JAKARTA - Jum’at (20/5-2011) sore tadi, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Menteri Lingkungan Hidup Gusti Mohammad Hatta bersama dengan Asisten Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim Agus Purnomo dan Duta Besar Australia untuk Indonesia Greg Moriarty secara resmi meluncurkan dua buku Terumbu Karang dan Perubahan Iklim atau Coral Reefs and Climate Change, dan Karbon Biru atau Blue Carbon. Peluncuran dilakukan di Ballroom (Gedung Mina Bahari III) Kementerian Kelautan dan Perikanan di Jalan Medan Merdeka Timur 16 Jakarta Pusat.
Buku Terumbu Karang dan Perubahan Iklim bukan hanya sebuah buku informasi tentang terumbu karang dan perubahan iklim, tetapi juga sebuah pesan kepada masyarakat untuk melindungi sumber daya alam untuk masa depan. Terumbu karang telah digunakan sebagai contoh ekosistem yang sedang mengalami ancaman, tetapi juga bisa terjadi pada semua ekosistem.
Buku ini berisi grafik kesehatan karang sederhana yang dikembangkan oleh University of Queensland dan dalam bab terakhir dari buku “Kekuatan Kami” atau Power of Us menjabarkan bagaimana setiap orang dapat melakukan kontribusi mereka, meski kecil pun, atau besar untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Ini memberikan contoh dan solusi pada kedua skala kecil dan besar.
Buku ini dapat digunakan untuk pendidikan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi –perguruan tinggi dan dengan mudah dapat digunakan bagan kesehatan karang yang dikembangkan oleh CoralWatch, siswa dapat mengukur sendiri kesehatan dari setiap karang dan berbagi informasi untuk membantu kita dapat lebih baik melihat apa yang sedang terjadi - karena ini generasi masa depan kita. Kita harus bertindak sekarang untuk masa depan terumbu karang kita.
Dalam pandangan Pemerintah Indonesia, Menteri Fadel, Menteri Gusti dan Asisten Khusus Presiden Agus Purnomo memuji upaya Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (AMaFRaD). Mereka berkomentar, hal ini benar-benar penting bahwa kedua buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Buku-buku tersebut akan membantu memantau ancaman pemanasan global yang sedang berlangsung di perairan Indonesia dan pulau-pulau.
Buku Karbon Biru menjelaskan betapa pentingnya dimensi laut dalam menangkap karbon. Karbon Biru adalah total karbon ditangkap oleh pantai-pantai dan lautan di dunia. Sebagian besar disimpan di ekosistem mangrove, padang lamun dan rawa-rawa berair asin, yang dikenal sebagai vegetasi pantai. Setelah diserap oleh pasir dan lumpur, dapat tinggal di sana untuk waktu yang sangat lama. Jika ini adalah secara akurat terukur, ia menyediakan dasar untuk perdagangan obligasi REDD, seperti dalam program-program kehutanan REDD (reducing emissions from deforestation and forest degradation atau pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan).(*)

