Lombok Sumbawa Online

Jual Link/Bandwidth IIX & Internasional Utk Seluruh Indonesia
call. 081-3535-70001 www.andira.co.id
Google
 
Wednesday, 27 January 2010 • OLAHRAGA

Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia, KONI, Rita Subowo mengatakan sistem pembinaan olahraga harus disatukan kembali di bawah KONI. Pemerintah diminta tidak mencampuri urusan teknis pembinaan.

“Sebaiknya dikembalikan seperti semula (di bawah KONI), dan tidak diberikan kepada institusi di luar Undang-Undang,” kata Rita Subowo, 61 tahun, kepada BBC Indonesia di kantornya.

Rita mengungkapkan hal ini menyusul polemik terkait kehadiran Program Atlet Andalan, PAL, yang didirikan Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga. PAL yang dilahirkan saat Adhyaksa Dault menjawab Menpora, dianggap sebagai jawaban atas merosotnya pretasi olahraga Indonesia di kawasan regional.

Rita Subowo khawatir campur tangan Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga dalam pembinaan atlet, dapat merusak sistem pembinaan yang telah berjalan.

Untuk itulah, Rita meminta agar KONI kembali diberi kepercayaan penuh untuk mengkoordinasi sistem pembinaan olahraga, yang memang menjadi hak dan kewajiban pihaknya.

Saat SEA Games digelar di Laos lalu, menurut Rita, sebagian atlet Indonesia dibiayai secara penuh melalui PAL, tetapi atlet lainnya tidak dibiayai sama-sekali.

“Ini ‘kan tidak fair. (Uangnya) bukan untuk KONI, tetapi untuk atletnya. Sekarang bayangkan, sekarang sama-sama berangkat ke Laos, yang satu harus bayar sendiri, yang satu full dibiayai. Padahal kalau dapat medali, ‘kan semua untuk merah putih,” jelas Rita Subowo.

Dalam jumpa pers di Vientiane, Laos, usai penutupan SEA Games Laos lalu, Menegpora Andi Malarangeng mengatakan akan mengembalikan peran koordinasi pembinaan olahraga kepada KONI.

Program Atlet Andalan, PAL, menurut Andi tetap dipertahankan, namun pelaksanaannya harus disatukan dalam sistem pembinaan KONI.

“Kami Kantor Menegpora akan berada di belakang dan bersikap Tut Wuri Handayani,” kata Andi Malarangeng, saat itu.

Kelemahan Pembinaan

Sekarang bayangkan, sekarang sama-sama berangkat ke Laos, yang satu harus bayar sendiri, yang satu full dibiayai. Padahal kalau dapat medali kan semua untuk merah putih.
Rita Subowo
Meskipun demikian, Rita Subowo mengaku para pembina cabang olahraga tidak luput dari kekurangan-kekurangan.

Dia memberi contoh sejumlah pengurus besar (PB) cabang olahraga, yang disebutnya “tidak aktif membina”.

“Ada PB yang memang luar biasa (kerjanya). Tapi ada PB yang tidak menerapkan good governance, tidak ada transparansi tidak ada. Kemajuan iptek tak diterapkan. Mungkin pimpinannya tak ada waktu, mungkin juga ada konflik di sana-sini. Jadi banyak hal yang menyebabkan seperti itu,” ungkap Rita.

Kenyataan inilah yang kemudian disebut sebagai penyebab merosotnya prestasi olahraga Indonesia.

Namun Rita tidak setuju jika situasi seperti ini lantas membuat Menegpora ikut campur dalam sistem pembinaan, dengan mendirikan PAL.

“Tapi sistem yang sudah baik jangan dibuang, karena kontinuitas dari sistem ini sudah baik,” tegasnya seraya menjanjikan untuk melakukan perbaikan-perbaikan ke dalam.

Hasil SEA Games Laos

Indonesia berada di urutan 3 SEA Games Laos, dengan meraih 43 emas, jauh di bawah Thailand dan Vietnam.

Rita mengaku puas dengan hasil ini karena sesuai target. Namun, “sangat terasa sekali Indonesia bersusah payah untuk mencapai peringkat tiga di SEA Games Laos,” kata Rita Subowo.

Meski merasa puas, Rita mengatakan ada sejumlah cabang olahraga yang tidak sesuai target.

Belakangan Indonesia tidak pernah berada di urutan pertama SEA Games
Rita memperkirakan, menurunnya prestasi Indonesia di SEA Games setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir, “akibat regenerasi yang terlambat”.

Dalam sepuluh tahun terakhir, prestasi olahraga di kawasan Asia Tenggara, menurun. Semula Indonesia hampir selalu berada di urutan pertama perokehan medali emas, namun belakangan selalu berada di urutan kedua, ketiga dan bahkan pernah di urutan lima.

Faktor lainnya adalah terbatasnya sarana dan prasarana olahraga di sekolah-sekolah. “Padahal pembinaan olahraga di ddunia dimulai dari sekolah-sekolah,” katanya.

Tidak memadai
Kenyataan mulai berkurangnya anak muda menyukai olahraga, juga disebutnya sebagai faktor penyebab lainnya.

“Sekarang ada kekhawatiran bahwa kaum muda tidak suka lagi berolahraga. Sekarang ini sulit mendapatklan atlet. Mereka suka main komputer, main TV, atau games,” papar Rita yang mengaku mencintai olahraga sejak muda.

Ditanya apa penyebabnya, Rita menyebut sejumlah faktor, diantaranya adalah “tidak ada sarana olahraga yang memadai, kurangnya informasi bahwa olahraga itu menyehatkan.”

Untuk itulah, Rita Subowo mengatakan, KONI ingin menyebarkan nilai-nilai luhur olahraga kepada masyarakat, agar kesukaan terhadap olahraga kembali bisa tumbuh.

“Bahwa dengan berolahraga, kita menjadi bisa sportif, sehat, mandiri dan dipaksa berpendidikan yang tinggi, serta membuat tahu apa diinginkan di kemudian hari,” tandasnya.

Ini ditekankan Rita karena semuanya akan berujung kepada “kesejahteraan atlet olahraga”.

“Karena sekarang ini proteksi untuk atlit masih kurang, karena ketidaktahuan kita maupun lemahnya pembinaan terhadap mereka,” kata Rita.

Semua masalah ini disebut Rita sebagai penyebab olahraga Indonesia tertinggal jauh sekarang.

“Ini terlihat dari sangat keroposnya lapisan bawah olahraga kita. Sangat kurang, dan bahkan boleh dikatakan tidak ada. Hanya ada beberapa cabang olahraga yang membina di lapisan bawahnya,” kata Rita, yang lahir di Yogyakarta, tahun 1948.

Akibat kekurangan atlet ini, menurut Rita, tidak semua cabang olahraga dengan nomor-nomor tertentu bisa diikuti Indonesia. “Karena tidak ada atlitnya,” kata Rita, agak masygul.

“Bayangkan (cabang olahraga)atletik, itu ada berapa puluh medali. Menembak berapa medali. Tapi kita tak bisa mengirim atlet pada nomor-nomor tertentu, karena atletnya tidak ada. Kalau ada, (atletnya) sudah tua,” ungkap Rita yang dulu pernah dipercaya membina atlet bola volly indoor ini.

Libatkan kampus

Indonesia seharusnya baru menjadi tuan rumah tahun 2013. Tetapi karena Singapura tidak siap, maka kita yang ditunjuk dan pemerintah menyatakan siap.
Rita Subowo
Kampus disebut Rita Subowo sebagai tempat pembinaan atlet di usia produktif.

Namun sayangnya, banyak perguruan tinggi tidak punya sarana olahraga yang ideal serta minimnya kegiatan olahraga berskala nasional di sana.

Ke depan Rita menginginkan agar pemerintah dapat melibatkan kampus dalam kegiatan olahraga berskala nasional, serta memperbaiki sarana olahraganya.

“Dan kalau ada multi event seperti PON, saya minta digelar di kampus-kampus. Karena kesinambungan pembinaan akan terlihat nanti,” tegasnya.

Rita Subowo kemudian menjelaskan kenapa Indonesia dipilih sebagai tuan rumah SEA Games 2011.

“Indonesia seharusnya baru menjadi tuan rumah tahun 2013. Tetapi karena Singapura tidak siap, maka kita yang ditunjuk dan pemerintah menyatakan siap,” ungkapnya.

Namun Indonesia meminta agar tempat penyelenggaraan SEA Games dibagi di empat wilayah terpisah.

“Karena kita tidak punya satu komplek olahraga yang bisa menggelar semua cabang,” jelas Rita Subowo.

Selain Jawa Tengah, Jawa Barat yang dirancang sebagai tuan rumah maka demi kemudahan transportasi, DKI Jakarta juga dipilih. “Belakangan Sumatera Selatan menyatakan siap sebagai tuan rumah pula,” katanya.

Rita mengakui keputusan ini sempat diprotes oleh negara-negara lainnya. Intinya mereka mempertanyakan jarak yang jauh antar wilayah tersebut.

“Tapi kita menjanjikan untuk membantu pada masalah transportasinya,” katanya.

Juara Umum

Sebagai tuan rumah SEA Games 2011, Indonesia menargetkan juara umum.

Peluang ini terbuka lebar, karena menurutnya sebagai tuan rumah “selalu akan diuntungkan”.

“Kita tahu lebih dulu, dan kita menyiapkan cabang olahraga yang kita mampu, plus nomor-nomor unggulan, yang memang menjadi prerogatif tuan rumah,” paparnya.

Meskipun begitu Rita mengatakan target juara umum SEA Games 2011 tidaklah mudah. “Akan berat karena kita akan menghadapi Thailand dan Vietnam yang sudah solid,” tandas Rita serius.

Kepada BBC Indonesia, Rita lantas menceritakan kenapa dia memilih terjun di dunia olahraga. “Ini karena kecintaan saya pada olahraga serta dukungan seluruh keluarga,” ungkapnya.

Dengan dilatari rasa cinta itu, Rita mengaku tidak terlalu memikirkan kepenatan yang terkadang menderanya. “Semuanya dalam bentuk pengabdian, dan bagaimana memanjukan olahraga Indonesia,” katanya seraya tertawa, sekaligus menutup pembicaraan.(*)

No Comments »

No comments yet.

Leave a comment








Lomboknews.com - 2007 - Media Lombok - Developed by andiraweb.com