MATARAM – 12 persen dari sejumlah 894.403 pasangan usia subur (PUS) di Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak terlayani Keluarga Berencana (KB). Jumlah tersebut lebih tinggi dari angka rata-rata nasional sebanyak delapan persen. Penyebabnya adalah sulitnya akses yang bisa dijangkau petugas KB walaupun mereka menginginkan tidak memiliki anak lagi.
Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 2007, total fertility rate (TFR) atau tingkat kesuburan di NTB juga bertambah menjadi 2,8. Pada pada tahun 2003 angkanya 2,6. Sedangkan angka rata-rata nasional 2,1. Kesemuanya ini disebabkan oleh
Sekretaris Kantor Wilayah Badan Koordinasi Keluarga Berencana NTB M Djamiluddin mengatakan kesemua penyebab peningkatan tersebut adalah banyaknya PUS yang masih produktif. ‘’Program keluarga berencana harus digiatkan lagi, Sekarang nyaris tidak terdengar,’’ katanya memberikan penjelasan kepada wartawan di kantor Gubernur NTB, Senin (8/3) siang.
Selama ini BKKBN NTB mencatat sebanyak 30 persen PUS adalah kalangan pra sejahtera. Kepada mereka sudah diberlakukan pelayanan gratis alat kontrasepsi berupa pil, implant, spiral, suntikan dan MOP untuk pria yang berasal dari dana APBN.(*)


