MATARAM – Selama bulan Januari 2011 terjadi Inflasi Gabungan Kota Mataram dan Kota Bima sebesar 1,45 persen. Terjadinya inflasi tersebut karena adanya kenaikan indeks empat kelompok yaitu: kelompok bahan makanan sebesar 4,59 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau sebesar 0,28 persen, kelompok perumahan,listrik,gas dan bahan bakar sebesar 0,23 persen dan kelompok kesehatan sebesar 0,08 persen.
Sedangkan tiga kelompok mengalami penurunan indeks yaitu kelompok sandang sebesar 0,07, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,01 persen dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan sebesar 0,04 persen.
Dengan angka inflasi tersebut, maka laju inflasi gabungan Kota Mataram dan Kota Bima tahun kalender(Januari 2011-Desember 2010 telah mencapai 1,45 persen dan laju inflasi ’tahun ke tahun’ (Januari 2011–Januari 2010) mencapai 9,71 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat Soegarenda menjelaskan bahwa laju inflasi tertinggi gabungan kota Mataram dan Bima berasal dari kelompok pengeluaran bahan makanan. Kalau di Bima mencnapai 1,51 persen sedangkan di kota Mataram 1,31 persen. ‘’Inflasi gabungan 1,35 persen,’’ ujarnya.
Jika dirinci menurut kota-kota IHK di NTB, pada bulan Januari 2011 kelompok-kelompok komoditas yang memberikan andil/sumbangan inflasi di Kota Mataram adalah sebagai berikut: kelompok bahan makanan sebesar 1,31 persen,kelompok makanan jadi minuman rokok & tembakau sebesar 0,03 persen, kelompok perumahan,air,listrik,gas & bahan bakar sebesar 0,05 persen dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan sebesar 0,01 persen. Kelompok sandang memberikan sumbangan deflasi sebesar 0,01 persen, sedangkan kelompok kesehatan dan kelompok pendidikan, rekreasi & olahraga tidak mengalami perubahan.
Di Kota Bima kelompok yang memberikan sumbangan inflasi adalah : kelompok bahan makanan sebesar 1,51 persen, kelompok makanan jadi,minuman,rokok & tembakau sebesar 0,16 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar sebesar 0,07 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,01 persen dan kelompok pendidikan,rekreasi dan olah raga sebesar 0,01 persen. Sedangkan yang memberikan sumbangan deflasi adalah kelompok sandang sebesar 0,01 dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan sebesar 0,08 persen.
Pada bulan Januari 2011 dari 66 kota yang menghitung IHK, tercatat 62 kota mengalami inflasi, sedangkan 4 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Padang sebesar 3,70 persen dan terendah di Kota Manokwari sebesar 0,07 persen. Sedangkan deflasi terbesar terjadi di Kota Sorong sebesar 1,07 persen dan terkecil di Kota Ternate sebesar 0,32 persen.
Di wilayah Bali dan Nusa Tenggara dari 5 kota yang menghitung IHK tercatat semua kota mengalami inflasi yaitu: Kota Bima sebesar 1,67 persen, Kota Kupang sebesar 1,41 persen, Kota Mataram sebesar 1,39 persen, Kota Denpasar sebesar 1,03 persen dan Kota Maumere sebesar 0,88 persen.(*)

