PT NNT yang semestinya dialihkan ke pihak nasional belum ditetapkan. Pemerintah daerah (pemda) merasa dirugikan ketidak pastian kepemilikan saham tersebut.

Direktur PT Daerah Maju Bersaing (DMB) Andy Hadianto mengemukakannya di dalam diskusi public Mengoptimalkan Manfaat Pertambangan Untuk Masyarakat di Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu 29 April 2015. ‘’Ini bentuk ketidak tegasan pemerintah. Ambil tidak, ambil tidak,’’ katanya.

Menurutnya, belum dibayarnya sisa tujuh persen yang sebenarnya ingin dimiliki pemda sebagaimana memperoleh 24 persen sebelumnya, menjadikan tidak dapat memperoleh apa-apa. ‘’Kehormatan kita di situ walaupun tidak punya uang,’’ ujarnya.

Selama ini, pemerintah Indonesia melalui Pusat Investasi Pemerintah (PIP) menyatakan ingin membayar sendiri tujuh persen saham yang terakhir hendak didivestasikan pemerintah. Namun sampai sekarang belum mengambil keputusan.

Semestinya pada tahun 2010 lalu, kepemilikan saham PT NNT sebesar 51 persen adalah dikuasai nasional dan sesuai ketentuan kepemilikan pengusaha asing tersisa 49 persen. Sebelumnya, PT DMB melalui PT Multi Daerah Bersaing (MDB) yang merupakan usaha patungan DMB – milik pemda NTB, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, Pemerintah Kabupaten Sumbawa – dengan PT Multi Capital (MC – Bakri Group), 16 November 2009, MDB menyelesaikan pembelian 10 persen saham divestasi PT NNT tahun 2006 dan 2007 seharga US $ 391,000,000. Kemudian, 11 Desember 2009, MDB telah menyelesaikan pembelian 7 persen saham divestasi NNT tahun 2008 seharga US $ 246,806,500, 15 Maret 2010, MDB telah menyelesaikan pembelian 7 persen saham divestasi NNT tahun 2009 seharga US$ US$ 246,806,500. Untuk sisa saham terakhir tujuh persen saham senilai US $ 271,6 juta yang harus didivestasikan, DMB juga menyatakan kesediaaan untuk membayarnya.

Investasi PT MDB pada PT NNT sebesar 24 persen senilai Rp. 9,753 triliun tersebut telah memberikan nilai kepemilikan saham sebesar 20.6 persen atau Rp 2.010 triliun.

Manfaat dari kepemilikan saham tersebut dikatakan Andy, menghasilkan US $ 38,3 juta yang diterima untuk pembangunan di daerah. ‘’Selain itu juga berhak menempatkan dua orang komisaris,’’ ucapnya. PT DMB juga telah menerima US $ 31,5 juta dari PT MDB dan US $ 4 juta dari PT MC. Ini adalah bagian dari hak yang diperoleh dari devident yang seharusnya diterima US $ 38,3 juta dan US $ 12 juta jika PT NNT tidak memberikan devident.

Selama ini, keberadaan PT NNT telah memberikan sumbangsih dana pengembangan masyarakat atau corporate social responsibility (CSR) sebesar Rp 15,65 miliar yang terinci Tahun 2012 Rp 1,734 miliar, Tahun 2012 Rp 10,957 miliar dan Tahun 2013 Rp 2,958 miliar.

Pada kesempatan berbicara tersebut, Andy juga mempertanyakan para pemilik saham asing yaitu Newmont Indonesia Limited (USA), Nusa Tenggara Mining Corp BV (Japan) yang hingga sekarang masih memegang 56 persen saham PT NNT bersama PT Pukuafu Indah milik keluarga Yusuf Merukh (20 persen) dan PT Indonesia Masbaga Invetama (2,2 persen) yang tidak pernah mengucurkan dananya untuk CSR. ‘’Saya belum melihat kontribusi mereka walaupun secara perusahaan NNT menyalurkan CSR,’’ kata Andy.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here