MATARAM – Setiap pelajar di Nusa Tenggara Barat (NTB) diwajibkan membuat surat pernyataan yang diketahui para orang tua, menjauhi narkoba. Selain itu para guru dan orang tua juga harus memberikan bimbingan kepada anak didiknya agar tidak menonton tayangan televisi utamanya filem kekerasan dan filem porno.
Menurut Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga NTB Imhal, surat edaran yang ditujukan kepada semua kepala dinas pendidikan tersebut untuk mempersiapkan daya tahan anak-anak siswa dan mencegah akibat negatifnya. Mengutip hasil kajian tentang kekerasan, Imhal menyebutkan bahwa filem kekerasan akan merusak otak karena mengurangi daya ingat. ‘’Kajian yang bermanfaat harus dipublikasikan agar diketahui masyarakat,’’ kata Imhal sewaktu bertemu Tim Kajian Pembinaan Ahlak dan Karakter Bangsa yang diketuai Masykuri Abdillah – Sekretaris Bidang Hubungan Antar Agama Dewan Pertimbangan Presiden di kantor Gubernur NTB, Kamis (4/11-2010) siang.
Tim Kajian Pembinaan Ahlak dan Karakter Bangsa bertemu para tokoh agama dan beberapa kepala satuan kerja perangkat daerah dalam rangka melakukan kajian melihat karakter dan ahlak bangsa. NTB adalah satu dari enam daerah – lainnya Maluku, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat dan Jawa Barat yang dipilih karena menonjolnya konflik yang terjadi.
Kepala Bidang Bantuan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial dan Kependudukan NTB Wismaningsih mengakui tidak ada konflik antar pelajar. Tetapi yang terjadi adanya 23.068 kasus korban kekerasan. ‘’Dalam era global ini tidak ada figur kecuali di televisi,’’ ucapnya. Terjadinya debat menimbulkan kekerasan dalam kehidupan sehari-hari. Konflik bahkan terjadi antar satu etnis bahkan satu keluarga atau satu rumpun setelah berakhirnya pemilihan kepala daerah. Karenanya, ia berharap munculnya kembali kearifan lokal.
Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren NTB Tuan Guru Haji Safwan Hakim meminta agar tidak hanya menyalahkan masyarakat jika terjadi konflik. Menurutnya ahlak tergantung dari pemimpin yang bisa mempengaruhi perilaku dari masyarakatnya. ‘’Pemimpin itu juga punya kekurangan. Apakah penempatan orangnya yang tidak tepat,’’ ujarnya.
Ia kemudian juga menyesalkan dalam reformasi ini adanya orang pintar yang kebablasan sampai berani menggambarkan seorang presiden seperti hewan. ‘’Ini sesuatu yang memalukan,’’ katanya. Mereka hanya bisa menyalahkan tanpa memberikan solusi persoalan bangsa.
Kemudian ia mengatakan bahwa pembangunan itu dilakukan secara estafet dari presiden Soekarno, Soeharto, BJ Habibi, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarno Putri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Tapi orde lama dicaci maki. Jatuh orde baru semua produk orde baru semuanya nol seolah tidak ada. ‘’Ini kesalahan yang luar biasa,’’ ucapnya. Disebutnya zaman orde baru ada rencana pembangunan lima tahun (Repelita) tetapi sekarang tidak tahu kemana pembangunan.(*)

