MATARAM – Produksi kacang tanah di Nusa Tenggara Barat (NTB) baru sebanyak 45.000 ton atau baru memenuhi 60 persen dari kebutuhan pabrik pengolahan kacang tanah di Lombok. Kecilnya produktivitas kacang tanah di NTB tersebut disebabkan kurangnya pasokan dan varietas benih yang baik, kurangnya akses petani ke permodalan dan pasar, serta kurangnya dukungan riset pertanian yang memadai.
Sedangkan Indonesia merupakan lima besar negara penghasil kacang tanah di dunia. Produksi kacang tanah indonesia mencapai 1.475.000 ton setiap tahun, dengan tingkat konsumsi mencapai 4,1 kilogram per kapita. Data Badan Pusat Statistik tahun 2008 menunjukkan tingkat produktifitas kacang tanah di Indonesia hanya mencapai 1,19 ton per hektar.
Saat ini, penanaman kacang tanah di NTB masih lebh banyak dilakukan oleh petani dengan luas kepemilikan lahan berkisar antara 0,4 dan 0,5 hektar. Kalau tingkat produktivitas hanya sebesar 1,2 ton per hektar, sehingga rata-rata produksi kacang tanah pertahun baru mencapai 45.000 ton atau sama dengan enam persen dari total produksi nasional, dengan luas areal penanaman mencapai 35.000 hektar.
Masih rendahnya produktivitas kacang tanah di NTB tersebut dikemukakan oleh Sekretaris Daerah NTB Abdul Malik mewakili Gubernur NTB Muhammad Zainul Madjdi, sewaktu hadir pada tatap muka petani dan gelar teknologi Smallholder Agribusiness Development Initiative (SADI). ‘’Masih ada peluang sekaligus tantangan untuk mengembangkan tanaman kacang tanah,’’ kata Malik di Pringgarata Lombok Tengah, Selasa (13/10).
Selain memiliki nilai jual ekonomi yang menjanjikan, usaha budi daya kacang tanah ini juga memberikan “efek domino” terhadap peningkatan sosial ekonomi masyarakat terutama dalam pendapatan dan penyerapan tenaga kerja serta penanggulangan pengangguran. dari penelitian yang dilakukan oleh Smallholder Agribusiness Development Initiative (SADI). Setiap 10 hektar lahan yang digunakan untuk memproduksi kacang tanah akan mampu melibatkan sekitar 200.000 tenaga kerja di NTB mulai dari hulu sampai hilir.(*)

