MATARAM – Eskpor butiran mutiara dan dalam bentuk perhiasan asal Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami peningkatan. Kalau pada semester pertama (Januari – Juni) 2009 hanya 93 kilo senilai US $ 22.489,888, maka pada periode yang sama Januari – Juni 2010 mencapai 127 kilo senilai US $ 673.255,100. Ini belum termasuk perdagangan di dalam negeri yang diperkirakan omsetnya bisa mencapai lebih dari Rp50 miliar dalam setahunnya.
Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB Lalu Munir menjelaskan bahwa ekspor butiran mutiara dan dalam bentuk perhiasan tersebut tujuan terbanyak ke tiga negara yaitu Hongkong, Amerika Serikat dan Jepang. ‘’Terbesar ke Jepang,’’ kata Munir di kantornya, Kamis (12/8-2010) siang.
Volume ekspor mutiara ke Hongkong mencapai 23 kilogram mutiara yang nilainya US $ 8.708. Ke Amerika Serikat sebanyak 3 kilogram nilainya US $ 5.000 dan ke Jepang sebanyak 101 kilogram nilainya mencapai US $ 659.547,100. ‘’Nilai ekspor mutiara ini adalah yang terbesar setelah hasil tambang,’’ ujar Munir.
Nilai ekspor keseluruhan komoditi asal NTB Januari – Juni 2010 mencapai US $ 946.852.899,640. Terbesar memang hasil tambang berupa konsentrat tembaga, emas dan perak yang mencapai US $ 946.003.985,980 atau 99,91 persen. Sedangkan ekspor mutiara sebesar 0,07 persen dari keseluruhan nilai ekspor NTB.
Kepala Balai Pengembangan Pelatihan dan Promosi Ekspor Daerah Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB Farida Ellyana mengemukakan bahwa di NTB ada lebih 50 pengusaha perhiasan yang dilengkapi aksesori mutiara. Omsetnya non ekspor bisa lebih Rp50an miliar. ‘’Untuk lokal kebanyakan berupa perhiasan emas dilengkapi mutiara. Sedangkan orang luar negeri berupa emas putih atau perak,’’ ucap Farida.
Pemilik Ine Lombok Pearl Suhartini, 50 tahun, yang berdagang perhiasan mutiara sejak 1997 mengatakan memiliki omset rata-rata setahun Rp1 miliar. Perhiasan yang dijualnya mulai dari harga terendah Rp1 juta dan dalam bentuk kalung berisi 33 butir mutiara atau gelang yang dilengkapi berlian sampai Rp130 juta. ‘’Kadang-kadang orang lokal Lombok lebih konsumtif dibanding dari Jakarta,’’ katanya mengenai peredaran penjualan perhiasannya. Tahun 2010 ini, menurutnya, tren perhiasan yang dibutuhkan lebih banyak berupa bros dan cincin. Sedangkan untuk pembeli luar negeri pada musim tahun baru menyukai kalung.
Setahun, hasil budi daya mutiara di NTB mencapai sekitar 1,35 ton. Produk budi daya mutiara NTB tersebut dihasilkan oleh 24 perusahaan diantara 35 perusahaan budi daya mutiara yang dilakukan di perairan pulau Lombok dan Sumbawa. Banyaknya perusahaan yang melakukan usaha budi daya mutiara ini, mengingat lingkungan perairan lautnya masih bersih. Sehingga tersedia sumber makanan sehingga pertumbuhannya lebih bagus. NTB memiliki potensi areal seluas 25.000 hektar yang hingga kini memiliki potensi produksinya 3,72 ton.(*)

