MATARAM – Dalam rangka peringatan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1933, mulai Jum’at (4/3-2011) malam nanti pukul 21 waktu setempat, pelayanan penyeberangan kapal feri dari Pelabuhan Penyeberangan ASDP Lembar di Lombok Barat Nusa Tenggara Barat dihentikan. Sedangkan pemberangkatan kapal dari Pelabuhan Padangbai Karang Asem Bali ke Lembar terakhir, Sabtu (5/3-2011) pagi pukul 5.
Penutupan dilakukan sampai dengan hari Minggu (6/3-2011). Dari Lembar pelayanan pemberangkatan kembali kapal feri dimulai Minggu (6/3-2011) jam 3 dini hari. Sedangkan dari Padang Bai mulai jam 8 pagi. ‘’Penutupan pelayanan berlangsung selama sehari,’’ kata Kepala Cabang Persero ASDP Lembar – Padang Bai Kaimuddin Maliling, Jum’at (4/3-2011) pagi.
Setiap harinya dari 24 trip pemberangkatan kapal feri yang jadwalnya setiap jam, rata-rata dari Pelabuhan ASDP Lembar ada 200-300 unit kendaraan campuran (mobil pribadi, bis, truck) yang menyeberang tujuan Padang Bai. Sedangkan sepeda motornya 150-200 unit. Jumlah penumpangnya mencapai 200-300 orang. ‘’Ya ditutupnya penyeberangan ini merupakan kesempatan melakukan perawatan kapal,’’ ujarnya.
Sedangkan penerbangan dari bandara Selaparang Mataram tujuan Ngurah Rai Denpasar yang seharinya 13 penerbangan juga dihentikan pelayanannya.
Ketua Parisadha Hindu Dharma Nusa Tenggara Barat Gde Renjana menjelaskan bahwa dalam rangkaian acara Nyepi, pekan lalu (26-27/2-2011) sudah dilakukan bakti sosial di Dusun Gumisa Kecamatan Gerung. Ada pengobatan gratis oleh 10 orang dokter dari Banjar Kesehatan Provinsi NTB, pasar murah berupa beras, telur, minyak goreng, gula, mi instan dan dupa. Juga penghijauan penanaman 2000 pohon sengon dan mahoni. ‘’Termasuk dialog agama Dharma Tula,’’ ucapnya.
Dua hari yang lalu, Rabu (2/3) dilaksanakan Melasti atau Mekiis di Pura Segara Ampenan kota Mataram yang jumlah umatnya sekitar 100 ribu jiwa dan Lombok Barat yang umatnya sebanyak 80 ribu jiwa. Melasti merupakan penyucian mikrokosmos (buana alit-diri sendiri) dan makrokosmos (buana agung atau alam semesta).
Di Pura Segara tersebut dilakukan persembahyangan menghaturkan persembahan atau sesajen kemudian menyucikan Pretime atau simbol-simbol Sang Hyang Widhi Wasa, ada yang terbuat dari emas. Terakhir, Ngelungsur Tirta Amerta atau air suci kehidupan dari tengah-tengah laut (samudera). Botol kosong ditutup rapat pagi hari sore ditarik kurang lebih 300-400 meter dari pantai, kemduian dibagikan ke umat untuk dipercikan kepada semua warga.(*)

