RNW - Puluhan anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) hasil hubungan gelap atau korban pemerkosaan, dilabeli sebagai anak haram. Mereka ditolak keluarga di kampung halaman.
Terlantar, kerap diperjualbelikan orangtua sendiri. Namun, ada satu tempat di mana mereka bisa berlindung untuk sementara, sampai mereka bisa diterima keluarga. Reporter KBR68H Muhammad Irham mengunjungi Rumah Peduli Anak TKI untuk mencari tahu nasib mereka.
Enam bayi TKI dari berbagai belahan dunia itu baru saja selesai minum susu. Tawa lepas mereka terasa hangat di ruang berpendingin. Mereka bermain dengan para perawat. Mainan anak seperti bola kecil terhampar di sana-sini.
Salah satu bayi laki-laki, jalan terbata-bata, mendekat. Lalu, berbaring di pangkuan sambil tertawa manja. Sisa susu kalengan masih berlepotan di bibirnya yang mungil. Ia sempat ditegur perawat bernama Ani, saat menarik-narik alat perekam yang disangka mainan.
Salah satu pekerja Rumah Peduli Anak TKI, Iwan, bercerita latar belakang bayi berusia 17 bulan itu. Aiman bayi tertua di tempat ini. Hidung mancung, dengan alis mata tebal. Wajah khas etnis Arab. Aiman dipungut tahun lalu, di Gedung Pendataan Kepulangan TKI di Selapajang, Tangerang, Jawa Barat.
Mengandung lagi
“Di Gedung GPK, Kepulangan TKI. Waktu itu malam. Anak ini, dititipkan ke TKI lain. Itu usia delapan bulan. Saya tanya-tanya, cari. Ketemu juga ibu kandungnya. Ada di poliklinik. Nah, kebetulan ibunya lagi mengandung lagi.”
Si ibu mengakui Aiman anak kandung dia. Dia bingung karena faktor ekonomi.
“Sekarang tinggal di kampung. Dan bahkan berencana, akan mengambil lagi. Tapi sampai sekarang belum ada kabarnya. Jadi, dia TKI Arab Saudi, sekarang tinggal di Gorontalo,” cerita Iwan.
Satu lagi, seorang bayi TKI yang dititipkan, belum bisa berjalan. Wajah mungil, dengan mata juling. Jari-jarinya pun tidak sempurna. Cholid namanya. Ibunya, TKI korban pemerkosaan, kabarnya berada di Arab Saudi.
Dulu, anak ini tidak diinginkan lahir ke dunia, cerita Koordinator Rumah Peduli Anak TKI, Yudi Ramadani.
“Akan lebih pedih lagi, anak cacat itu si Cholid. Itu ibunya sudah berangkat lagi ke Arab. Saya kejar ke Cianjur, nggak ketemu. Pas ketemu itu di Imigrasi. Anda bisa bayangkan seorang ibu, nggak ada… jangankan nangis ya, mata itu berkaca-kaca pun tidak. Ngomong ke saya, ‘Pak silahkan, kasih saja ke orang lain’. Cholid itu kan seperti anak autis. Lihat matanya yang tidak fokus. Jari tangannya juga buntung. Itu ibunya ngaku sendiri, kebanyakan minum obat aborsi.”
Yudi Ramadani menambahkan, kini ada sekitar sebelas bayi yang masih ditampung. Sementara, 14 bayi sudah dipulangkan ke keluarga masing-masing. Bayi tersebut lahir dari TKI korban pemerkosaan dan hubungan gelap. Ada yang dari Arab Saudi, Kuwait, Bangladesh, Pakistan, dan Yordania.
Tak berani pulang
Jabang bayi yang segera menghirup udara dunia, masih berada dalam rahim Maria Naif, TKI asal Kupang, Nusa Tenggara Timur. Kandungan Maria sudah sembilan bulan, tinggal menunggu hari untuk melahirkan. Ia tak berani pulang, karena tak pegang uang sepeser pun.
Gaji selama 19 bulan belum dibayar majikannya di Malaysia, tandas Maria.
“Saya ke sini, yang paling memberatkan itu keuangan. Keuangan itu sama sekali tak ada. Kalau gaji saya diberikan, belum tentu saya di sini. Saya terus ke kampung.”
Maria hamil sejak di Malaysia. “Di sana, itu saya dengan orang Sulawesi. Saat itu, saya menderita batu darah. Saya ke rumah saudara. Jadi, dia itu sewa rumah saudara saya. Nah, waktu saya ke rumah sakit, batu darah ini. Dialah yang biayai saya. Ini hamil di luar nikah.”
Maria Naif sesungguhnya sudah punya suami dan dua orang anak di kampung halaman. Tak ada satu pun keluarga yang tahu tentang keberadaannya, karena semua nomor telepon telah dirampas majikannya. Termasuk gaji selama ia bekerja, yang belum dibayar.
Rencananya, setelah bayi lahir, ia akan pergi lagi ke Malaysia untuk kembali bekerja.
“Ya, setelah lahir, saya mau kembali kerja. Nanti kalau sudah ada uang, nanti saya ke kampung, ya saya ambil anak saya. Nanti saya bawa. Waktu saya masuk kedutaan itu, majikan sudah rampas barang-barang saya semua. Nomor telepon itu tidak dikasih sama sekali. Pakaian, terus paspor. Ini baju yang saya pakai, boleh dibagi sama kawan.”
Bayi di kandungan Maria Naif akan segera bergabung dengan belasan bayi TKI lainnya di Yayasan Rumah Peduli Anak TKI. Berdiri sejak 2009, yayasan sudah menangani sekitar 25 bayi TKI hasil pemerkosaan atau hubungan gelap.
Ditolak warga
Yayasan Rumah Peduli Anak berada di Perumahan Alam Raya, Kota Tangerang, Blok A nomor 75. Perumahan ini jaraknya tak jauh dari Bandara Soekarno-Hatta. Di depan halaman, cukup sepi. Di belakang pagar, pohon mangga yang baru berbuah hampir menutupi plang bertuliskan Rumah Peduli Anak Tenaga Kerja Indonesia.
Sebelum pindah ke sini, Rumah Peduli Anak TKI berada di perkampungan. Sempat ditolak warga karena dianggap sebagai tempat penampungan anak haram. Koordinator RPA TKI, Yudi Ramadani.
“Dari situ ada juga gejolak dari masyarakat, sampai saya pernah sedih. Ada yang disebut masyarakat ini sebagai tempat penitipan anak haram. Setelah ada dari masyarakat yang bilang ini tempat penitipan anak haram, kita lebih bersosialisasi. Kita pengajian ikut. Semua pengurus RPA ikut. Ada gotong royong kita ikut.”
Yayasan Rumah Peduli Anak Tenaga Kerja Indonesia yang berdiri dua tahun silam, membantu bayi-bayi TKI supaya bisa diterima keluarga. Salah satu usaha yayasan ini adalah melobi para suami agar bisa menerima bayi dari isterinya yang hamil di negeri seberang, karena diperkosa atau hubungan gelap.
Diperkosa supir taksi
Kata Yudi, bayi pertama yang ditangani Rumah Peduli Anak TKI bernama Nayla Nurfatillah Sohad. Ibunya, korban pemerkosaan dua supir taksi di Arab Saudi. Sang suami di Jepara, Jawa Tengah ngotot menolak anak tersebut, meski hidupnya ditopang dari keringat isteri yang bekerja di negeri padang pasir itu.
Perceraian tak bisa dihindarkan. Akhirnya, anak TKI tersebut diasuh oleh kakak tirinya. Kakak tirinya adalah TKI yang bekerja di Malaysia.
Sampai saat ini Rumah Peduli Anak TKI sudah mengembalikan 14 bayi TKI ke keluarga masing-masing. Sisanya, sebelas bayi, masih dirawat dan terus diusahakan agar bisa diterima keluarga.
Yayasan Rumah Peduli Anak TKI didirikan Jumhur Hidayat, Kepala Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia, BNP2TKI. Kata dia, yayasan tersebut berdiri menyusul maraknya perdagangan anak oleh para TKI.
Sindikat
“Kan banyak juga dari mereka yang tak punya suami. Jadi dia datang, hamil ya nggak apa-apa dibawa pulang. Nah, tapi yang tidak mau dibawa pulang, selama ini dilepas di terminal. Bahkan yang saya dengar ada semacam sindikat gitu. Jadi, bayi yang ada di situ, langsung diurusin. Dibeli, terus dibawa anaknya. Ilang.”
Jumhur Hidayat, pendiri Rumah Peduli Anak TKI menambahkan, biaya operasional berasal dari uang pribadi, perseorangan, atau perusahaan. Dia juga mengaku tak bisa menempatkan Rumah Peduli Anak TKI di bawah BNP2TKI, karena tak ada dana khusus.
Sementara itu, Ketua Komnas Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait mengatakan, BNP2TKI-lah yang harus bertanggung jawab atas bayi-bayi TKI yang ditelantarkan. Alasannya, bayi-bayi yang ditampung merupakan dampak dari penempatan TKI di luar negeri.
Tanggung jawab negara
“Artinya, boleh-boleh saja pribadi. Tapi ini kan harus juga jadi tanggung jawab negara, yang menganggap pengiriman tenaga kerja wanita itu sebagai devisa negara. Jadi, BNP2TKI itu bukan hanya perlindungan orang dewasa. Tapi dampak dari perilaku tenaga kerja yang tidak kondusif menjadi tanggung jawab BNP2TKI juga.”
Aris Merdeka Sirait menambahkan, bayi-bayi yang ditampung di Rumah Peduli Anak hanya fenomena puncak gunung es. Berdasarkan data Komnas, tiap kali pemulangan TKI dari luar negeri, 400an TKI membawa anak atau sedang mengandung.
Aiman, Cholid dan calon bayi dari Maria Naif, yang ditampung di Rumah Peduli Anak TKI hanya segelintir dari ratusan potret bayi-bayi TKI yang ditelantarkan. Dibuang keluarga, juga ditolak pemerintah.(*)

