MATARAM – PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) baru memperoleh kepastian izin ekspor sampai Februari 2014. Setelah itu, harus memperoleh kesepakataan baru perizinan ekspornya dengan pembiayaan yang dirundingkan kembali bersama pemerintah. Kuota ekspor selama enam bulan September 2014-Februari 2015 mendatang sekitar 306 ribu ton.

Senior Manager Operation PT NNT Wudi Raharjo menjelaskan sewaktu menerima kunjungan wartawan, 12-13 November 2014. ‘’Setelah izin ekspor tersebut berakhir, harus ada kepastian pengolahan smelter di dalam negeri,’’ kata Wudi Raharjo di kantornya, Mine Maintenance Area.

Beberapa spanduk untuk memotivasi pekerja terbentang di beberapa tempat. Isinya berbunyi : ‘’Mampu Bertahan Hadapi Tantangan Bisnis Yang Sulit’’. Spanduk tersebut guna menggugah etos kerja. Wudi Raharjo menyebutkan, setelah tiga bulan tidak beroperasi, semangat pekerja cukup tinggi sehingga selama bulan Oktober 2014, produksi batuan tambang mencapai 450 ribu ton seharinya. ‘’Ini karena semangat ingin survive,’’ kata Wudi Raharjo.

Karena tidak memperoleh izin ekspor setelah pemberlakuan undang-undang Minerba Nomor : 4 Tahun 2009 yang mengharuskan dilakukan proses pemurnian di dalam negeri, selama Juni 2014 – September 2014 tidak beroperasi. Para pekerja dirumahkan dan gajinya mengalami pengurangan.

Ia menyebutkan selama bulan Oktober 2014 terjadi peningkatan produksi hingga 18 persen seharinya, menjadi 450 ribu ton batuan. Adapun biaya produksinya sehari mencapai US $ 2 juta atau kalau rata-rata kurs dolarnya Rp 12 ribu maka berarti Rp 24 miliar.

Dari perolehan perizinan ekspor baru-baru ini, PT NNT telah menyerahkan uang jaminan US $ 25 juta untuk pengembangan smelter yang akan dibangun bersama PT Freeport Indonesia. Selain itu juga membayar royalty sebesar empat persen dari harga jual tembaga atau lebih tinggi 300 persen dari sebelumnya. Sedangkan royalty emas, 3,75 persen atau lebih tinggi 175 persen dari sebelumnya. Ini belum termasuk bea keluar sebesar 7,5 persen.

Setelah Fase 6 penambangan Batu Hijau, PT NNT segera memasuki Fase 7 yang memerlukan dana sekitar US $ 1,8 – 1,9 Miliar. Untuk keperluan tersebut PT NNT memerlukan pinjaman dana baru dari bank sekitar lebih dari US $ 1 miliar. Melanjutkan operasi ke fase 7 sesuai dengan rencana kerja tambang, jika berhasil menyelesaikn operasi hingga periode mine closure (penutupan tambang), maka sekitar 8.000 karyawan dan kontraktor akan tetap dapat bekerja dan menghidupi keluarganya, kegiatan ekonomi di Kabupaten Sumbawa Barat dan Nusa Tenggara Barat akan tumbuh dengan sehat. ‘’Kegiatan CSR akan terus berlangsung,’’ ujar Wudi Raharjo.

Pada saat ini, kapasitas gudang konsentrat di PT NNT mencapai 90 ribu ton. Produksinya 800 – 1000 ton sehari. Tetapi nantinya, kalau sudah menghasilkan batuan pada fase tujuh, sekitar 2017, bisa mencapai 800 ribu ton konsentrat. Rencananya FI bersama NNT akan membangun smelter yang kapasitasnya 1,6 juta ton konsentrat. Sedangkan Smelting Gresik kapasitas produksinya 1,2 juta ton.

Manajer Eksplorasi PT NNT Anis Akbar menyebutkan produksi tambang bisa mencapai 450 ribu ton sehari. Tetapi yang dikirim ke prosesor rata-rata 100 ribu ton saja. Selebihnya ditempatkan di stockpile dan juga tanahnya dibuang sekitar 25 persen. ‘’Pada waktu fase tujuh mendatang akan memperoleh high grade,’’ ucapnya.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here