MATARAM – Tepat pukul 10.08 waktu setempat, pesawat Garuda mendarat di Bandar Udara Internasional Lombok (BIL) di Desa Tanak Awu Kabupaten Lombok Tengah, Sabtu (1/10-2011). Penerbangan GA 432 dari Jakarta membawa rombongan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Majdi bersama Dirketur Jenderal Perhubungan Udara Herry Bhakti dan tokoh masyarakat serta warga lingkar BIL yang sengaja diikutkan.
Ini adalah waktu yang ditunggu-tunggu untuk kepentingan kemajuan daerah NTB. BIL yang ground breakingnya dilakukan Menteri Perhubungan (waktu itu) Hatta Radjasa, 30 Nopember 2005, menghabiskan baya Rp945 miliar. PT (Persero) Angkasa Pura I menanggung biaya Rp785 miliar, Pemerintah Provinsi NTB Rp110 miliar untuk kepentingan taxiway, apron dan fasilitas penunjangnya. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah mengeluarkan dana Rp40 miliar untuk areal parkir, jalan lingkungaan dan fasilitas penunjangnya.
Semula panjang landas pacunya 2.500 meter dan luas terminal 12 ribu meter persegi untuk kapasitas tampung 1,5 juta penumpang setahunnya. Kemudian ditingkatkan panjang landasannya menjadi 2.750 meter dan luas terminal menjadi 21 ribu meter persegi sehingga kapasitas terminalnya menjadi 3,5 juta penumpang setahun. Bahkan rencananya diperpanjang lagi runwaynya sepanjang 500 meter menjadi 3.250 meter.
Sewaktu menyambut penerbangan Garuda yang memulai beroperasinya BIL tersebut, Bupati Lombok Tengah Suhaili Fadil Thohir menyampaikan rasa syukur yang mendalam begitu pesawat mendarat. ‘’Obsesi masyarakat Loteng sejak nenek moyang, terwujudnya bandara sejak lama,’’ katanya.
Terbukti, menurut Suhaili, di beberapa tempat di wilayah bandar udara ini namanya sesuai dan ada relevansinya. Pertama di gerbang masuk semula dikenal namanya sebagai Inen Atur (tempat orang mulai masuk bandara), Inen Atung ( mengantar sampai batas), Inen Surat (lokasi check ini) di dalam gedung ini. Di landasan disebut sebagai Inen Kapal (tempat mendarat), juga Inen Dongak Langit (melihat kapal) sebelah barat. ‘’Leluhur kami mengatakan dari dulu,’’ ujarnya.
Seperti dikatakan oleh leluhurnya, pada saat sudah dibukanya lendang galuh (lahan luas) nanti akan banyak hinggap Kedie Bantong (burung-mungkin yang dimaksud pesawat) dan pada saat nanti akan banyak datang dari luar kerbau bodak (kerbau warna merah-mungkin yang dimaksud adalah turis asing). Ia kemudian mengutip pesan orang tua zaman dahulu kalau : ‘’Anak jariku selapukne, mung periri jat atur bale langgak gubuk tepeng,’’ ucapnya yang artinya kurang lebih adalah mengaatur diri mempersiapkan diri untuk mendapatkan manfaat. Ini mungkin petuah singkat leluhur di Lombok Tengah.
Suhaili pun mengatakan tidak bisa hanya mengucapkan rasa syukurnya. Tetapi juga berjanji untuk bertanggung jawab. ‘’Jangan ada keraguan keamanan sedikit pun. Saya sangat sedih ada maskapai yang takut. Mohon maaf jangan diragukan komitmen kami,’’ katanya kemudian.
Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi pun mengutarakan rasa syukurnya. Terwujudnya pengoperasian BIL merupakan hasil ikhtiar semuanya, termasuk para mantan pejabat lama di NTB maupun Lombok Tengah. ‘’Alhamdulillah. Ini menunjukkan kita semua berjuang keras. Maka Insya Allah tidak mustahil dan berat,’’ ujarnya. Yang paling penting rakyat NTB memiliki keinginan keras untuk bisa maju.
NTB bersama Bali dan Nusa Tenggara timur merupakan koridor V yang dihajatkan sebagai sebagai salah pintu gerbang pariwisata nasional. ‘’Bandara baru ini akan berjalan dengan baik sampai peresmian,’’ ucapnya.(*)

