MATARAM – Kinerja perekonomian Nusa Tenggara Barat (NTB) dari tahun ke tahun cenderung mengalami perbaikan dilihat dari perkembangan PDRB baik Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) maupun Atas Dasar Harga Konstan tahun 2000 (ADHK 2000). PDRB menggambarkan kemampuan suatu daerah dalam mengelola sumber daya alam dan faktor-faktor produksi lainnya dalam menciptakan nilai tambah. PDRB merupakan jumlah dari nilai tambah yang diciptakan oleh seluruh aktivitas perekonomian di suatu daerah.
Pertumbuhan PDRB Provinsi NTB pada tahun 2007 adalah sebesar 4,89 persen (termasuk Sub Sektor Pertambangan Non Migas) dan 5,68 persen (tidak termasuk Sub Sektor Pertambangan Non Migas). Pada tahun 2006 PDRB Provinsi NTB tidak termasuk pada mencapai Rp. 18.977,32 milyar, meningkat menjadi Rp. 21.401,43 milyar pada tahun 2007.
Pertumbuhan PDRB Provinsi NTB pada tahun 2007 lebih tinggi dibandingkan tahun 2006 yang mencapai 4,93 persen. Semua sektor mengalami pertumbuhan positif pada tahun 2007. Sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi pada tahun 2007 adalah Sekor Industri Pengolahan dengan pertumbuhan sebesar 9,96 persen yang sebelumnya pada tahun 2006 hanya tumbuh sebesar 2,82 persen.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah NTB Rosyadi H Sayuti mengemukakan dalam gambaran umum Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) NTB bahwa sektor pertanian yang memiliki peranan terbesar diluar Sub Sektor Pertambangan Non Migas mengalami pertumbuhan sebesar 2,90 persen. Jika dilihat menurut sub sektor, sub sektor yang memiliki pertumbuhan tertinggi pada sektor pertanian adalah sub sektor kehutanan dengan pertumbuhan 6,27 persen dan yang terendah adalah sub sektor tanaman bahan makanan yang hanya tumbuh sebesar 1,50 persen.
Namun demikian yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi NTB pada tahun 2007 adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor pengangkutan dan komunikasi. Kedua sektor tersebut masing-masing memberikan kontribusi 18,46 persen dan 11,48 persen terhadap perekonomian NTB, dan mengalami pertumbuhan sebesar 7,99 persen dan 7,15 persen.
Sebelumnya, Rosyadi mengemukakan NTB mempunyai posisi strategis karena berada pada lintas perhubungan Banda Aceh - Atambua yang secara ekonomis menguntungkan. ‘’Merupakan lintas perdagangan Surabaya – Makasar. Sebagai daerah lintas wisata antara Pulau Bali, Komodo dan Toraja (segitiga emas pariwisata Indonesia),’’ ujarnya.
PDRB perkapita diperoleh dengan cara membagi PDRB ADHB dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Pada tahun 2003, PDRB perkapita adalah Rp 3,3 juta. Kemudian pada tahun 2004, 2005, 2006 dan 2007 meningkat berturut-turut menjadi Rp 3,6 juta, Rp 4,1 juta, Rp 4,5 juta dan Rp. 4,9 Juta.
Berdasarkan PDRB ADHK Tahun 2000, pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2007 mengalami pertumbuhan sebesar 5,68 persen lebih tinggi dibanding tahun 2006 sebesar 5,14 persen. Pada tahun 2008 pertumbuhan ekonomi diprediksi dapat mencapai 5,86 persen dengan asumsi adanya kontribusi yang cukup signifikan dengan dimulainya investasi yang berasal dari PT. EMAAR, pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL) dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Berdasarkan indikator PDRB perkapita, pada tahun 2006 tercatat sebesar Rp4.457.584,46 meningkat menjadi Rp. 4.985.784,82 pada tahun 2007, sedangkan PDRB ADHK pada tahun 2006 sebesar Rp 15.602,13 milyar meningkat 4,89 % pada tahun 2007 menjadi Rp 16.365,47 milyar.
Sektor Pertanian yang memiliki peranan kedua setelah sektor pertambangan dan penggalian, pada tahun 2007 tumbuh sebesar 2,90 persen. Apabila sektor pertanian dilihat per sub sektor, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sub sektor kehutanan dengan pertumbuhan sebesar 6,27 persen dan yang terkecil adalah sub sektor tanaman bahan makanan dengan pertumbuhan 1,50 persen. Pertanian pada tahun 2007 sedikit memiliki pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan tahun 2006 yang mencapai 2,88 persen.
Selama lima tahun laju pertumbuhan ekonomi/PDRB Provinsi NTB mengalami fluktuasi searah dengan perkembangan perekonomian nasional dan global. Selain itu, faktor internal yang disebabkan oleh adanya kontraksi beberapa sektor perekonomian menyebabkan terjadinya fluktuasi perkembangan perekonomian.
Fluktuasi pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB tidak terlepas dari pengaruh faktor internal dan eksternal perekonomian nasional maupun global. Faktor internal yang paling menonjol mempengaruhi fluktuasi pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB adalah adanya gerakan produksi dalam jumlah yang besar pada sektor pertambangan non-migas yaitu beroperasinya PT. Newmont Nusa Tenggara (NNT) sejak awal Tahun 2000. Kecenderungan grafik pada Gambar 2.1. terlihat pada Tahun 2004 pengaruh sektor pertambangan non-migas sangat dominan, tetapi sejalan dengan masa produksi berikutnya ternyata mengalami penurunan yang cukup tajam.
Fluktuasi yang besar pada pertumbuhan ekonomi NTB selama periode waktu lima tahun terakhir, ditunjukkan dengan pertumbuhan sekitar 5,41 persen pada Tahun 2003, kemudian turun menjadi 2,19 persen pada Tahun 2006 dan kembali meningkat menjadi 3,16 persen pada Tahun 2007. Hal tersebut menunjukkan adanya kecenderungan telah terjadi masa pemulihan perekonomian daerah Provinsi NTB dan diperkirakan pertumbuhan yang lebih tinggi akan dicapai pada tahun mendatang.(supriyantho khafid/lomboknews)

