MATARAM – Penambangan emas oleh ribuan penduduk di tujuh desa se Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat sudah diambang rawan. Penggunaan air raksa untuk prosesing gelondongan batuan tambang tidak mudah terurai membahayakan jika lepas ke udara kemudian turun kembali melalui hujan menempel daun, ke sungai dan dimakan binatang.
Ancaman perusakan lingkungan tersebut dapat mematikan manusia dan binatang yang terkena air raksa tersebut. Sebab volume penggunaan air raksanya pun cukup tinggi, setiap gelondongan prosesing emas menggunakan air raksa sebanyak satu botol minuman suplemen Kratingdaeng.
Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Nusa Tenggara Barat Eko Bambang Sutedjo mengatakan bahwa meskipun dilakukan penutupan oleh pemerintah daerah, ternyata ada yang membandel. ‘’Praktek pertambangan oleh penduduk tersebut tidak ramah lingkungan. Juga tidak ada tindakan reklamasi,’’ kata Eko, Ahad (2/5) pagi. Selain itu, juga sudah puluhan korban meninggal akibat runtuhnya bukit yang mereka gali hingga kedalaman puluhan meter. Juga korban luka-luka.
Meskipun 16 Desember 2009 lalu Pemerintah Kabupaten Lombok Barat menutup penambangan liar oleh penduduk, karena penduduk akan dilatih menambang yang benar. Namun ribuan orang dari berbagai daerah tetap berdatangan untuk menggali lokasi yang semula dieksplorasi PT Newmont Nusa Tenggara. Karena tidak layak produksi, akhirnya dikembalikan kepada pemerintah yang selanjutnya memberikan izin kepada PT Indotan.
Setelah pulau Lombok ditutup untuk penambangan galian B, sesuai peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah, maka Indotan pun kehilangan peluang untuk mengeksploitasinya. Sejak itu, penduduk beramai-ramai menggali lokasi yang pernah dieksplorasi oleh kedua perusahaan tambang tadi. Di sana ada 8.000 hektar luasa wilayah yang memiliki potensi tambang emas.
Setelah dilakukan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah itu, penambangan dibuka lagi namun masih perlu pengkajian yang mendalam. Eko menyangkal bahwa lokasi Sekotong tersebut sebagai wilayah pertambangan rakyat. NTB pun masih sedang menyusun wilayah pertambangan. ‘’Usulan wilayah pertambangan se NTB ini akan kami sampaikan ke gubernur, Senin besok,’’ ujarnya.(*)

