MATARAM – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Madjdi melantik incumbent Jamaluddin Malik sebagai bupati Sumbawa, Senin (17/1-2011) siang tadi. Jamaluddin Malik dilantik berpasangan dengan Arasy Muhkan sebagai kepala daerah periode 2010-2015. Pelantikan dilakukan di gedung DPRD Kabupaten Sumbawa dalam rapat paripurna yang dipimpin oleh ketuanya Farhan Bulkiah. Juga hadir, Wakil Gubernur NTB Badrul Munir.
Zainul Madjdi menyebutkan proses pemilihan kepala daerah Kabupaten Sumbawa sebagai pemecah rekor terpanjang waktunya di NTB, karena melalui tiga kali putara. Dimulai pada putaran pertama tanggal 7 juni 2010 lalu, kemudian menjalani putaran kedua dan terakhir adalah pengulangan pemungutan suara di beberapa TPS tertentu.
Zainul Madjdi menyebut Jamaluddin – Arasy telah berhasil merebut simpati rakyat sehingga diberi kepercayaan untuk memimpin kembali Bumi Sabalong dalam periode jabatan 5 tahun kedepan.
Zainul Madjdi juga memberikan apresiasi yang tinggi pelaksanaan dan hasil-hasil yang dicapai dalam musakara rea lembaga adat tanah samawa beberapa waktu yang lalu. Salah satu hasil penting yang dicapai dalam musakara rea tersebut adalah pengukuhan DMA Kharauddin, putra mahkota Samawa sebagai Sultan Kaharuddin IV. Pengukuhan tersebut, disebutkannya memberikan entry point terhadap pembangunan kebudayaan, khususnya kebangkitan kembali kebudayaan Samawa yang sangat kental dengan nilai-nilai Islami. Hal ini ditekankan karena berkeyakinan bahwa kebudayaan akan mampu memberi kontribusi terhadap pembentukan insan masyarakat yang berperadaban dan berkarakter lokal namun berwawasan global. ‘’Untuk itu, syiar pembangunan kebudayaan perlu terus digelorakan ditengah hingar bingarnya infiltrasi budaya asing yang terus meningkat,’’ katanya.
Oleh karenanya, ia meminta Jamaluddin dan Arasy untuk selalu bersinergi dengan baik dengan Sultan dan Kesultanan Samawa dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Sinergi tersebut perlu dikonkritkan antara lain dalam bentuk upaya melakukan revitalisasi fungsi istana dalam loka sebagai pusat studi kebudayaan Samawa.(*)

