Lombok Sumbawa Online

Jual Link/Bandwidth IIX & Internasional Utk Seluruh Indonesia
call. 081-3535-70001 www.andira.co.id
Google
 
Friday, 12 December 2008 • TOKOH

JAKARTA- Ibu Johana Sunarti Nasution, istri Almarhum Jenderal Besar A.H. Nasution, masih tampak segar, cermat, dan cantik dalam usai 85 tahun. Saat peresmian Museum Nasional Jenderal Besar A.H.Nasution, Rabu (3/12) sore di rumahnya di Jl. Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, ia bahkan masih tegar mendampingi Presiden SBY,Ibu Negara dan Wapres Jusuf Kalla.

Kembali menuturkan kronologis terjadinya usaha penculikan almarhum suaminya ketika memandu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono berkeliling Museum Nasional DR. A.H. Nasution terletak di Jl. Teuku Umar No. 40, Menteng, Jakarta Pusat.

”Ruangan-ruangan ini, menjadi saksi-saksi bisu yang menuturkan banyak hal tentang masa lampau,” kata Johana Sunarti Nasution. Katanya kepada SBY. Tokoh yang akrab dipanggil Bu Nas dan semasa mudanya dengan setia mendampingi perjuangan Pak Nas sejak zaman merebut kemerdekaan hingga akhir hayat sang suami ini, kemudian menuturkan kronologis terjadinya usaha penculikan almarhum suaminya, pada peristiwa Gestapu PKI tahun 1965 .

“Pada tanggal 1 Oktober 1965 pagi, saya mendengar suara tembakan dari luar. Saya kemudian langsung membuka pintu, dan terkejut ketika melihat beberapa anggota Tjakrabirawa sedang berdiri di luar. Pintu saya tutup kembali dan saya kunci,” kata Bu Nas mengawali ceritanya.

Anggota Tjakrabirawa kemudian langsung menuju kamar Pak Nas. Melihat pintu kamar Pak Nas terkunci, anggota Tjakrabirawa tersebut langsung mendobrak pintu tersebut hingga retak. Mendengar kegaduhan di dalam kamar, adik Nasution yang bernama Ibu Mardiah, masuk ke dalam kamar. Ade Irma yang baru bangun, diberikan oleh Bu Nas kepada Ibu Mardiah. Karena tidak memahami situasi, Ibu Mardiah membuka pintu yag baru saja dikunci. Begitu pintu dibuka, berondongan peluru dilepaskan oleh anggota Tjakrabirawa dan mengenai Ade Irma.

“Saat kejadian itu, saya langsung berkata kepada Pak Nas. Pak, kamu mau dibunuh, cepat selamatkan diri. Kemudian saya bersama dengan Pak Nas langsung menuju samping rumah. Di samping rumah tersebut, saya menerima Ade Irma yang sudah berlumuran darah. Begitu melihat Ade Irma luka parah, Pak Nas yang sudah di atas pagar berniat hendak turun lagi untuk memberikan pertolongan dan perlawanan. Tapi saya minta pada Pak Nas untuk melarikan diri. Selamatkan diri! Selamatkan diri! Denk niet aan ons!. Jangan pikirkan kami,” cerita Bu Nas dengan mata yang berkaca-kaca.

Itulah sepenggal kisah yang diceritakan oleh Bu Nas ketika memandu Presiden SBY dan Ibu Ani berkeliling di dalam museum. Wanita yang lahir di Surabaya 1 November 1923 ini, masih dapat berjalan tanpa bantuan orang dan masih dapat berbicara dengan lancar.

Bu Nas berharap, dengan dibukanya museum ini dapat menjadi mata air yang mengalirkan kiprah, memberikan arah, mengajak kebijakan dalam bertindak, berkelana untuk menemukan makna bagi generasi muda negeri ini. Perhatian dan semangat Bu Nas terhadap upaya untuk mendidik generasi muda bangsa, tidak pernah kunjung padam. Kegiatan yang ditekuninya di berbagai organisasi kemasyarakatan, terutama yang mengurusi masalah anak-anak, dimulai sejak tidak lagi menjabat sebagai Ketua Persit Kartika Chandra, suatu organisasi istri ABRI Angkatan Darat. Organisasi pertama yang digelutinya Badan Pembina Panti-Panti Asuhan

Atas aktivitasnya selama ini, Ibu Nas menerima Satya Lencana Kebaktian Sosial RI 1975. Dua tahun kemudian, gelar Centro Culturale Adelaide, Restori, diterimanya dari Italia. Juga ia menerima Paul Harris Award dari Rotary Club, 1980, dan hadiah Magsaysay dari Filipina, 1981. Tahun berikutnya, ia menerima hadiah Helena de Montigny Stichting dari Negeri Belanda.

Senang berbusana kebaya Jawa atau baju kurung Minangkabau, Ibu Nas tetap main tenis. Olah raga itulah yang mempertemukannya dengan perwira muda Abdul Haris Nasution di Bandung, tahun 1947. Kini Bu Nas dan Pak Nasution dikarunia dua orang putri, Hendriyanti Sahara yang lahir pada 1952 dan Ade Irma Suryani yang lahir pada tahun 1960 dan gugur pada 6 Oktober 1965 akibat keganasan PKI. Semangat Pak Nas, ada pada diri Bu Nas.(mit-presidensby-info)

No Comments »

No comments yet.

Leave a comment








Recent Comments
» Golkar NTB Menggugat Komisi Informasi Provinsi Sejumlah Rp 1,053 Miliar
04/18/2014 11:46 am | 1 Comment
» MEMPERPANJANG SIM LEWAT MOBIL KELILING
04/17/2014 11:40 am | 4 Comments
» Pungutan Tunjangan Sertifikasi Guru Di Lombok Timur Dan Mataram
04/13/2014 02:50 am | 1 Comment
» Teluk Ekas Lombok Penghasil Tunggal Bibit Udang Lobster
04/11/2014 09:40 am | 1 Comment
» Pemprov NTB Mutasi 8 Pejabat
04/10/2014 08:29 pm | 2 Comments
Lomboknews.com - 2012 - Media Lombok - Developed by andiraweb.com