MATARAM - Sebulan terakhir, Januari 2009, inflasi gabungan di kota Mataram dan Bima mencapai 0,61 persen. Tetapi laju inflasi Januari 2009 terhadap Januari 2008 mencapai 11,78 persen. Padahal secara nasional, dalam posisi deflasi 0,61 persen.
Selama lima tahun terakhir Inflasi di kota Mataram saja memang terus meningkat.Kalau inflasi setahun, 2003, baru b1,82 persen terus tinggi pada tahun 2004 (6,61 persen, 2005 (17,72), 2006 (4,17), 2007 (8,76), 2008 inflasi gabungan Mataram dan Bima (13,29).
Inflasi yang tinggi di Mataram bulan Januari 2009 tersebut disebabkan bahan makanan, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, perumahan, air, listrik,gas, bahan bakar, sandang, kesehatan, pendidikan, rekreasi dan olahraga. Hanya transpor, komunikasi dan jasa keuangan saja yang dalam keadaan deflasi (-) 2,30 persen. ”Ini warning kepada NTB,” kata Kepala Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat (NTB) Mariadi Mardian dalam paparan bulannya, Senin (2/2) sore.
Adapun inflasi yang terjadi di 66 kota se Indonesia, tercatat 34 kota mengalami inflasi dan 32 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi di Manokwari (3,84), terendah Batam (0,01). Deflasi tertinggi di Manado (1,35) dan terendah di Madiun (0,01).
Menurut Mariadi Mardian, penyebab deflasi di Mataram adalah turunnya harga oli (0,67), bensin (9,57), solar (9,40) dan mobil (0,23). Di Bima, deflasi yang terjadi disebabkan turunnya harga bensin (9,57), solar (9,46), transportasi antar kota antar provinsi (7,3) dan angkutan di dalam kota (3,36).(supriyantho khafid/lomboknews)

