MEKKAH - Memasuki hari ke-25, Panitia Pelaksana Ibadah Haji Indonesia (PPIH) Arab Saudi mencatat sudah 56 orang wafat dan angka tersebut jika dibanding tahun sebelumnya (2009) masih lebih rendah, kata Penghubung instansi kesehatan PPHI, dr. Ramon Andreas MSc SpOk di Mekkah, Sabtu (6/11-2010).
Ia mengatakan, angka kematian pada hari yang sama pada tahun lalu mencapai 64 orang. Meski ada penurunan, hal itu bukan berarti petugas kesehatan mengklaim sebagai keberhasilan. Petugas kesehatan tetap memberi pelayanan optimal, karena sukses tidaknya pelaksanaan ibadah haji bukan diukur dari rendahnya angka kematian semata.
Masih ada hal lain, kata dr. Ramon. Yang pasti, kini kondisi fisik jemaah Indonesia banyak tergolong sebagai jemaah beresiko tinggi (risti) dan berusia tua.
Ia menjelaskan, dari 56 orang yang wafat tersebut kebanyakan wafat di Mekkah (28 orang), Maddinah (26), Jeddah (1) dan dalam perjalanan (pesawat) sebanyak satu orang. Lokasi jemaah yang wafat itu kebanyakan di Rumah Sakit (RS) Arab Saudi ,24 orang, Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) sebanyak 13 orang, Berikutnya di pemondokan (11), di jalan (3), pesawat (1) dan di masjid (4).
Jika dicermati usia yang meninggal itu, terbanyak berusia di atas 60 tahun sebanyak 36 orang, menyusul usia 50-59 sebanyak 15 orang dan usia 40-49 sebanyak 5 orang. Penyebab kematian, menurut Ramon, sistem sirkulasi (36), sistem pernafasan (8), sistem darah dan organ pembuluh darah (7), trauma (1) dan infeksi dan parasit (1).
Kendati suhu udara rata-rata maksimal 34 derajat C, sudah mereda dibanding beberapa hari lalu, ia berharap jemaah tetap menjaga kondisi fisik agar tetap prima. Pelaksanaan wufuk makin dekat, 15 Nopember nanti. Kini kelembaban udara di tanah suci 44 persen dan kecepatan angin 8,05 km/jam dengan jarak pandang (visibiliti) 10 km. (edy s/mch Jeddah/kemenag)

