Lombok Sumbawa Online

Jual Link/Bandwidth IIX & Internasional Utk Seluruh Indonesia
call. 081-3535-70001 www.andira.co.id
Google
 
Wednesday, 4 August 2010 • TOKOH

MATARAM - Pagi itu, Amaq Raya sedang mencari kayu-kayu ranting berbekal parang di pinggiran dusun. Ketika didatangi rumahnya, hanya ada dua orang anaknya Zaenal dan Yanti yang menunggu rumah, ukuran tujuh kali lima meter tanpa plesteran tembok dan kamar-kamarnya belum ada pintunya. Sewaktu dijemput Zaenal dan diberitahu : ‘’Dengan lek bale.’’ Amaq Raya pun balik bertanya : ‘’Ape arak dengan lek bale.’’ Percakapan dalam bahasa Sasak tersebut, Zaenal mengatakan ada orang di rumah. Maka Amaq Raya pun balik bertanya ada apa orang itu di rumah itu. ‘’Saya terbayanglah. Mudahan lah ada rezeki. Mungkin ada petunjuk Allah, jadi pulang dengan semakin gairah. Karena ada harapan buat saya begitu,’’ kata Amaq Raya yang nama aslinya Saleh, usia diperkirakan lebih 87 tahun.

Rumahnya, dibangun tahun 2007 ketika memperoleh bantuan dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang waktu itu memberikan santunan kepada para seniman senior selama enam bulan masing-masing Rp1.250.000 dipotong pajak. Sehingga bersih santunan yang diterima Rp7 juta. Dulu rumahnya bukan permanen berdinding anyaman bambu. Ditempati bersama istri dan anaknya Zaenal (bekas tki di Malaysia), Yanti (bekas tkw di Malaysia) Ayuningsih (sedang di Arab Saudi).

Ia sakit-sakitan selama lima tahun terakhir ini. ‘’Saya sakit maag. Tidak bisa bekerja keras lagi,’’ ujarnya seraya bercerita keadaan hidupnya yang miskin. Istrinya, yang ketujuh atau yang terakhir Salmah, 65 tahun, yang memberinya sembilan orang anak tiga diantaranya meninggal, tidak berada di rumah karena sedang bekerja di tanah orang sekitar 0,5 kilometer dari rumah mencari batu apung. ‘’Saya susah. Ada yang nangis di rumah minta uang atau minta makan,’’ ucapnya yang mengaku hanya bisa makan nasi dicampur garam.

Selama ini, Amaq Raya – Amaq adalah panggilan yang berarti bapak dari Raya anak pertama dari istri ketiganya, kini sering diminta melatih dan menjadi tempat bertanya para pelajar, mahasiswa bahkan pengajar yang ingin mendalami kesenian tradisional Lenek yang dikuasainya.

Amaq Raya adalah seniman tua asal Dusun Dasan Baru Desa Lenek Daya Kecamatan aikmel di Kabupaten Lombok Timur. Ia seniman serba bisa memainkan seni tradisional Sasak berupa Gandrung, Tandak Geruk, Janger, atau drama : sejarah Selaparang, Cupak Grantang yang merupakan kesenian dari Lenek yang paling terkenal.

Semua kesenian tradisional bisa dimainkannya. Diantaranya adalah membaca lontar Monyeh beraksara Jejawan dari kesenian Cepung yang disampaikan dengan tembang, Pakon, wayang, Gandrung, Kecimol, Tandak Geruk yang paling rumit di Lenek yang sejak 500 tahun sudah ada.

Kemampuan berkesenian, Amaq Raya mengatakan dilakukan sebelum merdeka sudah bisa menari dan tabuh. Segala tari dan tabuhan musik bisa dimainkan. Melatih cupak grantangnya. Tari Prabunya, Tari Patihnya. ‘’Sehingga saya banyak mengarang tari-tari itu,’’ katanya. Pertama dikarang tari burung Gagak Mandi dan tari Pidata sekitar tahun 1956. Tari Gagak Mandi diciptakannya saat setelah melihat burung gagak sedang mandi di Jum’at pagi. Ketika itu dirinya masih bujang ketika masih berdiam di rumah asalnya di Desa Lenek Tengah. Di Kokok (sungai) Sinta ada lebih 30an burung gagak itu mandi. ‘’Bermacam tingkah. Saya pikir bagaimana bisa menjadi tari,’’ ujarnya. Waktu itu kebetulan saya memimpin teman dalam perkumpulan kesenian tanpa nama dan dirinya menguasai kendang.

Kemudian ia bertutur bahwa dirinya dulu belajar dari pewayangan, cara-cara orang mengobati yang kemudian menghasilkan Tari Pakon. ‘’Itu saya pelajari,’’ katanya. Ia belajar memainkan gamelan itu juga dari wayang. Pakon itu kesenian tradisional tapi bisa untuk mengobati orang sakit.

Karena kesohorannya berkesenian tradisional, tidak mengherankan kalau kemudian, pada tahun 1988 diundang main di Di tiga provinsi Tokyo, Kagawa, Omea di Jepang. Yang ditampilkannya adalah Kecimol, Perisaian, Gandrung dan Cepung.

Sekitar tiga jam mendengar ia berbicara masalah kesenian tradisional Sasak yang dimainkan terkesan ia yang suka tari dan gending ini mengungkapkan isi hatinya melalui tembang dan sesekali menggerakkan tangan seolah menari. Misalnya ia melantunkan lagunya Pade Boreh. ‘’Pade boreh, lendang mamben lendang lendang mamben. Birun memangan dayan desa. Gin laik da nimbang angen piran bae gin da reda,’’ Ini ungkapan isi hati terhadap seorang yang dipuja. Artinya, kenapa terlalu lama menimbang-nimbang hatinya. Kapan mau sama saya. Ada pula Tari Pidata yang melambangkan roh suci. Pembukaan kepada Allah yang mengangkat tangannya menyembah, kepada nabi Muhammad, dan kemudian ditempatkan di dadanya (hati) menghormat kepada sesama umat. Adapun ciptaan Amaq Raya lainnya adalah Gending Semar, Gending Kembang Jagung.

Selama ini, ia sudah beberapa kali main memenuhi undangan Istana Presiden baik semasa Soekarno maupun Soeharto. Anaknya, Ayuningsih sudah main di Istana Merdeka zaman Presiden Soeharto tahun 1990 sewaktu main kecimol. Kini, Ayuningsih mengadu nasib sebagai TKW di Saudi Arabia.

Tiga orang anaknya memiliki bakat kesenian yang ditularkan Amaq Raya yang memiliki tujuh orang cucu. Yang lain, Zaenal bisa main gamelan : saron (gamelan sederhana), mugah (gamelan besar) dan menari di dalam Tandak Geruk – tradisional yang paling laku di Lombok. Bukan untuk pesta saja tetapi juga untuk hajatan. Anak terkecilnya Muliani, juga bisa menari gandrung tetapi karena sudah menikah, hanya memenuhi acara pemerintah saja.

Amaq Raya sadar bahwa usianya yang sudah lanjut menjadi dilupakan. Namun bukan berarti tidak berharap adanya bantuan hidup. ‘’Saya ingin memperoleh bantuan hidup,’’ ujarnya. Katanya, sebenarnya ia tidak boleh dilupakan karena sudah membantu dan membela kesenian mati-matian sejak zaman Presiden Soekarno.

Sudah hampir lima tahun terakhir ini ia dikatakan tidak pernah tampil karena ketiadaan alat gamelan yang disebutnya sudah rusak. Harganya untuk alat yang sederhana, memerlukan dana Rp15 juta. ‘’Kalau pakaian masih ada,’’ ucapnya.

Kepala Taman Budaya Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Agus Fathurrahman menjelaskan bahwa Amaq Raya, merupakan pejuang hidup yang memperjuangkan hidupnya tidak hanya berkesenian tetapi juga memikul batu. ‘’Amaq Raya guru saya dalam hidup,’’ kata Agus. Ia dinilai konsisten memperjuangkan keluarganya.

Menurut Agus lagi, berbeda dengan sosok lain kehidupannya Amaq Raya yang miskin tidak ada artinya dibanding kegiatan mengembangkan kehidupannya dalam tradisi kesenian yang dikembangkan. Semua jenis kesenian Sasak mulai dari tari, alat musik dan tembang bisa dilakukannya. Bisa main Cepung, menari, main gendang, ‘’Beliau itu sebagai seorang pekerja di bidang tradisi. Dia sebagai sosok yang tabah,’’ ujarnya, kemudian. Seharusnya, sebagai pekerja seni yang memiliki jasa, semestinya pemerintah peduli terhadap kehidupan ekonominya. Namun, Agus sebagai kepala Taman Budaya NTB merasa tidak berhak berbicara.

Agus Fathurrahman menyebut Amaq Raya memiliki karya cipta tari Tari Pakon untuk pengobatan orang sakit, yang merupakan ekspresi kepada orang yang diobati menggunakan mantra dalam konteks kesenian.

Karena itu, Agus Fathrrahman yang mengaku secara pribadi memiliki kedekatan dengan Amaq Raya, berharap para seniman Sasak lainnya mau belajar kehidupan Amaq Raya agar tidak menjadi manja, terlalu banyak menuntut.

Seorang warga Pancor Lombok Timur Med Moegni, 62 tahun, mengatakan Amaq Raya salah dilahirkan. ‘’Salah tempatnya lahir,’’ katanya. Kalau saja dilahirkan di Bali, ia akan sebesar Made Bandem atau kalau di Yogyakarta kebesaran namanya seperti Bagong Kussudiardjo. Med yang pensiunan juru bicara Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, mengatakan Amaq Raya memiliki kedekatan sahabat dengan Made Bandem. ‘’Kalau di lokalan sini, Amaq Raya hanya seorang tukang bata merah,’’ ucapnya. Med Moegni pun memuji Amaq Raya walaupun sebagai seorang seniman tetapi taat beragama.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB Mahdi Muhammad mengatakan sudah berupaya melakukakn pelestarian kebudayaan lokal dengan memberikan kesempatan berkarya dalam arti tampil manggung di pentas obyek wisata yang pendanaannya sebesar Rp5 juta. ‘’Bantuan itu bukan kepada maestronya, tetapi karyanya,’’ ucap Mahdi. Di Taman Budaya NTB terjadwal dilangsungkan pementasan seni tradisi. ‘’Itu fasilitasi yang diberikan untuk pembinaan,’’ kata Mahdi. Sedang dianggarkan dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan 2010, program pelatihan, pengadaan alat kesenian dan bantuan kehidupan tokoh seni.

Lalu Agus Fathurrahman menyatakan pentas yang diselenggarakan ditempatnya, 15 kali dalam setahun dibiiayai Rp3,5 juta merupakan apresiasi bukan sebagai pembinaan. Ia menyebutkan, apabila masyarakat tidak mendukung dipastikan kesenian tradisional itu akan punah. ‘’Fungsional atau tidak,’’ ujarnya. Disebutnya, yang fungsional seperti Gendang Beliq, Wayang, Kepembayunan, Macapat, Tembang, pada locus tertentu menjadi atraktif. Yang dikawatirkan punah adalah tergantung perspektif. Contohnya : Wayang Orang, Cepung dan Genggong.

Sejak awal, Agus Fathurrahman prihatin terhadap nasib kehidupan seniman tradisional Sasak Lombok. Kehidupan sehari-harinya ada yang bekerja sebagai tukang pecah batu. Bahkan ada yang mati tanpa mendapatkan perhatian yang layak. Berbeda dengan atlit olahraga yang setiap kemenangannya memperoleh imbalan hadiah berlimpah.

Disebutnya pemusik Cepung dan tari Mamiq Ambar atau Amaq Rais yang nafkahnya tergantung pekerjaannya sebagai tukang pecah batu dan Amaq Marni dari Sapit Lombok Timur yang meninggal tanpa diketahui pelaku seni di Mataram. ”Padahal mereka itu maestro seni tradisional di sini. Tapi tidak banyak masyarakat yang mengenalnya. Apa yang bisa kita lakukan,” ujarnya.

Menurut Agus Fathurrahman, pola pagelaran yang disediakan ditempatnya berupa panggung terbuka dan pagelaran apresiatif di ruang tertutup. ”Kami mefasilitasi eksperimentasi seni tradisi dengan pendekatan estetika modern,” katanya. Disebutnya, bahwa Taman Budaya NTB bertindak sebagai laboratorium dan etalase kesenian. (* )

4 Comments »
  • kalo bukan Kita,,siapa lage,,

    Comment by ozzer — August 4, 2010 @ 10:12 am

  • Luaaarr biasa,,,,

    sepertinya kalau kita harapkan bantuan dari pemerintah,,,ya ,,,jauh panggang dari api dah. Kalau memang betul kita peduli terhadap seni, mending kita gotong royong aja sesuai dengan kemampuan masing - masing dan tidak mesti berupa materi. Saat ini Desa Lenek Daya sedang mencoba membangkitkan kembali kesenian tradiional asli Lombok dan salah satunya adalah Tari Pakon,salah satu maha karya Amaq Raya. Kalo mau hayo kita kumpul - kumpul di lokasi, dusun Ramban Biak, Desa Lenek Daye, klo perlu dirumahnya amaq Raye, dalam rangka membangkitkan kembali kesenian Asli Lombok

    Wassalam
    Husein

    Comment by Husein — November 2, 2011 @ 3:28 pm

  • Andai saja saya konglomerat, atau penerima warisan Alm. Dane Rahil Lenek (pemilik tanah ratusan hektar pada zamannya), saya yakin kehidupan para seniman Lenek tidak akan seperti sekarang ini, Amaq Raya dengan groupnya bisa melanglang buana sampai ke Bali, Istana Negara dan negeri Jepang berkat perhatian dan binaan dari Ketua dan pendiri Yayasan Amal Saleh Dana Dharma Lenek yaitu : Alm. Bpk. Dane Rahil salah seorang pewaris tahta desa Lenek ( baca Sejarah Desa Lenek di www.sasak.org ), tokoh adat, budayawan sasak lombok yang pernah hidup dalam 3 zaman, semasa Dane Rahil kesenian Lenek sangat maju dan terkenal seantero gumi sasak lombok, sejak zaman Bung Karno sampai zaman pak Harto.
    Terlepas dari itu semua benar yang dikatakan oleh sdr Husein, jika kita benar-benar orang yang peduli terhadap budaya dan seniman sasak lombok, mari kita bangun kembali keagungan budaya sasak tersebut. Insyaallah akan diselenggarakan pagelaran tari pakon di desa lenek ramban biak setiap bulan purnama di Sanggar Seni Ne Lio Loang Gali, Desa Lenek Ramban Biak, mumpung sang Maestro Tari Amaq Raya masih ada sebagai proses regenerasi

    Wassalam

    Putra Desa Lenek Tulen

    Comment by Budi Darma — November 14, 2011 @ 3:52 pm

  • Tari Pakon yang pernah saya saksikan langsung di Sanggar Seni Ne Lio / Gde Semu di Desa Ramban Biak Lenek daya merupakan seni tari yang mungkin satu2nya di Lombok dan perlu sekali di lestarikan dan di promosikan, agar lebih di kenal di mancanegara yang tentunya akan menarik banyak wisatawan datang berkunjung ke Desa Lenek.
    Pak Husen dan Pak Budi Darma salam hormat dari saya, anda berdua adalah orang yang sangat peduli dengan perkembangan dan kelestarian budaya dan pariwisata di daerah kita khususnya Lombok. sukses

    Comment by Irwan — July 28, 2014 @ 10:18 am

  • Leave a comment








    Recent Comments
    » SENIMAN TUA AMAQ RAYA YANG BUTUH BANTUAN HIDUP
    07/28/2014 10:18 am | 4 Comments
    » Bandara Internasional Lombok Rawan Pencurian
    07/16/2014 11:43 am | 1 Comment
    » Pungutan Tunjangan Sertifikasi Guru Di Lombok Timur Dan Mataram
    07/15/2014 05:30 am | 3 Comments
    » PEMKAB LOMBOK BARAT IZINKAN TAMBANG EMAS DI SEKOTONG
    06/29/2014 11:36 am | 34 Comments
    » Mengenal CC Forwani Di Desa Dangiang
    06/23/2014 01:21 pm | 1 Comment
    Lomboknews.com - 2012 - Media Lombok - Developed by andiraweb.com