MATARAM – Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (Kapolda NTB) Brigjen Surya Iskandar memerintahkan Kepala Kepolisian Resort (Resort) Bima mengambil tindakan tegas terhadap pelaku pertikaian antar warga Desa Ngali dan Desa Renda di Kabupaten Bima, Senin (19/1) sore kemarin. ‘’Situasinya sementara terkendali. Pelaku kerusuhan saya minta ditindak,’’ kata Surya Iskandar kepada Tempo, Selasa (20/1) pagi sewaktu ditemui di gedung DPRD NTB.
Menurutnya, untuk menjaga ketertibannya, ia sudah memerintahkan dua peleton kesatuan Brimob kota Bima dan Kabupaten Dompu mendukung pengamanannya.
Pertikaian antar warga dua desa bertetangga di Kecamatan Belo Kabupaten Bima tersebut mulai terjadi pukul 11.30 Waktu Indonesia Tengah (WITA). Sekitar pukul 16.00 WITA, seorang purnawirawan TNI AD Letkol Anas Malik yang berasal dari Desa Ngali yang hendak pulang melalui Desa Renda menjadi sasaran penyerangan warga menggunakan senjata tajam sehingga mengalami luka parah di punggung, tangan dan kaki. Seorang warga Renda Fathullah yang kakinya terkena tembakan senjata rakitan milik penduduk akhirnya meninggal.
Korban lainnya asal Desa Ngali adalah Umar, 18 tahun, pelajar SMA yang terkena panah di hidungnya. Sedangkan dari Desa Renda, M Ali, 30 tahun, terkena tembakan di bagian dada sebelah kanan. Korban lainnya, Ibnu (22) terkena anak panah di atas hidung berikut Anwar (22) mengalami luka pada bagian paha, keduanya adalah warga desa Ngali dan kini dirawat di Puskesmas Ngali.
Pertikaian antar dua desa tersebut berawal dari penganiayaan terhadap seorang warga Desa Ngali dibacok menggunakan senjata tajam oleh warga Desa Renda. Satu jam kemudian kembali salah seorang warga Ngali dianiaya oleh warga Desa Renda di Desa Renda. Tiga jam kemudian mantan ketua Dewan Pimpinan Desa (DPD) Desa Ngali dilempar olah warga Desa Renda hingga mengalami patah kaki. Terakhir, Ahad (18/1) malam, seorang anggota Polisi Pamong Praja bernama Sunardi (37) warga Desa Renda yang bertugas jaga di kantor Camat Palibelo dihadang oleh sekelompok orang di Desa Ngali mengalami sabetan senjata tajam.(supriyantho khafid/lomboknews)

