Lombok Sumbawa Online

Jual Link/Bandwidth IIX & Internasional Utk Seluruh Indonesia
call. 081-3535-70001 www.andira.co.id
Google
 
Thursday, 29 August 2013 • PERTANIAN

MATARAM - Kecamatan Lingsar di Kabupaten Lombok Barat dikenal sebagai kota air. Tidak heran kalau di sana banyak dilakukan budi daya ikan kolam air deras. Sekitar 20 persen petani budi daya ikan air deras di Nusa Tenggara Barat ada di kecamatan ini.

Tetapi berbeda dengan budi daya air tawar yang dilakukan oleh Mustiaji, 32 tahun, alumni Sekolah Pertanian Pembangunan Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPP-SPMA) Mataram tahun 1999 ini. Ia alumni Jurusan Budi Daya Perikanan. Sebanyak 121 petak tambak (dia menyebutnya tambak bukan kolam) ikan air tawar – di berbagai lokasi - yang dimilikinya menggunakan sistem bio plankton yang ditemukannya sendiri. ‘’Tidak perlu kawatir kurangnya suplai air seperti yang dibutuhkan sistem air deras,’’ katanya, Ahad 21 Juli 2013 pagi.

Pagi itu, ia melayani Tarmizi dari Desa Lingsar, sesama petani budi daya ikan air tawar yang membeli ikan bibitnya sebanyak 500 kilo. Dari salah satu petak tambak besarnya seluas 18 are berisi ikan bibit sebesar 3-4 jari tangan. Beberapa orang pekerjanya menjaring untuk dikumpulkan dalam gentong merah plastik yang berisi air. Harganya, Rp 16.500 perkilo. Ini adalah sebagian dari kesibukannya melayani suplai ikan produksi tambaknya yang rata-rata 1,5 ton ikan konsumsi. Omset penjualannya sehari mencapai Rp 22 juta.

Ia merintis melakukan budi daya ikan air tawar ini di lokasi yang tinggi di Dusun Keroya Desa Gontoran Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat. Menurutnya, sistem bioplankton yang dikembangkan ini merupakan kombinasi menggunakan pakan alami yang saling menguntungkan antara plankton sebagai tumbuhan air (biota air) sejenis Alga dan ikan. ‘’Saya pelajari tumbuhan air bisa menimbulkan oksigen,’’ ujarnya. Realisasi pada saat sinar matahari itu tinggi.

Karena itu, menurutnya, menggunakan sistem bio plankton menjadikan warga air tambak menjadi hijau yang disebabkan pencemaran dari kotoran ikan yang tinggi sebab tidak menggunakan sistem air deras yang terus mengalir. Di tambak ini akan banyak endapan kotoran ikan - yang juga menerima pasokan pakan pelet - tanpa ada proses penguraian seperti di air deras.

Dijelaskan, ternyata masih ada tumbuhan yang bisa menyerap yang membutuhkan untuk tumbuhnya biota air ini dengaan menggunakan pupuk kandang. Jadi kalau menggunakan pupuk kandang pada proses budi daya, tentu akan terjadi reaksi kimia. Nah di situ dipelajari reaksi kimia yang ada di dasar kolam, bagaimana cara biar saling menguntungkan antara ikan dan tumbuhan yang ada di dalam. Dipelajari selama delapan bulan, diketahui adanya kesinambungan antara air dan kotoran ikan yang akan membantu pertumbuhan dari pada plankton yang memerlukan oksigen – dimanfaatkan ikan sebagai bahan pernafasan. Sebaliknya kotoran ikan diserap oleh plankton sebagai makanan.

Jadi pada siang hari, reaksi dari kotoran ikan diserap langsung oleh plankton sebagai makanan. Dan plankton ini akan mengeluarkan oksigen yang sangat tinggi yang akibat dipancarkan sinar matahari. Oksigen ini dimanfaatkan ikan sebagai bahan pernafasan ikan yang melakukan metabolisme pakan pada siang hari.

Untungnya sistem plankton ini tidak memerlukan air besar. Artinya kalau puluhan tahun tidak ada sumber aliran air yang besar, masih bisa membudi dayakan ikan. Karena hanya sekedar menambah air pada malam hari sebagai pengganti yang menguap di siang hari. ‘’Juga tidak memerlukan perlakuan khusus yang rumit. Sangat sederhana untuk menyiptakan plankton,’’ katanya.

Menurut Mustiaji, sewaktu mengawali rintisan bioplankton – budi daya air tergenang - ini, warga yang melihat menertawakannya. Karena mereka menganggap ikan hanya bisa hidup di air deras. ‘’Jadi menurut saya, air deras itu juga bukan berarti sehat untuk ikan,’’ ujarnya. Pernah tiadanya air karena adanya perbaikan saluran air hingga tiga bulan terbukti tidak masalah. Masih bisa proses budi daya.

Kalau sistem air deras, sistem pemasukan air masuk besar diameter tujuh kubik per detik harus rutin. Kalau berkurang, nafsu makan akan turun dan mengambang untuk mendapatkan oksigen. Pengeluaran juga harus seimbang untuk air deras. Kalau air tambak, airnya tidak tertampung karena luasnya itu tidak mampu menyuplai oksigen. Kalau 3-4 inch pipa yang digunakan, siang hari tidak masukkan air hanya malam saja.

Dirincikan, misalnya sistem pemenuhan air deras dari saluran dengan posisi besar tujuh meter kubik berlaku rutin dan harus seimbang dengan yang dikeluarkan. Jika menurun akan menyebabkan nafsu makan berkurang kadang kala mengambang karena kekurangan oksigen. Beda dengan budi daya bio plankton yang tidak memerlukan air berlebihan. Hanya mengganti air yang menguap - sebagai proses metabolisme sinar matahari - di siang hari untuk menjaga kestabilan suhu air.

Mengawali usaha budi dayanya, Mustiaji mengaku tidak memiliki lahan yang cukup untuk budi daya air deras. Semula ia hendak menaikkan air dari sungai di bawah kedalaman sekitar empat meter di depan rumahnya. Namun, baru setengah meter membuat tanggul mengalami jebol akibat diterjang banjir. Sistem bioplankton mulai dilakukan tahun 2007 setelah sebelumnya sempat menjadi pemetik buah mangga di daerah sekitar Lombok hingga Bima - yang dibeli pengusaha dari Jawa.

Sewaktu sekolah, Mustiaji – anak kelima dari Jumilah, 67 tahun, seorang perintis perikanan di Lingsar, sewaktu di SPP-SPMA Mataram sudah melakukan rintisan program perikanan swakarya wira usaha yang menggunakan modal pinjaman dari sekolah sebesar Rp 400 ribu untuk kelompoknya sesama siswa sebanyak 10 orang.

Untuk melakukan sistem bio plankton ini, ia semula melakukan pengeringan tanah dasar. Pemupukan dan pengapuran. Setelah itu mengairinya hingga 20 senti hingga delapan hari. Kalau airnya sudah tampak berwarna hijau, ikan bisa ditebarkan. Tinggi kedalaman tambak 70 senti tetapi kemudian diisi air hingga 60 senti.

Mustiaji yang dibantu puluhan orang pekerja harian dan juga berdasar komisi tidak dapat menjelaskan bagaimana bentuk plankton karena memerlukan mikroskop. Tercipta dari Alga yaitu sejenis tumbuhan air yang dapat mengeluarkan oksigen. Jadi, ia juga belum dapat menyebutkan keseimbangan antara ikan dan plankton karena memiliki alat pengukur ukuran kebutuhan oksigen per ekor ikan nya. Sekedar hitungan kasarnya, sekitar 10 liter plankton yang cair itu bisa suplai tiga ekor ikan.

Disebutkannya, untuk tambak seluas 10 are atau 1.000 meter persegi ia bisa menebarkan ikan sebanyak 10 ekor per meter persegi. Dipelihara selama empat bulan lantas dipanen menghasilkan sekitar 10 ribu ekor atau bisa sebanyak 3,5 ton. Harga ikan untuk konsumsi perkilonya dijual Rp 20 ribu.

Untuk perbandingan kwalitasnya, penyusutan berat ikan bioplankton ini kurang dari satu persen jika diangkut dalam keadaan hidup hingga sejauh 100 kilometer – jarak tempuh konsumennya di Kabupaten Lombok Utara. Jika dibandingkan dengan ketahanan ikan air kilogram berkurang hanya kurang dari satu kilogram jika dibandingkan ikan air deras berkurang hingga tujuh kilogram.

Dari segi rasa, menurut Mustiaji yang menggunakan modal pinjaman bank Rp 1,3 miliar tersebut – bapak dari seorang anak laki-laki yang baru masuk SD ini, dagingnya lebih padat karena ikan makan tidak sambil bergerak. Daya pertumbuhannya tidak dipres dan kandungan lemaknya rendah. Beda dengan ikan air deras, badannya kempes mengecil dan selama dua hari mengalami penyusutan hingga 15 persen. Karena tidak makan dan lemaknya mencair. Ikan deras penjualannya harus langsung habis. Sedangkan ikan tambak (sebutan ikan bioplankton) hanya mengalami penyusutan satu persen saja. Jika digoreng, ikan deras tidak meresap hingga kedalam tidak seperti ikan tambak matang hingga kedalam sehingga tulangnya bisa hancur dan dagingnya melekat.

Ia yang telah mendirikan rumah dua lantai ukuran 10 meter kali delapan meter di pinggir tambaknya, memiliki 12 agen pengumpul penjualan ikan yang tersebar di Kabupaten Lombok Utara, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur hingga Kabupaten Sumbawa Barat perharinya minimal mendapatkan penjualan Rp 22 juta. Untuk keperluan kirim bibit, ia memiliki gudang pakan berukuran empat kali enam meter dan tempat hatcherry ukuran delapan kali sembilan meter dan juga adanya gudang packing oksigen keperluan kirim bibit.

Ketua Kelompok Unit Perbenihan Rakyat Tunas Karya Muhamad Azizi Sahroni memuji ide Mustiaji sejak 2007 tersebut. ‘’Bersyukur banyak teman-teman memperoleh pekerjaan baru,’’ ujarnya. Dihitungnya, sekitar 70 persen lahan sawah sekarang dibikin kolam ikan.

Kepala Dusun Keroya Desa Gontoran Haji Lalu Najamudin, 44 tahun, mengakui bahwa rintisan bioplankton ini menjadi tertawaan petani budi daya air deras yang lebih awal berusaha. ‘’Mereka tidak percaya kalau bisa hidup,’’ ucap bapak dari dua orang anak yang sudah kuliah di jurusan Agro Bisnis Fakultas Pertanian Universitas Mataram.

Ia menjelaskan bahwa banyak warga yang mengikuti jejak Mustiaji. Ia sendiri melakukan budi daya seluas satu hektar. ‘’Resiko kematian ikan tambak ini kecil. Walaupun air sedikit tapi banyak plankton’’ ujarnya yang menyebut rasa ikannya lebih gurih kenyal dagingnya.

Ia memiliki 16 petak tambak ikan yang setiap panen tiga bulan sekali mendapatkan hasil lima ton. Menurutnya, lebih baik usaha budi daya ikan bioplankton dari pada menanam padi yang hanya memperoleh pendapatan tujuh ton perhektar atau senilai Rp 28 juta. Beda dengan hasil penjualan ikan karper dan nila yang dipeliharanya minimal empat ton perbulan harganya hingga Rp 88 juta – termasuk biaya produksinya hingga 70 persen.

Masalah pemasaran, namanya orang berusaha ada pasang surutnya. Tetapi sekarang ini bulan puasa seperti sekarang ini, diakuinya mengalami kekurangan persediaan. Karena itu tidak heran kalau ada 15 orang warganya yang beralih dari tanam padi melakukan budi daya ikan bioplankton. Mereka memiliki lahan mulai dari 10 are, 20 are hingga 50 are. ‘’Di sini tidak ada masalah dengan air,’’ katanya. Biaya buat tambak pun tidak mahal sekitar Rp 5 juta per 10 are.

Seorang pedagang pengumpul wilayah Kabupaten Lombok Utara (KLU) Murhendi Suryanto, 38 tahun, yang juga seorang anggota polisi berpangkat Ajun Inspektur Dua, mengaku baru enam bulan menjalankan usaha ikan air tawar bioplankton ini. ‘’Rasanya enak. Walaupun mati dalam perjalanan, tidak cepat rusak,’’ kata Murhendi yang setiap hari menerima suplai hingga 1,5 ton. Ia juga menyebut rasa ikan tidak terasa tanah. Ia menyuplai kebutuhan belasan bakulan di beberapa kecamatan mulai dari Pemenang untuk kebutuhan restoran kawasa wisata Gili Indah, Tanjung, Gangga, hingga akar-Akar Bayan semuanya di KLU. Ia menjual ikan bioplankton ini perkilo Rp 25 ribu.(sk)

No Comments »

No comments yet.

Leave a comment








Recent Comments
» SENIMAN TUA AMAQ RAYA YANG BUTUH BANTUAN HIDUP
07/28/2014 10:18 am | 4 Comments
» Bandara Internasional Lombok Rawan Pencurian
07/16/2014 11:43 am | 1 Comment
» Pungutan Tunjangan Sertifikasi Guru Di Lombok Timur Dan Mataram
07/15/2014 05:30 am | 3 Comments
» PEMKAB LOMBOK BARAT IZINKAN TAMBANG EMAS DI SEKOTONG
06/29/2014 11:36 am | 34 Comments
» Mengenal CC Forwani Di Desa Dangiang
06/23/2014 01:21 pm | 1 Comment
Lomboknews.com - 2012 - Media Lombok - Developed by andiraweb.com