BOGOR - Selain memberikan arahan mengenai tema rapat kerja yang dilaksanakan di Istana Bogor, Kamis (5/8-2010) pagi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga memberikan arahan khusus, antara lain persiapan menghadapi bulan Ramadan 1431 H dan lIdul Fitri. Masalah yang selalu dihadapi adalah terjadinya gejolak harga.
Kenaikan harga ini karena rumah tangga mengkonsumsi bahan pokok yang lebih, demand meningkat. Kalau supply tetap, harga pasti naik. “Ini terjadi setiap mendekati Lebaran,” Presiden menjelaskan. Oleh karena itu, Presiden menginstruksikan para menteri terkait bekerjasama dengan gubernur, bupati dan walikota untuk melaksanakan operasi pasar manakala terjadi kenaikan harga bahan-bahan pokok yang tidak wajar.
Dalam situasi semacam ini, petani komoditas pertanian mendapatkan untung setahun sekali. SBY menganggapnya sebagai rezeki. “Tetapi kalau bahan-bahan pokok harus kita pastikan kenaikannya tidak terlalu tinggi, yang wajar-wajar saja. Untuk petani kita, terutama yang di daerah-daerah, anggaplah itu sesuatu yang terjadi dan tidak seberapa, tetapi memberikan tambahan penghasilan bagi petani kita,” kata SBY.
Kepala Negara juga menyinggung mengenai pelaksanaan ibadah haji tahun 1431 H. Presiden mengatakan ongkos naik haji (ONH) sudah dapat diturunkan tanpa mengurangi kualitas penyelenggaraan. “Laksanakan persiapan yang baik, baik di tingkat Jakarta, tingkat daerah, tempat-tempat embarkasi dan debarkasi sampai apa yang akan dilaksanakan di tanah suci, baik di Makkah, Madinah, ataupun kota-kota lain seperti Mina dan Arafah,” Presiden menambahkan.
Mengenai isu yang baru-baru ini terjadi, yaitu tumpahan minyak dari perusahaan minyak di Montara, Australia, yang dampaknya memasuki perairan Indonesia khususnya di NTT, SBY telah menginstruksikan agar negosiasi yang tengah berlangsung dengan perusahaan minyak tersebut untuk lebih diintensifkan. “Laksanakan kerjasama sebaik-baiknya dengan pemerintah Australia dan pemerintah Thailand,” ujar SBY.
Presiden mengharapkan mayarakat yang terkena dampak tumpahan minyak mendapat bantuan. “Karena tumpuhan minyak ini berdampak terhadap usaha mereka sehari-hari seprti perikanan,” ujar SBY.
Pilkada yang sering berakhir atau disertai dengan anarki, kerusakan-kerusakan, kekerasan-kekerasan, juga turut mendapat perhatian Presiden. “Kalau tidak bisa kita hentikan, berarti langkah mundur terhadap demokrasi dan pemilu yang susungguhnya berjalan baik selama ini,” SBY menegaskan.
Kepala Negara meminta perhatian para gubernur dan para menteri terkait, aparat kepolisisan, untuk melakukan pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya kekerasan. Manakala terjadi kekerasan, SBY meminta jangan hanya rakyat yang barangkali di provokasi yang diberi hukuman, tapi juga mereka-mereka yang bertanggung jawab.
“Siapa tahu kandidatnya dan tim suksesnya terlibat dalam menggerakkan aksi-aksi kekerasan seperti itu. Ini tidak baik karena korbannya lagi-lagi rakyat. Apa yang sudah susah payah kita bangun kemudian kita rusak begitu saja,” Presiden menandaskan.
Selain semua hal tersebut, Presiden SBY meminta kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk tetap melakukan pemeliharaan lingkungan hutan.(yun/presidenri)

