MATARAM – Kerusakan lahan kritis di daerah aliran sungai (DAS) sudah dinilai tinggi. Di pulauLombok mencapai 71,59 persen DAS dan di pulau Sumbawa mencapai 70,09 persen. Sedangkan tingkat bahaya erosi (TBE) DAS di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tergolong berat, menyebar pada 85.52 persen wilayah DAS di Lombok dan 80.99 persen wilayah DAS di Sumbawa.

Project Leader WWF Indonesia Program Nusa Tenggara Muhammad Ridha Hakim menjelaskan kondisi kritis DAS di NTB tersebut, Rabu 12 Februari 2014 malam. ‘’Ini harus diwaspadai,’’ katanya.

Ia mengatakan deforestasi dan penurunan keanekaragaman hayati, khususnya di bagian hulu DAS di Rinjani, yang diproyeksikan semakin bertambah dimasa mendatang.

Tahun 2010, kebutuhan air naik 36,7 persen dibanding tahun 1980. Kebutuhan air irigasi tahun2010 meningkat 63,5 persen dibanding pada tahun 1980. Kebutuhan 2010 untuk industri meningkat 76,1 persen dibanding pd tahun 1980.

Selama ini, jumlah DAS di NTB sebanyak 627 DAS yang terinci 145 DAS berada di pulau Lombok dan 482 DAS berada di pulau Sumbawa. 4 DAS di Provinsi NTB sebagai DAS Prioritas dari 108 DAS Prioritas di Indonesia. Di pulau Lombok terdiri dari DAS Jangkok, DAS Dodokan, DAS Palung. Sedangkan di pulau Sumbawa adalah DAS Sari.

Di pulau Lombok, ketersediaan air 3,04 miliar kubik tetapi kebutuhan airnya 3,63 miliar kubik atau indeks kebutuhan air (IKA) nya 119 persen.

Di Lombok ada hutan primer yang terus merosot di dalam kawasan Rinjani. Kalau pada tahun 1999 luasnya 125.000 hektar, tahun 2006 merosot menjadi 84.005 hektar. Selama 1999-2006 atau tujuh tahun penurunan seluas 40.004,91 hektar (32 persen) sehingga perbuahan tutupan lahan sebanyak 5.714,99 hektar (4,57 persen) per tahun. Perubahan terbesar adalah menjadi hutan lahan kering sekunder 19.702,72 hektar (15,76 persen) atau 2.814,68 ha (2,25 persen) per tahun.

Degradasi ini mengakibatkan kehilangan manfaat sumber daya hutan dari semula hutan primer menjadi hutan sekunder yang US $ 104 per hektar sebesar US $ 4.160.511 atau jika kurs Rp 12.200 per dolarnya berarti kehilangan Rp 50,758 miliar.

Khusus di Rinjani, Taman Nasional Gunung Rinjani, terdiri dari hutan hujan tropis dataran rendah (semi evergreen) dan hutan hujan tropis pegunungan (1500 – 3000 m dpl) yang masih berbentuk hutan primer. Sedangkan hutan sekunder yang dijumpai adalah hutan cemara, padang rumput, semak belukar dan hutan di sepanjang aliran sungai.

Keanekaragaman kawasan ini, dicerminkan dengan berbagai jenis-jenis vegetasi yang tumbuh pada hutan tropis di kompleks hutan gunung Rinjani antara lain : Bajur (Pterospermum javanicum), Kukun (Scheluremia ovata), Cemara Gunung (Casuarina trifolia), Garu (Dysoxylum spp), Benuang/Rajumas (Duabanga moluccana), Kemiri (Aleurites moluccana), Mahoni (Swietenia mahagoni), Beringin (Ficus superba), Suren (Toona sureni), dan beberapa jenis perdu, anggrek serta paku-pakuan.

Karakteristik flora dan fauna yang ada di kawasan Rinjani mewakili bentuk-bentuk flora-fauna Asia dan Australia, antara lain: Deer-Rusa (Cervus timorensis); Kijang (Muntiacus munjtak); Babi Hutan (Sus scrofa); Kera ekor panjang (Macaca fascicularis); Lutung (Prebytio cristata); dan beberapa jenis burung seperti: Helmeted friarbird-Koakiau (Philemon buceroides); Rainbow Lorikeet-Perkici DadaMerah (Trichoglossus haematodus) dan Scaly-crowned Honeyeater-Isap Madu Topi Sisik (Lichmera lombokia).

Selain itu beberapa jenis burung yang ada antara lain : Kakatua kecil jambul kuning, Burung Pengisap Madu Lombok (endemik Rinjani), Punglor, Kecial, dan beberapa jenis burung kecil lainnya. Beberapa satwa yang sudah dilindungi oleh undang-undang seperti rusa, kijang, landak, elang bondol, elang tikus, cekakak, raja udang, dan koakiau.(sk)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here