RNW - Universitas Airlangga Surabaya berhasil memproduksi bibit vaksinasi yang bisa dipakai untuk melawan virus flu burung yang menjangkiti manusia. Sampai saat ini, di Indonesia virus ini masih berbahaya dan terus menelan korban.
Vaksin bisa dipakai sebagai langkah preventif guna mengurangi resiko penularan flu burung terhadap manusia.
“Kita otak-atik virus yang khusus berasal dari manusia. Kita lakukan satu rekonstruksi, bahasa ilmiahnya adalah reverse genetic. Kami berhasil memproduksi virus dengan konfigurasi baru yang bisa di-challenge dengan berbagai macam virus yang ada di lapangan,” jelas Chairul Anwar Nidom, peneliti dari Universitas Airlangga, Surabaya, dalam wawancara dengan Radio Nederland Wereldomroep.
Penelitian dilakukan sampai tingkat pre-clinical trial, atau tingkat pengujian di hewan dan dilakukan selama enam bulan. Bibit virus ini kemudian bisa dikembangkan untuk memproduksi vaksin yang bisa dipakai untuk melawan virus H5N1 dengan berbagai variannya.
Latar belakang
Sampai saat ini, menurut Chairul Anwar Nidom, penanganan masalah flu burung di Indonesia belum menunjukkan kemajuan yang memuaskan. Langkah vaksinasi sudah ditempuh untuk menanggulangi penyebaran virus ke ternak.
“Ternyata hasil vaksinasi itu justru memunculkan berbagai mutasi baru. Ini mengkhawatirkan kesehatan masyarakat,” jelas Nidom.
Namun demikian, sampai saat ini belum ada langkah yang diambil untuk melindungi masyarakat dari penularan virus flu burung.
“Dari latar belakang itu, kami mengambil inisiatif untuk meneliti bagaimana kalau masyarakatnya yang diberi vaksinasi,” kata Nidom. Ini sebagai langkah preventif untuk mengurangi resiko penyebaran virus flu burung.
Lokal
Hasil penelitian Universitas Airlangga ini adalah yang pertama kali dilakukan di Indonesia. Virus yang dipakai sifatnya lokal dan hanya bisa diterapkan untuk konteks lokal. Ini karena adanya perbedaan struktur virus.
“Antar wilayah dalam satu negara saja ada bedanya. Jadi, misalnya, di Indonesia antar pulau itu sudah menunjukkan variasi sendiri-sendiri,” jelas Nidom.
Vaksin yang dihasilkan ini bisa saja dipakai untuk melawan virus di negara lain, tapi harus dilihat dulu apakah vaksin ini ampuh melawan virus bersangkutan.
Menurut Nidom, vaksinasi adalah satu-satunya alternatif yang bisa ditempuh untuk mencegah penularan virus flu burung terhadap manusia.
Pemerintah
Nidom menyatakan hasil penelitian Universitas Airlangga ini sudah disampaikan kepada pemerintah. Selanjutnya tergantung kepada pemerintah langkah apa yang akan diambil.
Ia menyatakan sampai saat ini belum tahu langkah apa yang akan diambil pemerintah Indonesia. “Yang penting, ini adalah karya anak bangsa. Kita sumbangkan untuk membantu masyarakat Indonesia,” kata Nidom mengakhiri wawancara.(*)

