MATARAM - Akibat penggunaan pestisida yang berlebihan, lahan tanam tembakau di Lombok mengalami kerusakan lingkungan. Indikasinya, berkurangnya kodok yang menjadi pemangsa serangga karena hilangnya serangga yang diakibatkan terkontaminasi pestisida. Saat ini. sedang dilakukan penelitian di kawasan petanaman tembakau yang diduga mengalami penurunan kwalitas akibat rusaknya lingkungan lahan.
Peneliti Keanekaragaman Hayati di Universitas Mataram Tarmizi menjelaskan adanya kerusakan lingkungan tersebut setelah merosotnya kwalitas hasil tanaman daun tembakau Virginia di Kabupaten Lombok Timur. Rusaknya lingkungan mengganggu tanah, tanaman dan mikro organisme. Indikatornya kodok. Kalau lingkungannya baik, makan berapa pun banyaknya serangga maka kodok tetap berkembang. ‘’Yang paling mudah indikator memakai kodok,’’ katanya, sewaktu memaparkan kegiatannya di sela pemberian keterangan pers menjelang Seminar Penelitian di Universitas Mataram, Jum’at (25/9).
Penelitian kerusakan lahan dilakukan mengevaluasi keragaman biota pada delapan titik di desa-desa Kutaraja, Rarang,. Surabaya Lepak. Menurutnya, apabila seekor kodok memakan 10 ekor serangga yang setiap ekornya terkontaminasi pestisida sebanyak 10 ppm maka berarti 100 ppm endapan bahan aktif beracun dalam tubuhnya. Oleh karena itu menjadi terganggu sistem perkembangan metabolisme sehingga keturunannya tidak berkembang.
Sebenanrya, dijelaskan oleh Tarmizi yang sehari-hari pengajar di Fakultas Pertanian Universitas Mataram, untuk membangun kembali kekuatan alam bisa menggunakan jerami padi yang ditinggalkan di sawah dengan cara memasukkan ke dalam tanah setelah dipotong-potong terlebih dahulu. Hanya saja, sulit mengubah perilaku para petani yang lebih memilih cara mudah. ‘’Padahal pupuk itu hanya memiliki unsur N saja,’’ ujarnya.
Nusa Tenggara Barat merupakan daerah penghasil tembakau Virginia terbesar di Indonesia, mencapai 66 persen dari produksi nasional dan telah menyumbang devisa sekitar Rp9,7 triliun.
Dalam tiga tahun terakhir, produksi rata rata NTB : Tahun 2006 mencapai 31.507 ton dengan areal 19.873 ha, Tahun 2007 mencapai 33.046 ton dengan areal 17.124 ha, dan Tahun 2008 mencapai 46.824 ton dengan areal 22.824 ha.
Kegiatan pertembakauan tersebut melibatkan 14.000 kk dan menghidupi sekitar 70.000 orang. Ada 15 perusahaan pemasok tembakau untuk keperluan pabrik rokok mulai dari Sampoerna, Gudang Garam, Jarum, Bentoel dan British American Tobacco. supriyantho khafid/lomboknews)


