Lombok Sumbawa Online

Jual Link/Bandwidth IIX & Internasional Utk Seluruh Indonesia
call. 081-3535-70001 www.andira.co.id
Google
 
Tuesday, 21 July 2009 • NASIONAL

MATARAM – Sejarah abad ke-20 memberi pelajaran kepada kita bahwa perubahan ke arah pembebasan manusia terjadi bukan karena terorisme. Melainkan melalui revolusi atau kalau tidak, melalui proses pergantian secara demokratis.Kedua-duanya membutuhkan sebuah kerja politik. Artinya kedua-duanya memerlukan kerja untuk memobilisasi dukungan orang banyak, dengan cara memberikan tujuan yang dapat menggerakkan legitimasi.

Terorisme yang sekarang banyak terjadi, terutama yang menggunakan dalih agama, praktis mengabaikan kerja politik itu. Para teroris tidak pernah berhasil dapat dukungan yang luas karena imbauannya bersifat eksklusif, kurang bersifat universal, kurang menggugah siapa saja dan dimana sana.

Goenawan Mohamad mengungkapkan pernyataan tersebut dalam orasi kebudayaan berjudul : Teror, Demokrasi, Kebudayaan pada pembukaan Seminar Pendidikan Seni Nusantara ‘’Menengok Ulang Multikulturalisme dalam Konteks Indonesia, yang berlangsung di Graha Bhakti Praja di dalam kompleks Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat, Selasa (21/7-2009) pagi tadi.

Menurutnya, terorisme yang seperti sekarang dilakukan oleh para kader Noordin Top lebih merupakan ekspresi mereka yang diluar atau di tepi bangunan masyarakat – anasir sosial yang sulit bergerak ke tengah, bukan saja karena tekanan pemerintah, tapi karena tujuannya memang hanya untuk ‘’Islam’’ dalam versi mereka sendiri. Dan ketika tidak ada hasilnya dalam usaha perubahan sosial dan politik, teror itu makin nampak seperti teror untuk teror semata. ‘’Bukan untuk agenda politik yang lebih luas,’’ ujarnya.

Goenawan Mohammad mengawalinya dengan peristiwa bom yang terjadi di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, Jum’at (17/7) pagi lalu. Yang membunuh sembilan jiwa dan melukai puluhan orang. ‘’Kita kaget dan terhenyak, gugup dan marah,’’ katanya. Presiden mengucapkan statemen keras yang keras dan emosional, yang terasa kehilangan fokus dan tergesa-gesa. Banyak orang kemudian mengecamnya.

Tapi dalam emosi itu, Presiden tidak sendiri. Kemarin siang, kata Goenawan, bersama puluhan orang ke dekat tempat bom diledakkan di sekitar Hotel Ritz Carlton dan JW Marriot, di pagar yang membatasi lokasi peledakkan dengan jalan deretan karangan kembang duka cita diletakkan. Di sebuah sudut, seorang reporter televisi Australia melaporkan bela sungkawa itu ke studionya : ‘’Indonesia is in pain…’’

Agaknya, ia benar. Indonesia is in pain. ‘’Kita merasakan sakit yang menusuk. Tak sulit untuk mengatakan sebabnya. Hanya beberapa hari sebelumnya kita merasa lega bahwa pemilihan umum 2009 berjalan aman, prosesnya tak sempurna, memang, tapi hampir di semua tempat orang datang, berkumpul dan pergi dengan tenang. Persaingan berlangsung sengit dan terbuka, tapi keutuhan bangsa tidak terganggu. Tak tampak fanatisme yang menyala-nyala kepada satu pilihan – sebuah indikasi bahwa bangsa ini tahu, pemilihan umum bukanlah kesempatan terakhir untuk menentukan langkah ke surga atau ke neraka.

Setelah 10 tahun demokrasi dipulihkan kembali, kita dengan lebih kalem mengerti bahwa seperti dalam pertandingan bola akan ada yang akan kalah dan yang akan menang, dan seperti dalam olahraga, yang kalah tak harus selamanya kalah, yang menang tak mesti selalu menang. ‘’Ada saat untuk mengatur negara dan ada saat untuk beroperasi. Ada tempat di dalam pemerintahan dan ada tempat di luarnya,’’ ucap Goenawan.(supriyantho khafid/lomboknews)

No Comments »

No comments yet.

Leave a comment








Lomboknews.com - 2007 - Media Lombok - Developed by andiraweb.com