MATARAM – Jumlah korban akibat terowongan tambang liar longsor di Kabupaten Lombok Barat Nusa Tenggara Barat (NTB) bertambah menjadi enam orang meninggal dan delapan orang lainnya berhasil dievakuasi dalam kondisi luka berat dan ringan.
Korban tewas yang berhasil dievakuasi belakangan adalah A. Haris (24) dan Pongoh(30) keduanya adalah warga Desa Sekotong. Sebelumnya, empat korban tewas yang dievakuasi sebelumnya adalah Said Muhsin (48) warga Desa Sekotong Tengah, H. Taufiq (49) warga Dusun Sekaro, Ubud (30) dan Kasam (30) keduanya adalah warga desa Sekaro Kecamatan Sekotong.
Adapun delapan orang yang dinyatakan selamat dan telah berhasil dievakuasi adalah, Suhadi(24), Sadran (27), Heryadi(30), Sukri (27), (Luka berat) sedangkan Amaq Tisa, Amaq Uik, Herman, Opik (luka ringan).
Para korban dua orang meninggal dan tiga orang mengalami luka yang berhasil dievakuasi oleh warga secara satu persatu sejak Ahad (18/1) sore. Namun diperkirakan masih terdapat sejumlah korban lainnya yang belum bisa dievakuasi.
Terhambatnya evakuasi yang dilakukan oleh tim penolong dikarenakan alat berat berupa eksavator yang diharapkan dapat membantu menggeser batu besar ternyata mengalami kesulitan untuk menembus hingga ke lokasi kejadian karena struktur tanah yang miring bebatuan serta sangat sulit untuk dilalui.
Karena sulitnya komunikasi, sampai Senin (19/1) sore ini belum diperoleh konfirmasi perkembangan di tempat kejadian. Camat Sekotong Lalu. Moh. Guntur Gagarin, Kordinator Lapangan SAR Daerah NTB Putu Arga Sujarwadi, Kapolsek Sekotong Iptu H. Mustakim maupun Danramil Sekotong Niyatno sulit untuk dihubungi karena semuanya sedang berada di lokasi.
Kepala Dinas Pertambangan NTB Heryadi menyatakan tidak yakin masih ada korban yang tersisa sekitar 12 orang yang tertimbun longsoran karena didasarkan pada luas terowongan yang diameternya berkisar 1,5 meter serta kedalaman 5 meter.(supriyantho khafid/lomboknews)

