MATARAM – Untuk mencegah timbulnya pertikaian seperti terjadi di daerah lain, Gubernur Nusa Tenggara Muhammamd Zainul Madjdi mengundang rapat kordinasi (Rakor) dengan para tokoh agama, Jum’at (11/2-2011) pagi tadi. Berlangsung selama dua jam hingga pukul 11 siang, hadir sekitar 200 orang dari berbagai daerah.
Menurut Zainul Madjdi yang didampingi oleh Kepala Kepolisian Daerah (Polda) NTB Birgjen Pol Arif Wahyunadi, Komandan Komando Resort Militer 162 Wirabhakti Kolonel Inf.Heru Suryono, pertemuan tersebut untuk memastikan NTB aman dari kondisi potensi kerawanan. ‘’Tidak mungkin aparat saja yang bisa mengatasinya,’’ katanya di depan tokoh Islam, Nasrani, Hindu-Budha, Kong Hu Cu.
Kepala Polda NTB Birgjen Arif Wahyunadi mengatakan selama 2010 terjadi 25 kali perkelahian antar kampung dan 17 kali perusakan. Jumlah tersebut mengalami peningkatkan dari tahun sebelumnya 2008 sebanyak 14 kali dan 13 kali kemudian tahun 2009 angkanya terbalik yaitu 13 dan 14 kali. ‘’Yang dikawatirkan itu akibat pengaruh pihak ketiga,’’ katanya.
Secara terinci terbanyak terjadi di Lombok. Terbanyak di Lombok Timur 14 kali tetapi walaupun di Lombok Tengah hanya tiga kali kejadian namun dinilai kwalitasnya tinggi sampai terjadi korban jiwa.
Pada kesempatan tersebut, tokoh agama Kristen di Mataram Yahya Mugiono meminta fasilitas untuk tempat ibadah umat Kristen yang pengikut denominasi (aliran) nya kecil. Yang besar tidak mungkin meminjamkan tempat kepada yang kecil karena ada kekawatiran pengambilan jemaatnya. ‘’Untuk mendirikan tempat ibadah sendiri terhalang aturan jumlah umat,’’ ujarnya.
Ia menyebutkan dari 233 denominasi di Indonesia ada 16 denominasi Kristen di Lombok. Perbedaannya yang mendasar adalah tata ritualnya. Ada satu denominasi yang jumlah jamaahnya hanya 20 orang. Sedangkan ketentuan pendirian tempat ibadah minimal jumlahnya 90 orang. Waktu ibadah mereka hanya pada hari Minggu. ‘’Kan ibadah harus di tempat ibadah. Bukan di rumah. Ini menjadi problem,’’ ucapnya kemudian.
Ia juga meminta difasilitasi oleh aparat keamanan kepentingan ibadah di daerah kabupaten seperti tempat ibadah bersama yang dilakukan di Polres Lombok Timur. ‘’Gereja Oikumene bisa untuk beberapa denominasi,’’ katanya.
Gubernur NTB Muhammad Zainul Madjdi yang juga ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan di Pancor Lombok Timur mengatakan mengajak komitmen regulasi dan persaudaraan serta mencegah ada yang merasa terpinggirkan. ‘’Mari kita kembangkan kearifan semua pihak yang membangun tempat ibadah maupun yang bukan,’’ ujarnya.
Ada lima kesimpulan yang disebutkan akhir rakor adalah pentingnya dijaga kondusivitas daerah, melakukan silaturahmi antar umat beragama, memperkuat potensi dini mencegah terjadinya konflik, melakukan aksi kerukunan beragama difasilitasi pemerintah daerah, aparat pemerintah utamanya polisi dan jaksa melakukan penegakan hukum.
Perusakan tempat ibadah pernah terjadi di Mataram dan sekitarnya, 17 Januari 2000. Adapun nama-nama gereja yang dirusak dan dibakar adalah : Gereja Imanuel Jalan WR.Supratman, Gereja Maria Imaculata Jalan Pejanggik, Gereja Imanuel Jalan Bung Karno, Gereja Bethani dan Restoran Vanini di Jalan Panca Usaha, Gereja Pantekosta di Jalan Pariwisata, Gereja Pantekosta Bethlehem di Jalan Pemuda, Gereja Panen Abadi di Jalan Majapahit dan Gereja Sidang Masehi Advent Hari Ketujuh di Jalan Yos Sudarso, Gereja Bukit Sion di Jalan Arya Banjar Getas, sebuah gereja Pantekosta di Jalan Panji Tilar Negara dan sebuah gereja di Kecamatan Narmada Lombok Barat.(*)

