Lombok Sumbawa Online

Jual Link/Bandwidth IIX & Internasional Utk Seluruh Indonesia
call. 081-3535-70001 www.andira.co.id
Google
 
Friday, 6 January 2012 • EKONOMI

MATARAM – Sudah pernah mencicipi dodol lidah buaya atau minuman lidah buaya, makanan ringan stick jamur atau memakan nasi beras merah ? Ini adalah produk lokal dari Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) sejak beberapa tahun terakhir ini.

Dodol dan minuman lidah buaya dihasilkan dari tanaman Lidah Buaya yang berasal dari lahan seluas 1,5 hektar di Desa Kemuning Kecamatan Sekongkang. Tanaman lidah buaya ini dikembangkan oleh Yayasan Pengembangan Ekonomi Sumbawa Barat (YPESB) – sebuah lembanga bentukan PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) sebagai bagian dari Community Development (comdev-program pengembangan masyarakat).

Setiap harinya, di lokasinya kompleks pasar Kemuning, ada lima wajan dodol lidah buaya yang dihasilkan oleh belasan pekerja YPESB. Setiap wajannya menggunakan bahan baku 30 kilogram lidah buaya – setiap pelepah setara satu kilogram. Dodol yang dihasilkan bisa mencapai jadi 120 bungkus yang berisi 11 biji. Perbungkus mika harganya Rp4 ribu.

Adapun minuman lidah buaya, sekali produksi setiap dua minggu, menggunakan bahan baku 350 kilogram lidah buaya. Hasilnya berupa 400 botol per 100 kilo. ‘’Omsetnya per bulan Rp40 juta,’’ kata Kordinator Program YPESB Rasul. Cara membuat minumannya pelepah lidah buaya dipotong dan direndam air selama dua hari dua malam. Setelah itu dicuci lagi dan direbus.

Lidah buaya adalah melancarkan perencanaan atau pencahar agar lancar buang air. Sebelumnya menggunakan rasa anggur, strawberry. Tetapi karena pewarnanya pudar jadi putih. Kini menggunakan perasa leci. Sekali minum sebotol harganya Rp4 ribu dan yang berupa kotak, Rp5 ribu.

Untuk produksi jamur, YPESB membangun dua lokal budi daya jamur merang yang berukuran empat meter kali enam meter. Di dalamnya terdiri dari 10 rak. Setiap siklus menghasilkan 240 kilogram jamur. Jika dijual ke pasar Maluk dalam bentuk belum diolah harga jamur Rp30 ribu per kilo. Kebutuhan pasar besar di kota Taliwang mencapai 90 kilogram dan di Maluk 65 kilogram per hari. ‘’Jadi ini cukup besar. Bukan semata usaha sampingan,’’ kata Rasul. Untuk menghasilkan jamur ini, YPESB mendatangkan tenaga ahlinya dari Subang.

Adapun produksi beras merah adalah bagian dari meningkatkan hasil pertanian warga di Desa Aik Kangkung. Produknya dikemas setengah kilo dan satu kilo yang penjualannya dilakukan melalui toko swalayan dan super market di Mataram. Kini masih taraf rintisan penanaman padi beras merah hingga 10 hektar. Untuk kepentingan pengembangan penanaman beras merah tersebut,YPESB menempatkan Ahmad Zubair, seorang penyuluh pertanian lapangan dari lembaga swadaya masyarakat Gerbang Tani Jawa Tengah di Batang. ‘’Khasiatnya beras merah itu untuk kesehatan,’’ ucap Zubair.

Misalnya, produksi padi merah di Jawa disuplai untuk kebutuhan tepung bayi SUN. Selama ini beras merah juga menjadi alternatif seseorang yang ingin menjalani diet, menderita diabetes, kolesterol. Sebab, jika beras putih misalnya varietas IR 64 dan Ciherang itu memilki kandungan glukosa lebih tinggi sehingga tidak cocok untuk orang yang terkena diabetes. ‘’Kalau beras merah aman untuk diabetes,’’ kata Zubair.

Kesemua usaha makanan dan minuman tersebut sebagai bagian dari upaya mengembangkan ekonomi masyarakat sekitar lingkar tambang PT Newmont Nusa Tenggara yang beroperasi di Kecamatan Jereweh Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) sejak tahun 2000.

Memang, sejak mulai adanya penambangan Batu Hijau, geliat perekonomian di daerah Maluk – sebagai wilayah terdekat kegiatan tambang, meningkat. Kunjungan untuk berbisnis menjadikan Maluk sebagai pusat kesibukan baru di KSB selain kota Taliwang - ibukota kabupaten. Nah, peningkatan kesibukan tambang ini memunculkan obyek wisata lokal dan juga produksi makanan oleh-oleh di sana.

Ini muncul setelah YPESB, membangkitkan home industri, pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir, pengembangan lembaga ekonomi desa dan pengembangan potensi wisata.

Untuk kepentingan tadi, menurut Manajer YPESB Indrayudi, setahun terakhir mengelola pembiayaan dari perusahaan tambang itu hingga Rp5 miliar. Untuk operasional lembaga hanya 25 persen, selebihnya berupa kegiatan program masyarakat. ‘’Ya itu tadi, diantaranya untuk mengembangkan makanan lokal sebagai usaha baru,’’ ujarnya.(*)

No Comments »

No comments yet.

Leave a comment








Recent Comments
» 311.394 PELANGGAN LISTRIK TIDAK TERKENA KENAIKAN TDL
10/29/2014 12:27 am | 1 Comment
» NTB Siap Menjadi Destinasi Syariah
10/28/2014 10:29 pm | 1 Comment
» DPRD NTB SUDAH TETAPKAN PERSETUJUAN PROVINSI PULAU SUMBAWA
10/24/2014 06:42 am | 3 Comments
» Jet Star Tutup Rute Perth - Lombok, BPPD Rintis Bandung - Lombok
10/02/2014 08:17 am | 4 Comments
» POTENG JAJE TUJAK SEBAGAI MAKANAN KHAS WARGA SASAK DI LOMBOK
09/21/2014 06:15 pm | 2 Comments
Lomboknews.com - 2012 - Media Lombok - Developed by andiraweb.com