MEKAH - Saat dua juta jamaah bergerak ke Arafah untuk kemudian wukuf di sana, kiswah Kabah diangkat. Kabah kemudian dicuci, setelah dikeringkan kiswah baru dipasang. Maka, ketika dua juta jamaah itu bergantian melakukan thawaf pada 10 Dzulhijah, kiswah baru telah menyelubungi Kabah.
Pada hari Selasa (16/11-2010), bersama jamaah lainnya, saya melakukan thawaf ifadah, mengelilingi Kabah setelah melakukan mabit di Muzdalifah (Sore hari kami kembali ke Mina untuk melontar jumrah di Jamarat Aqabah). Sehabis tawaf, dilanjutkan dengan sai dari Shafa ke Marwah. Memulai dari Shafa, seperti jamaah lainnya, sebelum berangkat ke Marwah berdoa terlebih dulu sambil memandang Kabah. Tentu saja, sekarang Kabahnya tak terlihat, terhalang pilar-pilar masjid.
Setelah membebaskan Makkah, Nabi mencium Hajar Aswad, kemudian thawaf, dan ke Shafa. Di Shafa, Nabi mengangkat kedua tangannya, memuji Allah, dan berdoa kepada-Nya, sambil menghadap ke Kabah.
Nabi dulu sering berteduh di bawah Kabah dengan berbantal surbannya. Nabi menganggap Kabah sebagai tempat berteduh yang paling mulia di muka bumi. Sekitar 130 meter dari Kabah, ada bukit Shafa di sebelah tenggaranya. Di sebelah timur Shafa, berjarak 36 meter, rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam berada, tempat berkumpul 39 Muslim awal yang berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Umar bin Khatthab kemudian menggenapi menjadi 40 orang pertama pemeluk Islam, dan kemudian dakwah dilakukan secara terbuka.
Di Bukit Shafa Nabi pernah berseru kepada orang-orang. Kepada orang-orang Quraisy termasuk Abu Lahab di dalamnya. Nabi ke bukit Shafa setelah turun surat Al Syuara ayat 214: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”.
Tak terima ajakan Nabi, Abu Lahab berteriak, “Celakalah kau! Untuk inikah engkau kumpulkan kami?” menanggapi ulah Abu Lahab, Allah menurunkan surat Al-Lahab ayat 5.
Muhammad Ilyas Abdul Ghani mencatat masih ada lima peristiwa lagi yang dialami Nabi berkaitan dengan Shafa. Di Shafa, Nabi pernah pula disakiti oleh Abu Jahal. Kepalanya berdarah ketika batu yang dipukulkan Abu Jahal mengenai kepala Nabi. Nabi juga pernah diminta oleh kaum Quraisy mengubah Shafa menjadi emas.
Setelah merebut Makkah, Nabi memerintahkan Khalid bin Walid memasuki Makkah melalui dataran rendah kemudian berkumpul di Shafa. “Tempat kumpul kalian adalah Shafa,” kata Nabi (HR Muslim).
Di Shafa, Hindun, istri Abu Sofyan, masuk Islam. Abdu Sofyan masuk Islam di Jumum. Setelah berdebat, Hindun takluk setelah Nabi mengajarkan agar tidak mengingkari kebaikan. “Demi bapak ibumu, sungguh sangat mulia dan baiknya apa yang engkau serukan.”
Terakhir, ketika Nabi sedang berada di Shafa, datanglah orang-orang Anshar mengelilingi Shafa. Nabi memberi pengampunan dan menjamin mereka: Aman jika berlindung di rumah Abu Sofyan. Aman pula bagi yang meletakkan senjata, dan pun aman bagi yang tetap tinggal di dalam rumahnya kemudian menutup pintu rumah.
Nabi selalu memulai sai dari Shafa kemudian ke Marwah sejarak 300 meter di sebelah utara Kabah. Turun dari Shafa, tiba di lembah kemudian lari-lari kecil, terus berjalan lagi ketika menaiki Bukit Marwah. Tempat Nabi berlari-lari kecil itu disebut batn al masil. Di tempat inilah Nabi Ibrahim dulu juga berlari-lari kecil.
Meski tempat sai sekarang, turun naiknya ke dua bukit itu tak seperti dulu, tapi daerah lembah untuk tempat berlari kecil masih tetap dipertahankan. Tempat itu diberi tanda lampu berwarna hijau. Di sampingnya, dulu d rumah Abbas bin Abdul Mutholib. Setelah mengalami perbaikan berkali-kali, rumah itu akhirnya dibongkar ketika perluasan Masjidil Haram dilakukan pada 1376 H. Pintu yang ada tanda lampu hijau itu kemudian diberi nama Bab Abbas.
Di Shafa dan Marwah dulu pernah dipajang patung. Patung Isaf di Shafa dan patung, Nailah di Marwah. Mereka diabadikan dalam bentuk patung setelah Isaf (laki-laki) dan Na ilah (perempuan) berzina di Kabah. Maka, Shafa kemudian melambangkan kemaskulinan, dan Marwah lambang kefemininan. Patung itu, kata Ghani, sebagai peringatan “agar manusia bisa mengambil pelajaran darinya.”
Tapi, yang terjadi bukan hikmah. Dua patung itu menjadi sesembahan masyarakat jahiliyah. Saat Nabi membawa Islam, patung-patung itu dimusnahkan, dan turunlah surat al-Baqarah ayat 158: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah”.
Di Shafa dan Marwah, Nabi menengadahkan tangan, menghadap Kabah dari sisi yang ada pintu Kabahnya (Shafa menghadap ke Hajar Aswad, Marwah menghadap ke Rukun Syaami), dan berdoa. Di pintu Kabah, burqa kiswah tersulam ayat 144 surat Al-Baqarah: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, kaka sunguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai”.
Di bawahnya disulamkan juga ayat 133 surat Ali Imron: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwA.”(priyantono oemar/mch/kemenag)

