MATARAM – Pojok halaman itu ditempati barang bekas. Ada galon air, juga ada tumpukan plastik yang tergolong sampah. Semuanya itu berada di halaman belakang kantor Bank Lakmus yang dikelola Lembaga Aliansi Kesehatan Sumbawa Barat (Lakmus) di kota Kecamatan Maluk.

Bank Lakmus yang berada di Dusun Maluk Lokok ini memang menerima sampah yang berupa barang bekas dari warga di sana. ”Sehari ada 20 kilogram rata-rata disetor ke sini,” kata Rosmawati, seorang staf administrasi Bank Lakmus.

Nasabahnya yang datang membawa barang bekas mulai dari anak-anak sampai kakek-nenek. Mereka memiliki tabungan mulai dari Rp 100 ribu sampai dengan Rp 1,1 juta per orangnya. Di sana ada 439 orang nasabah di tiga Kecamatan Maluk, Sekongkang dan Jereweh sejak dibukanya bank sampah tersebut. Jumlahnya mencapai Rp 25an juta.

Adapun barang bekasnya tersebut dijual ke pengumpulnya di Lombok. Setiap bulan rata-rata satu truck Fuso. Bank Lakmus yang juga melayani pembayaran listrik dan menjual pulsa seharga pas bandrol memiliki 12 orang pegawai.

Di desa lain, untuk keperluan penyediaan instalasi pengolahan air di Desa Kemuning Kecamatan Sekongkang. Juga ada air bersih untuk minum yang menggunakan dana Comdev PT NNT. Supervisor Infrastruktur Ifnanul Ma’wa menjelaskan, sewaktu di Dusun Sejorong Desa Tongo. Di sana ada dua instalasi penyulingan air minum yang ditangani Badan Usaha. Milik Desa.

Salah seorang tokoh masyarakat di desa tersebut, Haji Darmansyah, 52 tahun, mengatakan penyediaa air bersih layak minum tersebut dikelola oleh badan usaha milik desa (BUMDes). Kalau untuk penduduk setempat, per galon dihargai seribu rupiah. Sedangkan penduduk luar Desa Tongo dihargai dua ribu rupiah. ‘’Sehari penduduk memerlukan 60 galon,’’ kata Darmansyah.

Eks Kepala Desa Ai Kangkung Mustamir, 60 tahun, seorang transmsigran SP1 di Dusun Ai Betak bersama 200 kepala keluarga menerima subsidi bantuan pemasangan instalasi listrik dari PT Newmont Nusa Tenggara. Jarak dusunnya ke kota kecamatan sejauh 18 kilometer.

Kalau selama ini setiap rumah tangga harus menyediakan bahan bakar minyak untuk menghidupkan genset senilai Rp 1,8 juta sebulan, maka sekarang ini, terhitung Agustus 2014 lalu hanya membayar biaya pemakaian sekitar Rp 300 ribu sebulan. ‘’Dulu terpaksa menggunakan genset dari pada gelap,’’ ujarnya.

Di tempat lain, ada lahan penuh tanaman buah itu letaknya di Dusun Tatar Desa Benete Kecamatan Maluk di Kabupaten Sumbawa Barat. Di sana ada beberapa tanaman buah mulai dari tanama buah naga, jambu batu, markisa, belimbing, kelengkeng, jeruk, sirsak. Di samping utara ada lahan untuk pembibitan. Juga ada lahan untuk tanaman semusim seperti padi dan hortikultura. Dan, sebuah kandang yang berisi delapan ekor sapi selain sebuah rumah untuk pertemuan.

Itulah Comdev Center sebagai pusat kegiatan pemberdayaan masyarakat yang menempati lahan sewaaan seluas 1,7 hektar. Dilengkapi Aula Tani terbuka berbentuk segi delapan yang mampu menampung sekitar 50an orang. Comdev Center ini tujuannya untuk tempat belajar masyarakat mengenal tanaman buah dan tanaman keras. Juga pemanfaatan limbah peternakan hasilkan bio gas dan bahkan disiapkan pusat pembelajaran teknologi informasi (IT).

Sejak dibukanya Comdev Center ini akhir 2010, setahunnya mampu menghasilkan 70 ribu bibit. 63.236 batang bibit sudah disalurkan terbanyak pohon jati. Menurut Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian dan Pesisir (LP3) Lalu Tuhir yang menangani pembibitan dan laboratorium lapang pertanian (demplot), ‘’Sebagian besar tanaman kayu dan selebihnya tanaman buah,’’ kata Tuhir.

Lahan Comdev Center tersebut disewa dari penduduk setempat. Satu hektar untuk pembibitan, 70 are untuk praktek petani lapangan. Tahun ini ada dua hektar lahan masyarakat untuk kebun tanaman buah dan tanaman keras. Rencananya dibuka selama 30 tahun. Pembiayaannya Rp 300 juta untuk pembibitan dan Rp 100 juta untuk Laboratorium Lapang Pertanian untuk kepentingan praktek tanaman padi dan sayuran.

LP3 adalah salah satu dari beberapa lembaga mitra kerja NNT yang menggarap tambang Batu Hijau di Kabupaten Sumbawa. Program pemberdayaan masyarakat ini untuk meningkatkan kualitas dan pengembangan sumber daya manusia. ‘’Ini bentuk tanggung jawab sosial perusahaan,’’ ujarnya.

Di bagian utara Comdev Center tersebut terdapat sebuah kandang berisi delapan ekor sapi dan rumah kompos yang mampu menghasilkan setahunnya selama 2012 sebanyak 214 ton kompos. Tahun 2013 lalu hingga 200 ton. Ini ditangani oleh Kelompok Petani Pemakai Air (P3A) yang dipercaya NNT untuk menangani pembibitan ternak, bio gas dan kompos. Sekretaris P3A yang juga kordinator lapangan Sahidullah, 29 tahun, mengatakan sudah dua tahun mengolah kompos. 10 orang anggotanya bisa memperoleh penghasilan Rp 1,7 juta – Rp 2 juta sebulan. ‘’Komposnya dijual sekilo seribu rupiah,’’ kata Sahidullah.

Dijual perkilo Rp 1 ribu. Anggotanya 10 orang. 4 orang menggarap kompos, penghasilan bekerjanya Rp 1,7 juta – Rp 2 juta.

Sebagai perusahaan yang bertanggung jawab sosial kepada masyarakat, PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) mengikuti rencana pembangunan jangka menengah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Kabupaten Sumbawa Barat.

General Supervisor Social Responsibility Planing and Development PT NNT Faozan Maulad, sesuai target pencapaian program pasca tambang 2028 dan perencanaan jangka panjang 2038. ”Fokusnya kami membangun pertumbuhan agro industri dan pariwisata,” kata Faozan Maulad.

Karenya, selama 2014-2018 fokusnya adalah membantu ekonomi masyarakat. Konkritnya, mulai 2014 mengarahkan empat pelayanan akses yaitu akses listrik, akses air bersih, akses jalan, dan akses pelayanan kesehatan. ”Kami support pemerintah mendukung pengembangan agro industri dan pariwisata,” ujarnya.

Misalnya program PIJAR (sapi, jagung,rumput laut) yang ditargetkan Pemprov NTB, maka NNT mendukung program sisal untuk bahan baku karpet yang dikerjakan Pemkab Sumbawa Barat di Ai Kangkung Kecamatan Sekongkang.

Sedangkan mengenai program pariwisata, mendorong kehadiran ruang terbuka hijau (RTH) yang menjadi bagian dari pariwisata. ”Ini adalah fasilitas pasca tambang 2028,” ucapnya.

Semua kegiatan program community development yang dibangun PT NNT, jika kondisi perusahaan normal. Sebab, setelah sempat tidak beroperasi empat bulan karena kendala ketentuan pemurnian produk tambang sesuai UU Minerba Nomor 4 Tahun 2009, izin ekspor konsentrat hanya doiperoleh sampai Februari 2015.

Selama beroperasinya tambang Batu Hijau PT NNT, 2000 hingga 31 Des 2013, perusahaan tersebut merilis data resmi kontribusinya sebagai berikut. Pajak dan Non Pajak ke pemerintah daerah US $ 60,8 juta, royalti US $ 237,6 juta, pembelian barang dan jasa lokal US $ 386,9 juta, comdevv US $ 144 juta, deviden US $ 271 juta, pajak dan non pajak ke pemerintah pusat US $ 2,7 miliar, pembelian barang dan jasa nasional US $ 3,7 miliar, gaji karyawan nasional US $ $ 979 juta.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here