MATARAM – Di Nusa Tenggara Barat (NTB), utamanya di sentra nelayan di Kecamatan Sape Kabupaten Bima, ikan kecil-kecil seperti ikan teri atau pencaran lebih banyak terbuang tercecer dimakan ayam atau dijadikan pakan ternak. Bahkan, pameo di kalangan masyarakat bahwa anak-anak tidak boleh diberikan lauk ikan yang banyak karena dikawatirkan menyebabkan cacingan. Hanya ikan untuk komoditi ekspor seperti tuna, lobster, cakalang yang mereka perhitungkan memiliki nilai ekonomi.
Padahal kekurangan gizi balita akibat kekurangan gizi dan menderita gizi buruk yang disebabkan kekurangan protein yang banyak terdapat di dalam sumber makanan yang berasal dari ikan. Kurangnya energi protein tersebut disebabkan masyarakat kurang gemar mengkonsumsi ikan.
Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Madjdi mengatakan terbuangnya ikan dan dijadikannya pakan ternak tersebut tidak hanya di Kabupaten Bima saja tetapi juga di Kabupaten Dompu. ‘’Mengatasi kondisi ini, saya mengajak untuk proaktif memasyarakatkan gemar makan ikan,’’ katanya, sewaktu meresmikan Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan NTB sekaligus diulangnya Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan, Sabtu (4/4) pagi.
Produksi perikanan NTB dinyatakan masih rendah 245.486,9 ton dan produksi ikan olahanhanya 21.799,9 ton. Secara riil hasil olahan produk perikanan masih didominasi skala tradisional terutama berupa ikan asin dan pindang.
NTB memiliki potensi lestari sumber daya perikanan tangkap sebesar 129.863 ton setahun dan yang telah dimanfaatkan baru 77 persen atau 99.605,5 ton. Sedangkan potensi produksi perikanan budi daya – laut, air payau dan air tawar mencapai 943.790 tonn setahun tetapi realisasi produksi 2008 hanya mencapai 143.113,9 ton atau hanya sekitar 15,16 persen.(supriyantho khafid/lomboknews)

