BBC - Seorang mahasiswa Indonesia di Sendai, ibukota kabupaten Miyagi, Jepang timur laut, mengatakan semua warga Indonesia di sana dalam keadaan selamat tetapi persediaan makanan mereka hanya mulai menipis.
Mahasiwa yang juga pengurus PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) setempat, Fatwa Ramdani, mengatakan kepada BBC Indonesia lewat wawancara telepon bahwa dia bersama 70 orang Indonesia lainnya berada di tempat pengungsian berupa aula sebuah sekolah.
Sendai, kata Fatwa, berada sekitar 10 km dari pusat gempa 8,9 Richter yang mengguncang hari Jumat (11/03).
“Seluruh warga negara di Sendai saya usahakan untuk berkumpul di satu titik di Sanjo Masikai Haikang,” kata Fatwa kepada Asyari Usman dari BBC Indonesia.
Ketika ditanyakan apakah ada warga Indonesia yang terkena dampak gempa atau tsunami, yang sejauh ini diduga menewaskan setidaknya 1,000 orang itu, Fatwa mengatakan tidak ada.
“Sampai saat ini setahu saya tidak ada,” kata Fatwa.
Menurut Fatwa Ramdani lagi, sepanjang yang dia ketahui tidak ada orang Indonesia yang bekerja di Sendai atau di bagian lain Miyagi.
“Saat ini semuanya mahasiswa di Sendai. WNI yang bekerja belum bisa saya pastikan,” katanya.
Tetapi Fatwa tidak menutup kemungkinan ada orang Indonesia yang bekerja di Sendai dan diduga sebagian besar mereka adalah pelaut.
Keluar dari Sendai
Fatwa mengatakan juga bahwa semua WNI yang berada di pusat penampungan saat ini ingin segera meninggalkan Sendai. Dia mengatakan, pihak KBRI Tokyo sudah mengetahui kondisi mereka.
Di tempat penampungan ini ada juga warga lokal Jepang.
“Saat ini kondisinya, makanan dan minuman menipis. Jadi hanya diberikan kepada anak-anak dan orang yang berusia lanjut sehingga orang-orang dewasa harus mencari makan sendiri,” kata Fatwa.
Tetapi untuk warga Indonesia masih diusahakan agar mereka bisa mendapatkan makanan yang memadai.
“PPI Sendai menyiapkan dapur darurat untuk menyiapkan makanan tiga kali sehari bagi semua warga Indonesia di lokasi pengungsian di Sendai,” ujar Fatwa.
Tentang kekuatan gempa yang terjadi hari Jumat itu, Fatwa menggambarkan bahwa semua gedung di kota itu bagaikan menari-nari.(*)

