MATARAM – Penderita penyakit malaria di Nusa Tenggara Barat (NTB) terus meningkat selama dua tahun terakhir ini. Kalau Tahun 2007 lalu terdapat 90.842 orang atau 21,3 per seribu penduduk maka setahun terakhir 2008 jumlahnya 103.154 orang atau 23,7 per seribu penduduk. Terbanyak di daratan pulau Sumbawa akibat meluasnya sarang nyamuk Anopheles yang berada di lingkungan tambak yang terbengkalau dan pembabatan hutan.
Sekretaris Daerah NTB Abdul Malik mengemukakannya selesai upacara peringatan Hari Malaria se Dunia ke-2 yang berlangsung di kantor Dinas Kesehatan NTB, Senin (27/4-2009) pagi. ‘’NTB menjadi daerah endemis malaria dan merata di seluruh kabupaten,’’ katanya didampingi Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Lingkungan Dinas Kesehatan NTB Ida Bagus Jelantik.
Kejadian luar biasa malaria pernah terjadi April 2007 diderita oleh 474 orang – diantaranya lima orang mati, penduduk di Desa Perigi Kecamatan Swela Kabupaten Lombok Timur. Dan Oktober 2007 diderita oleh 139 orang – 12 orang diantaranya mati, di Desa Bungin Kecamatan Alas Kabupaten Sumbawa. Sedangkan pada bulan Januari 2008, sebanyak 303 orang – diantaranya lima orang mati, di Desa Soromandi Kecamatan Donggo Kabupaten Bima.
Sebagai daerah tujuan wisata, menurutnya, NTB perlu mewaspadai malaria untuk mencegah kekawatiran calon wisatawan mancanegara. Resor wisata menjadi perhatian khusus penanganannya. Lembaga asing Global Fund sejak Maret 2008 sampai Februari 2009 sudah menyediakan dana Rp7,054 miliar membantu pelatihan 995 orang kader yang tersebar di 730 Pos Malaria desa, 128 orang tenaga mikroskopis, 120 orang dokter, 120 orang bidan dan 128 orang petugas surveilans.(supriyantho khafid/lomboknews)

