MATARAM – 120an porter pendakian gunung Rinjani yang tergabung dalam Koperasi Rinjani Information Center di Sembalun Kabupaten Lombok Timur mengeluhkan kehilangan nafkah sejak gunung tersebut meletus, 2 Mei lalu. Sebenarnya banyak wisatawan petualangan alam yang ingin mendaki namun dilarang karena dkawatirkan keselamatannya. Karenanya, untuk mengatasinya, para pendaki gunung akan diperkenankan hingga Plawangan – jarak terdekat – dan tidak boleh menginap.
Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Nusa Tenggara Barat Heryadi Rachmad menjelaskannya kepada Tempo melalui telepon kepada Tempo setelah berkunjung ke Pos Pengamatan Gunung Rinjani di Sembalun, Rabu (17/6-2009) sore. ‘’Saya kasihan dengan porter. Mereka bersedia memenuhi ketentuan batas pendakian,’’ ujarnya mengaku menerima keluhan yang disampaikan oleh Ketua Koperasi Rinjani Information Center Diralam.
Biasanya, sehari para porter yang mendampingi pendaki Rinjani memperoleh bayaran Rp80 ribu per orang dan lama pendakian tiga hari. Karena larangan pendakian akibat letusan Rinjani, hotel pun kehilangan tamu yang menginap sebelum dan sesudah pendakian.
Terus meningkat sejak 6 Juni lalu, selama sehari sejak Selasa (16/6) hingga Rabu (17/6) pagi tadi, Rinjani yang memiliki ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut masih meletus 2.592 kali terdiri dari letusan tremor, harmonis, gempa letusan, gempa hembusan, gempa vulkanik, gempa tektonik. Tinggi semburan hingga 200 meter. Menurut penuturan Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Rinjani di Sembalun Mutahar, setiap lima menit terjadi 9-11 kali letusan, ‘’Letusan yang tercatat pada seismoter terjadi terus menerus tanpa henti,’’ katanya.(supriyantho khafid/lomboknews)

