BBC - Selasa 11 September 2001 pagi, Presiden George Bush sedang berkunjung ke sebuah SD di Sarasota, Florida. Saat itu murid-murid sedang mengikuti pelajaran membaca dan kepala Staf Gedung Putih berbisik kepada Presiden Bush.
“Pesawat kedua menghantam menara kedua, Amerika diserang,” kata Andrew Card.
Banyak orang yang masih mengingat reaksi Bush saat itu, yang tidak menunjukkan ekspresinya.
Beberapa menit kemudian Presiden Bush meninggalkan ruang kelas dan dimulailah perang melawan terorisme global.
Dalam pernyataan pertamanya yang singkat atas serangan atas gedung World Trade Centre, New York, dan Pentagon di Washington, Bush berjanji: “Akan melaksanakan penyelidikan skala penuh untuk memburu dan menemukan mereka yang melakukan tindakan itu. Terorisme atas bangsa kita tidak akan bertahan.”
Sementara seluruh warga dunia terhenyak menyaksikan sebuah pesawat menghantam Menara Utara WTC dan selang beberapa menit kemudian satu pesawat lain menghantam Menara Selatan.
Sepertinya bukan hanya Amerika Serikat saja yang diserang, tapi seluruh kemanusiaan.
Serangan di Indonesia
Setahun kemudian, 12 Oktober, bom meledak di kawasan wisata Pantai Kuta, Bali, dan menewaskan 202 orang sementara 209 lainnya cedera. Sebagian besar korban adalah wisatawan asing yang berasal dari Australia.
Dan bom itu menjadi semacam pintu pembuka dari rangkaian bom di tanah Indonesia, dengan sasaran kepentingan dunia Barat.
Dua tahun kemudian, tepatnya 9 September 2004, Kedutaan Besar Australia di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, yang dibom oleh kelompok Jemaah Islamiyah, yang mempunyai hubungan dengan al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden.
Namun walau sasarannya adalah Kedubes Australia, semua 11 korban jiwa adalah warga Indonesia, baik itu satpam Kedubes maupun pemohon visa, dan warga sekitar.
Berselang setahun kemudian, dua bom kembali melanda Bali dan menewaskan 23 orang, termasuk lima warga asing.
Pertengahan Juli 2009, dua bom meledak dalam waktu berdekatan di dua hotel berjaringan asal Amerika Serikiat di Mega Kuningan, Jakarta Selatan, yaitu Ritz Carlton dan JW Marriott.
Perang melawan teror
Tak lama setelah serangan 11 September 2001 di New York dan Washington, pemerintah Amerika Serikat memimpin invasi internasional ke Afghanistan untuk menjatuhkan pemerintahan Taliban yang melindungi Osama bin Laden dan pengikutnya.
Pada masa puncaknya, pasukan internasional di Afghanistan 140.000 personil yang mulai dikurangi sejalan dengan pelatihan aparat keamanan Afghanistan.
Sementara itu pemerintah AS juga menjalin kerjasama dengan pemerintah Indonesia. Direktur Biro Investigasi Federal, FBI, Robert S. Mueller, pada Maret 2002 berkunjung ke Bali untuk membahas peningkatan kerjasama dalam memerangi terorisme.
Kunjungan Mueller itu merupakan bagian dari lawatannya ke sejumlah negara di Asia Tenggara, termasuk Malaysia dan Singapura.
Dan sejumlah tersangka di balik rangkaian pemboman di Indonesia berhasil ditangkap atau tewas saat digrebek aparat keamanan.
Salah seorang yang diduga berperan dalam menyiapkan bom dalam rangkaian serangan di Indonesia, Azahari Husin -yang disebut pernah menerima pelatihan di Afghanistan- tewas pada tahun 2005 dalam sebuah operasi kepolisian.
Sedangkan Noordin M. Top -yang sempat menjadi dalang pemboman yang paling dicari oleh aparat keamanan Indonesia- tewas saat penggrebekan pada tahun 2009.
Selain itu sejumlah anggota jaringan Jemaah Islamiyah di Indonesia juga berhasil ditangkap dan kemampuan serangan mereka di Indonesia dilemahkan.
Osama tewas
Sementara itu, salah seorang dalang Bom Bali 2002, Umar Patek, berhasil ditangkap aparat keamanan Pakistan pada Januari 2011.
Dan pada awal Agustus 2011, Umar Patek, tiba di Jakarta dan ditahan khusus di Mako Brimob, Kelapa Dua, untuk menjalani pemeriksaan.
Di kawasan Pakistan, perang melawan terorisme terus dilancarkan Amerika Serikat lewat pemboman dengan menggunakan pesawat tak berawak di kawasan kesukuan dekat perbatasan Pakistan dan Afghanistan, yang dianggap menjadi tempat persembunyian para pendukung al-Qaeda.
Bagaimanapun berita terbesar dalam perang melawan terorisme global adalah tewasnya Osama bin Laden dalam sebuah operasi pasukan khusus Amerika Serikat di Quetta, Pakistan, 2 Mei 2011.
Serangan itu sempat mengganggu hubungan antara Pakistan dengan Amerika Serikat karena tempat persembunyian Osama tidak jauh dari kompleks militer Pakistan.
Tapi masih dipertanyakan apakah tewasnya Osama menjadi akhir dari perang melawan terorisme yang dipicu oleh serangan 11 September 2011.
Laporan Khusus BBC World Service tidak khusus menjawab pertanyaan itu, namun lebih mengenang serangan yang mengubah pendekatan keamanan di seluruh dunia dengan memaparkan fakta-fakta dan pendapat para ahli.(*)

