MATARAM – Laju kerusakan hutan di Nusa Tenggara Barat (NTB) selama setahun mencapai 20 ribu hektar. Luas lahan kritis sangat besar, 507.178 hektar atau 20 persen dari keseluruhan luas wilayah. Berkurangnya mata air selama 26 tahun terakhir mencapai 74,36 persen atau dari sejumlah 702 titik mata air tersisa 180 titik. 18 daerah aliran sungai dalam kondisi kritis dan sangat kritis dengan tingkat erosi 85,52 persen di pulau Lombok dan 80.991 persen di pulau Sumbawa.
Empat DAS di pulau Lombok semuanya bersumber dari Gunung Rinjani yang letaknya sangat curam sehingga kerusakan hutan di pegunungan tersebut sangat berpengaruh. Makanya, tidak ada tawar menawar lagi untuk menyelamatkan Rinjani mengatasi kerusakan alam tersebut. Cara menahan laju erosi adalah dengan melaksanakan penanaman pohon. Sedangkan di pulau Sumbawa ada 16 DAS yang masing-masing kawasan barat, tengah dan timur tidak berhubungan. Misalnya kawasan Selalu Legini di Sumbawa bagian Barat mengalami kerusakan maka kawasan Tambora di tengah dan Hutan Parado atau Sangyang di timur tidak terpengaruh. Hanya saja di pulau Sumbawa, tipikal sungainya sempit namun dalam.
Parahnya kerusakan lingkungan tersebut disampaikan oleh Kordinator Tim Kelompok Kerja LECI (Lombok As Ecocity Island) -SUEZ (Sumbawa Ecozone) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB Lalu Bayu Windia, Sabtu (20/2) siang. Ia berbicara di sela rapat kerja antar kepala Bappeda Kabupaten-Kota se NTB. ‘’Erosi yang terjadi laju sekali,’’ kata Lalu Bayu Windia yang juga Kepala Bidang Statistik Bappeda NTB.
Prioritas pembangunan NTB 2011, sebagai arah kebijakan pemantapan pelayanan sosial dasar dan peningkatan daya saing, diantara enam item adalah peningkatan kualitas lingkungan dan optimalisasi pengelolaan sumber daya alam sesuai rencana tata ruang wilayah serta adaptasi perubahan iklim.
Diantara kegiatan prioritas hasil Forum Satuan Kerja Perangkat Daerah yang berlangsung 26-28 Januari 2010 lalu, di bidang perencanaan tata ruang dan prasarana antara lain akan meakukan pengembangan kinerja pengelolaan air dan air limbah, merehabilitasi hutan dan lahan.
Konsep pendekatan LECI dan SUEZ untuk penyusunan rencana tata ruang wilayah (RTRW) NTB disusun oleh Pemerintah Provinsi NTB bekerja sama dengan WWF (World Wife Fund for Nature). Alasan pemisahan konsep LECI-SUEZ di dua daerah pulau tersebut mengingat perbedaan karakter dalam konteks ekosistem. Kalau di pulau Lombok ada empat daerah aliran sungai (DAS) yang bersumber dari satu titik yaitu Gunung Rinjani. Apabila Rinjani rusak, maka rusak semua DAS tersebut.(*/infomedia)

