JAKARTA - Pemerintah menetapkan tanggal 1 Dzulhijjah 1431 Hijriyah jatuh pada hari Senin, 8 November 2010, dengan demikian hari raya Idul Adha 1431 H jatuh pada hari Rabu, 17 November 2010. Ketetapan ini berdasarkan pada sidang itsbat awal Dzulhijjah di Gedung Kementerian Agama, Jl. Mh Thamrin Jakarta Pusat, Senin (8/11-2010).
Sidang yang dipimpin Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Prof Dr Nasaruddin Umar, dihadiri Sekjen Kemenag Bahrul Hayat PhD, Dirjen Peradilan Agama Mahkamah Agung Drs Wahyu Widiana MA, Ketua MUI Prof Umar Shihab, serta pimpinan ormas-ormas Islam dan anggota Badan Hisab Rukyat.
Sebelum mengetuk palu, Dirjen Nasaruddin meminta pendapat peserta sidang, mengingat pada Idul Adha tahun ini, dirayakan secara berbeda. PP Muhammadiyah berketetapan memegang ketetapan PP Muhammadiyah yang telah menetapkan 16 November sebagai hari raya Idul Adha berdasarkan hisab.
“Kami meminta kearifan dan kebesaran hati dari Pemerintah serta semua pihak, karena pada Idul Adha tahun ini kami menetapkan berbeda,” kata Ma`rifat Iman, mewakili PP Muhammadiyah.
Menurut KH Syaifuddin Amsir, dari PBNU, sebaiknya pada masa mendatang perbedaan hari raya tidak terulang lagi. Apalagi, dengan penetapan hari raya yang dilakukan sebagian kelompok umat seperti penganut tarikat.
Syamsul Bahri, utusan DDII, menegaskan bahwa upaya penyatuan kalender hijriyah menjadi hal yang mutlak. Menurutnya, jika perbedaan ini terus terjadi, maka akan semakin membuka kesempatan suburnya sekte-sekte yang menyimpang. Selama ini banyak sekte atau aliran yang penetapan hijriyahnya jauh perbedaannya.
Sementara itu, Persatuan Islam (Persis) menyoroti pentingnya kebersamaan dalam perayaan Idul Adha dan Idul Fitri. Untuk itulah, Persis mendorong untuk menyatukan metode dan kriteria dalam penetapan bulan hijriyah, baik hisab maupun rukyah, sehingga tidak ada lagi perbedaan.
Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, profesor riset dari LAPAN yang juga anggota BHR Pusat, juga sependapat agar disusun kriteria dan standar penetapan bulan hijriyah.
Sebelumnya Ketua BHR Rohadi Abdul Fatah yang juga Direktur Urusan Agama Islam mengatakan, pihaknya telah melakukan rukyatul hilal (peneropongan bulan baru, red) pada hari Sabtu (6/11) yang bertepatan dengan akhir bulan Dzulkaidah di beberapa titik rukyat yang dimiliki Kementerian Agama, bahwa posisi hilal kendati berada di atas ufuk, tapi masih imkanurrukyah belum mencapai 2 derajat.
“Ijtima hari Sabtu, 6 November 2010 jam 11,52 ketinggian hilal pada -0 derajat sampai 1 derajat, posisi hilal masih belum terlihat. Dengan demikian, bulan Dzulqodah digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari, sehingga tanggal 1 Dzulhijjah jatuh pada hari Senin, 8 November,” kata Rohadi.
Ketua MUI Umar Shihab menyatakan, pihaknya bisa memahami perbedaan hari raya seperti yang ditetapkan PP Muhammadiyah, karena itu ia mengimbau semua pihak untuk saling menghormati. “Namun MUI tetap menyesuaikan dan mentaati keputusan Pemerintah,” kata Umar.(ks/pinmas/kemenag)

