MATARAM - Desa Pringgasela berjarak sekitar 10 kilometer utara dari kota Selong – ibukota Kabupaten Lombok Timur. Di desa itu, hampir seluruh warganya bisa menenun kain tradisional gedogan. Ini turun temurun sejak nenek moyangnya. Para peminat kain tradisional cukup mengenal produksi tenunan gedogan Pringgasela. Terutama produksi dari seorang warga di sana, Muhammad Maliki, 30 tahun – lahir 2 Desember 1981, yang tinggal di Gang Sundawa Jalan Veteran yang memiliki 45 orang pengrajin binaannya. Walaupun di desa itu ada 4-5 artshop milik penduduk yang lain.
Seorang wartawan RRI Mataram Nasrudin Zein yang terlibat dalam penjurian Pemuda Pelopor Nusa Tenggara Barat (NTB) menyebutkan Maliki layak masuk dalam nominasi sebagai calon penerima penghargaan di bidang kewirausahaan. Ia menyebutkan Maliki bisa merangkul pengrajin di kampungnya dari semula menganggur menjadi produktif. Dia diketahui menghasilkan alat yang membantu memudahkan pengrajin bekerja, membantu modalnya. ‘’Ia dinominasikan sebagai juara wira usaha,’’ katanya.
Ada lima kriteria penghargaan Pemuda Pelopor yaitu : pendidikan, wira usaha, kelautan dan perikanan, seni budaya dan pariwisata, tepat guna.
Kepala Seksi Pemuda Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Asnirawati mengatakan Maliki masuk dalam nominasi Pemuda Pelopor NTB 2011. ‘’Penghargaan ini diberikan untuk memberikan penghargaan pemuda yang bermartabat,’’ ujarnya, Minggu (28/8-2011) sore.
Pengakuan penghargaan diperkuat atas prestasi yang dilatar belakangi syarat-syarat mampu dibidang masing-masing kegiatan nyatanya paling tidak selama dua tahun. Menghimpun orang putus sekolah dan sentra kepemudaan di sana. Tapi yang terpenting apa yang dinilai kebudayaan dan pariwisata atau kewirausahaan. ‘’Kayaknya lebih kepada kewirausahaan,’’ ucapnya Asnirawati. Namun, yang pasti Pemerintah Kabupaten Lombok Timur sudah menjadikannya sebagai peraih pertama tingkat kabupaten yang diberikan hadiah Rp1 juta sehingga dicalonkan untuk Pemuda Pelopor NTB.
Epoel Daeng Hasanung, 45 tahun, pemilik Rumah Gaya Epoel mengaku sering membuat design dalam bentuk busana untuk ibu-ibu di Mataram. Produksi tenunan gedogan dari Maliki sering ditampilkan diantaranya sewaktu tampil di Jepang. Dia, satu-satunya pengrajin dari Pringgasela yang menjaga kwalitas. ‘’Bahan pilihan tidak luntur. Layak memperoleh penghargaan,’’ katanya memuji. Apalagi dinilai selalu penuh dengan motivasi dan yang disukai selalu berpikiran positif dan juga setiap hasil karya selalu berkwalitas pengerjaannya. Ia juga dinilai sebagai generasi muda yang tidak banyak yang mau melestarikan yang tinggal di kampung. Selalu memberikan motivasi kepada pengrajin.
Sejak tahun 2000, Maliki yang tidak tamat SMP tetapi lulus Program Paket B, saat ini memiliki 45 orang pengrajin binaan di kampungnya. Ia putus sekolah kelas tiga (tahun 1990) karena ekonomi keluarganya sewaktu bapaknya seorang tukang cukur, Dalia meninggal dan hingga sekarang hidup bersama ibunya, Muhir. Di bawah bendera Seleman Art Shop di rumahnya di dalam kampung Adil itu, ia melayani peminat tenun gedogan (bukan ATBM). Ia sebenarnya menginginkan membuka ruang pamer yang representatif di luar rumahnya, tetapi belum mampu karena harus menyisihkan Rp50an juta untuk keperluan lahan seluas 200 meter persegi dan bangunan yang dibutuhkan. ‘’Jual kain ini kan tidak mudah laku. Bukan seperti jual sayur,’’ ucapnya.
Dia menghasilkan berbagai motif tradisional : Pucuk Rebung, Songket, Sari Menanti, Sundawa, Plekat, Ragi Bayan, Ragi Benang Lima, Ragi Kemalo, Endek atau motif Timor Timur. ‘’Semua ini andalan saya karena berkwalitas,’’ ujarnya. Sedangkan mengenai kepeduliannya terhadap para pengrajin, ia menyebutkan agar terhindar dari pinjam meminjam uang dari badan perkreditan rakyat yang bungannya cukup tinggi. Sebaliknya, ia memberikan upah menenun di depan tanpa meragukan kemampuannya.
Semua produk yang dijualnya merupakan hasil tenunan 35 orang pengrajin binaannya yang sudah dilepas karena diyakini kemampuannya. Sedangkan kelompok lainnya, anak-anak kelas 1-II SMP di kampungnya. Maliki juga menghasilkan alat ngelos (penggulung) benang yang akan ditenun pada zaman dulu disebut Kanjian yang memerlukan waktu 48 jam tetapi dengan Gantian (Jantra) bisa selesai 4-5 jam. Ia juga menghasilkan alat untuk merancang motif namanya Hane yang dalam istilah lokalnya Pesanek. Menggunakan alat lama hanya bisa untuk satu lembar kain yang panjangnya hanya empat meter lebar 60 senti menjadi panjang 7-8 meter. ‘’Dulu kalau mau buat baju gamis ibu-ibu harus membeli dua lembar kain yang bisa tidak sama persis,’’ kata Sudiami, 40 tahun, istri Camat Pringgasela Slamet Alimin sewaktu bertemu di rumah Maliki.
Slamet Alimin sendiri mengatakan warganya tersebut memberikan inovasi dan memiliki kreasi. ‘’Dari perspektif kepemudaan, ia mampu mengangkat pengangguran,’’ ucapnya. Maliki pun membentuk wadah seni remaja di sana, Cilokak Bajang Seleman.
Seorang pengrajin Robiatun, 32 tahun, yang sejak masuk SMP sudah menenun ini adalah tamatan SMA 1997, sudah bekerja untuk Maliki sejak 2007. ‘’Kalau saya tidak punya uang, bisa ambil benang dan menerima upah menenun,’’ katanya. Menurut pengakuannya, berapa upah yang diminta sesuai kemampuannya menenun diberikan oleh Maliki. Misalnya, sampai meminta upah untuk lima lembar. Selembar kain upahnya Rp50 ribu dan ongkos gulung benang Rp10 ribu. Kalau ada kreasi baru dari motif lama, Robiatun mengaku diberitahu oleh Maliki. Sedangkan pola kemitraan artshop yang lain bersifat titipan sampai laku. Jadi keseringan, di tempat lain itu, kain sudah berubah warna terlalu lama tidak laku.
Karenanya, Robiatun mengaku senang jika Maliki memperoleh penghargaan sebagai pemuda pelopor wira usaha NTB. ‘’Kami sebagai penenun juga bisa ikut terangkat terkenal. Saya bersyukur,’’ kata ibu seorang anak berusia 8 tahun yang juga masih pergi ke sawah dalam kesehariannya. Sebagaimana umumnya setiap warga melakukan pekerjaan menenun di pagi hari.
Fitriah, 40 tahun, seorang penenun di rumahnya sendiri ketika ditemui mengatakan sudah menenun saat usia 12 tahun di kelas 5 SD. Ia menenun menggunakan benang yang diberikan Maliki. Ia mengaku ngangkat (tidak punya uang) karena itu mengggunakan benang dari Maliki. Dari kain yang disetor ia mendapatkan upah Rp60 ribu.
Marodah, 27 tahun, seorang janda ibu seorang anak, penenun yang lain, di rumahnya bersama dua saudaranya juga menenun untuk Maliki. Siang itu, ia yang belajar menenun sejak usia kelas 6 SD sedang menenun motif Timor Timur yang dibuat Maliki. ‘’Saya bersyukur ada Maliki,’’ katanya. Sebab, walaupun tidak ada pesanan khusus selalu ada pekerjaan sehingga bisa memasok kain tenunannya.
–
Sehari sebelumnya, Sabtu (27/8-2011) siang, sejumlah pemuda sibuk mengerjakan topeng kayu berukuran satu meter. Ada yang mengamplas dan ada yang menggambar topeng kayu menggunakan cat. Mereka yang berasal dari Kelompok Bowun Emas (Bowun dari bahasa Sasak artinya : sumur atau bisa juga berarti mendapatkan) sedang mengejar target menyelesaikan pesanan sebanyak 200 potong topeng kayu dari CD Bethesda atau nama resminya UPKM/CD RS Bethesda di Yogyakarta. 19 September 2011 mendatang sudah harus dikirimkan untuk memenuhi keperluan ekspor. 100 potong dikirim ke Amerika Serikat dan 100 potong ke Canada.
Mereka bekerja diteras rumah Mulhan, 35 tahun, calon sarjana hukum dari program ekstension jurusan Hukum Pemerintahan Fakultas Hukum Universitas Mataram seorang bujangan yang menjadi salah satu penerima penghargaan Pemuda Pelopor dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun 2010 lalu.
Teras berukuran seluas 18 meter persegi di Rukun Tetangga 1 di Lingkungan Petemon Kelurahan Pagutan Timur tersebut semula memang tempat berkumpul anak-anak muda di sana. Ini adalah bagian dari rumah keluarga yang berada di atas lahan seluas enam ratus meter persegi milik orang tuanya, Samidah. Topeng kayu ini diberi nama seperti yang tertulis di belakangnya, Bowun Emas Lombok agar tidak diakui sebagai produk daerah lain. Sebelumnya, mereka juga sudah mengisi kebutuhan pengusaha dari daerah lain diantaranya Bali namun diklim sebagai produk Bali.
Pekerjaan membuat kerajinan topeng kayu ini bermula dari Mulhan, seorang tamatan Jurusan Pertanian Sekolah Pertanian Pembangunan-Sekolah Pertanian Menengah Atas Mataram Tahun 1994. Awalnya, Mulhan bekerja di tempat lain selama tiga tahun, hingga 1998. Namun terhenti karena adanya konflik antar kampungnya Petemon dengan kampung tetangganya di sebelah barat Kampung Karang Genteng. Terjadi saling serang menggunakan peluru, tombak, bom molotov yang tidak sedikir membawa korban jiwa. Akibatnya, berlarut-larut sehingga terjadi pengangguran karena tidak berani keluar kampung. ‘’ Aktivitas ekonomi di sini hampir mati,’’ katanya menjelaskan.
Waktu itu, bekerja di tempat usaha kerajinan di desa tetangga, Labuapi. Di sana, para pekerjanya mendapatkan upah untuk memahat patung ukuran setengah meter perbijinya Rp2.500 dan sehari bisa menyelesaikan lima biji. Kalau menggambarnya tergantung besar kecilnya ongkosnya Rp1.500, Rp2.000 dan Rp3.000. Bahkan yang besar Rp4.000. bandingkan dengan sekarang ongkosnya Rp7.500 per biji.
Kampung ini penduduknya sehari-hari bekerja sebagai petani, buruh dan pedagang tahu-tempe. Nah, setelah memasuki 2001-2002 yang situasi pertikaian antar kampungnya mereda, mulai bangkit menghimpun anak-anak muda di kampungnya yang menganggur. Mulhan bekerja sama dengan pengusaha di Bali menyuplai produk kerajinan kotak antik (kotak tempat penyimpanan barang warga Sasak Lombok zaman dulu), stick hunger (gantungan baju) dan alat musik bambu seker. Atau bentuk pesanan lainnya yang dihasilkan rekanannya. Sebab, Mulhan bersama kelompoknya juga memasarkan produk lain. Tetapi tidak berlangsung lama karena mitra usahanya di Bali ada yang kabur tidak membayar kewajibannya.
Adapun suplai untuk CD Bethesda Yogyakarta sejak tahun 2005 ini, dilakukan sekitar 2-3 bulan sekali. Topeng kayunya berukuran satu meter dihargai Rp110 ribu per biji oleh CD Bethesda. Dari pesanan 200 biji yang nilainya Rp22 juta pembayarannya di depan menerima panjar 50 persen. Untuk ukuran kecil-kecil 30 senti bisa mencapai 500 biji malah kadang-kadang 1.000 biji.
Hitungannya, kalau penjualan kepada CD Bethesda sebijinya Rp110 ribu, modal pokok pembuatannya sekitar Rp75 ribu yang terinci antara lain untuk harga mentah topeng kayunya Rp32 ribu, ongkos ngamplas Rp12.500, gambar Rp7.500, memberi warna urat Rp12.500. Keuntungannya dibagi antar anggota kelompoknya. Misalnya ada selisih lebih Rp35 ribu berarti dari 200 biji mendapatkan Rp7 juta. Ada juga suplai untuk penjualan retail di kawasan wisata Lombok, namun tidak dalam jumlah besar. Ini bagian dari jasanya bertindak sebagai Jaringan Informasi Pengrajin Lombok. Setiap lima persen dari keuntungan yang diperoleh pemiliknya menjadi jatahnya.
Dan yang pasti sesuai legalitas kayu, mereka tidak lagi menggunakan kayu mahoni yang dilindungi tetapi patuh beralih memakai kayu kebun seperti nangka, mangga atau sengon. Sebenarnya kayu mahoni itu bagus dan tahan dingin. ‘’Tetapi negara luar ketat mengawasi penggunaannya,’’ ucapnya. Demikian pula pemakaian bahan tidak menggunakan cat semprot toxid tetapi wantex yang dicampur air dan menggunakan semir sepatu yang netral untuk pengkilapnya. Mulhan sendiri belajar bekerja sebagai pengrajin patung karena meminati seni walau hitungan ongkosnya kecil. Ia pun menyebutkan bahwa pekerjaan kerajinan topeng patung ini sangat alami. ‘’Bibir, hidung dan muka topeng bisa sama bentuknya dengan pembuatnya,’’ ujar Mulhan, seraya tertawa. Jadi bentuk topeng itu tidak bisa sama seluruhnya karena tergantung garis tangan pemahatnya.
Kemudian, Mulhan menjelaskan bahwa setelah berakhir pergolakan antar kampung, di pinggir jalan di pemukiman mereka di Jalan Bung Karno yang memisahkan Lingkungan Petemon dengan Lingkungan Karang Genteng – yang disebut sebagai jalur Gaza, telah muncul toko-toko penjual kerajinan diantaranya pengrajin emas mutiara. Wisatawan pun berdatangan. Katanya, dulu tidak ada yang mau diberi tanah di sana. Namun, kini harganya sudah melambung sampai Rp100 juta per 100 meter persegi. Dulu ribut itu karena kurang kerjaan. Ini yang menjadi pemicu pertikaian. ‘’Kalau sekarang ayo kita bekerja,’’ katanya. Di Kelurahan Pagutan Timur ada lima lingkungan tetapi separuh penduduknya berdiam di Petemon.
Mengenai kepercayaan pemesan kepada kelompoknya, Kordinator Bowun Emas ini menyatakan harus menjaga mutu produknya untuk mempertahankan pasar. Juga disiplin waktu pesanan ditepati. Juga mendapatkan kesempatan mengikuti peningkatan mutu dan supervisi yang difasilitasi oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Mataram. Mereka pernah dibantu berbagai macam peralatan kerja seperti gergaji, mesin serut, pahat, bor.
Kepala Seksi Usaha Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Mataram Taufiqurahman menyebutkan intansinya bertindak sebagai fasilitator gugus kendali mutu. ‘’Bagaimana mereka bisa meningkatkan usaha. Juga ada pelatihan kewirausahaan dan motivasi,’’ ucapnya.
Seorang anggota pengrajin Kelompok Bowun Emas adalah Artat Suprihat, 21 tahun, mahasiswa semester V jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Mataram. ‘’Saya bangga menjadi pengrajin. Tidak ada gengsi,’’ ujarnya sambil mengamplas topeng kayu. Dalam seminggu ia bekerja lima hari di sela waktu senggangnya. Ia bisa menyelesaikan 15 biji yang sudah diamplas, didempul dan menggambarnya yang perbijinya Rp20 ribu. Uang yang didapatnya dari kerja topeng ini sesekali digunakan beli baju selain rokok
Rusli, 27 tahun, yang tidak tamat SMP, dan setiap pagi berjualan tahu-tempe ke kota Praya Lombok Tengah mendapatkan untung dagangannya Rp34 ribu – dari tahu Rp20 ribu dan dari Tempe untung Rp14 ribu. ‘’Asyik saja mengerjakan topeng ini. Berarti pekerjaan ini,’’ katanya sambil menggambari menggunakan kuwas kecil di bagian bawah topeng itu. Rp150 ribu didapatnya setiap minggu.
Ahwan Elji Hadiwan, 21 tahun, anak seorang mantan kepala SD Negeri Jembatan Kembar di Gerung Lombok Barat, sudah setahun bergabung dengan teman-temannya pengrajin. Dan, rencananya, tahun akademik 2011/2012 ini ia mulai kuliah di jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Mataram. ‘’Kerja kerajinan ini melatih kesabaran. Hidup berilmu akan terang dan hidup dengan seni akan indah,’’ kata Iwan, panggilan Ahwan Elji Hadiwan.(*)

