MATARAM – Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (Kapolda NTB) Brigjen Arif Wachyunadi memberangkatkan jenasah polisi korban penusukan Brigadir Rokhmad Syaifudin, 30 tahun ke Surabaya. Sebelumnya dilakukan upacara pemberangkatan dilakukan Bandara Selaparang Mataram pukul 5.30 waktu setempat, dihadiri oleh jajaran Kepolisian Resort Mataram bersama satu kompi polisi yang terdiri dari perwira dan pasukannya bersama anggota Bhayangkari. Jenazah diangkut pesawat Lion Air dimakamkan di kota asalnya, Mojokerto.
Brigadir Rokhmad Syaifudin asal RT 03 RW 02 Desaa Gading Kecamatan Jatirejo Mojokerto menjadi korban penusukan Sa’ban Umar, 18 tahun, anggota Jamaah Ashorut Tauhid (JAT) dari Pondok Pesantren Umar Bin Khatab Desa Sanolo Kecamatan Bolo sekitar 40 kilometer arah barat daya kota Bima, jam 3.40 dini hari Kamis (30/6-2011) kemarin.
Menurut juru bicara Polda NTB Ajun Komisaris Besar Sukarman Husin, korban mengalami penusukan di tempat jaga. ‘’Pelaku berpura-pura melapor lalu menusuk korban yang sedang sendirian menggunakan senjata tajam,’’ ujar Sukarman kepada Tempo, Jum’at (1/7-2011) pagi. Rokhmad yang tujuh bertugas di Polsek Bolo meninggalkan seorang istri dan seorang anak.
Peristiwanya, dijelaskan oleh Sukarman, Sa’ban pura-pura lapor kepada korban yang sedang berjaga di Markas Kepolisian Sektor Bolo. Ada tiga orang anggota polisi lainnya sedang berada di ruang lain. Pura-pura melapor, tiba langsung melakukan penusukan dengan senjata tajam di perut tiga kali. Luka robek dan gores di tangan kanan dan pelipis kanan. Karena perdarahan serius, sekitar jam 4 meninggal sebelum sampai di Puskesmas Bolo.
Sa’ban Umar, pada saat itu juga berhasil ditangkap oleh anggota polisi lainnya setelah mendengar terjadinya keributan di tempat jaga. ‘’Pelaku sudah dinyatakan sebagai tersangka setelah menjalani pemeriksaan. Kemungkinan tidak sendirian,’’ ujar Sukarman.
Dari pemeriksaan yang dilakukan Sa’ban mengaku beralasan polisi kafir karena menjalankan UU pemerintah yang bertentangan dengan syariat Islam. Setelah dilakukan penggeledahan di rumahnya, penyidik menemukan CD, brosur, parang dan buku bernuasa jihad.(*)

