MATARAM – Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Madjdi mengakui daerahnya sebagai salah satu provinsi yang tergolong kritis kawasan hutannya. Degradasi lahannya telah mencapai ambang yang cukup mengkawatirkan.
Saat ini luas lahan kritis di NTB telah mencapai 509.225,75 hektar atau 25,09 persen dari luas daratan. Dari luas tersebut dirinci seluas 237.592,94 hektar terletak di dalam kawasan hutan (11,61 persen) dan seluas 271.632,81 hektar diluar kawasan hutan (13,4 persen).
Dampak lingkungan yang telah dirasakan antara lain berkurangnya sumber mata air dari sekitar 750 titik pada lima tahun yang lalu, kini tinggal 340 titik mata air saja. Akibatnya, frekuensi bencana terus meningkat seperti kekeringan, puso, banjir, tanah longsor dan wabah penyakit lain sebagai akibat terganggunya keseimbangan ekologi hutan.
Zainul Madjidi mengemukakan bahwa mengatasi kondisi kekeringan yang kian buruk ini, tentu dibutuhkan komitmen dan upaya sungguh-sungguh untuk menyelamatkan kondisi hutan, tanah dan air dari kerusakan yang lebih luas. ‘’Untuk itulah, kami telah mencanangkan program yang mendukung, yaitu gerakan NTB Hijau,’’ katanya, pagi ini di Mataram.
Upaya terpadu untuk menyelamatkan hutan dan lahan, dilakukan melalui penanaman secara masal dengan jumlah bibit yang disalurkan sebanyak 10,3 juta pohon. Selain itu, didukung gerakan perempuan tanam, tebar dan pelihara pohon untuk ketahanan pangan, serta program ”sabuk hijau” yang dilaksanakan oleh keluarga besar Dinas PU Provinsi dan kabupaten/kota dalam memperingati hari Bhakti PU ke-63, dengan sasaran penanaman 10 ribu pohon di sekitar bendungan/dam atau embung-embung dan sepanjang jalan nasional, provinsi dan kabupaten/kota se-NTB.(supriyantho khafid/lomboknews)

