Lombok Sumbawa Online

Jual Link/Bandwidth IIX & Internasional Utk Seluruh Indonesia
call. 081-3535-70001 www.andira.co.id
Google
 
Thursday, 7 May 2009 • PENDIDIKAN

MATARAM – Pemerintah Indonesia diminta untuk meningkatkan kembali perhatiannya terhadap industri pertanian. Sebab, pendidikan di bidang pertanian dan peternakan cenderung merosot peminatnya akibat kurang terbukanya peluang pasar tenaga kerja untuk sarjana pertanian dan peternakan. Padahal lebih 20 tahun lalu, Fakultas Pertanian dan Fakultas Peternakan di Universitas Mataram menjadi primadona pilihan di pendidikan tinggi. Sekarang ini, tamatan SMA dan Madrasah Aliyah cenderung mengejar target untuk menjadi guru karena besarnya lowongan.

Ketua Lembaga Penelitian Universitas Mataram Prof.Dr.Ir.Yusuf Ahyar Sutaryono MSc mengemukakannya, Rabu (6/5-2009) sore kemarin. ‘’Akibat tidak majunya industri pertanian, kesannya pertanian dan peternakan itu sangat tradisional,’’ katanya. Petani dinilai hanya berurusan dengan cangkul dan beternak ayam saja dan para tamatan SMA dan Madrasah atau SMK berangan-angan ingin mendapatkan pekerjaan di kantoran. Berbeda dengan negara maju yang menjadikan industri pertanian dan peternakan bernilai produksi tinggi.

Di lingkungan Universitas Mataram, Fakultas Pertanian dan Fakultas Peternakan sebenarnya memiliki sumber daya manusia – dosen pengajar – terdepan jenjang pendidikannya. Ada 40 orang dari 160 orang dosen di Fakultas Pertanian yang telah bergelar doktor dan 30 dari 90 orang dosen Fakultas Peternakan yang sudah bergelar doktor. Sedangkan di fakultas lainnya rata-rata baru empat orang.

Yusuf Ahyar Sutaryono mengemukakan lebih rendahnya peminat Fakutas Pertanian dan Fakultas Peternakan dibanding Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, sewaktu menjelaskan besarnya program penelitian yang tersedia di Universitas Mataram. Sebagian besar para peneliti yang aktif sekitar 200 orang berasal dari kedua fakultas tersebut dibanding jumlah keseluruhan dosen Universitas Mataram sebanyak 930 orang. Setiap tahun, ada lebih 200 judul penelitian yang dibiayai oleh berbagai lembaga di luar Universitas Mataram senilai Rp10an miliar.(supriyantho khafid/lomboknews)

1 Comment »
  • Sudah saatnya kita mengubah paradigma lama, bahwa sektor pertanian masih sangat menjanjikan bila digarap dengan baik. Namun, sayang kebijakan makro pembangunan pertanian masih sangat konvensional. Contohnya, pola penyampaian informasi kepada petani kita masih sangat rendah. Partisipasi para penyuluh dlm mendedikasikan pengetahuan dan ilmunya, untuk saat ini lebur dalam kontradiksi “pesan sponsor” industri pupuk dan pestisida.

    Bagaimana nasib PERTANIAN kita bila faktanya demikian???

    salam,
    syaf

    Comment by syaf — May 13, 2009 @ 1:31 pm

  • Leave a comment








    Lomboknews.com - 2007 - Media Lombok - Developed by andiraweb.com