MATARAM - Sepanjang Kamis (27/11) pagi ini, jajaran Direktorat Jenderal Perhubungan Laut berada di Pelabuhan Penyeberangan Angkutan Sungai Danau Penyeberangan (ASDP) di Lembar Lombok Barat. Mengawali acara dengan apel bersama di lapangan parkir, dipimpin oleh Direktur Jenderal Perhubungan Laut Laksamana Muda Sunaryo, dilakukan pencanangan Kampanye Nasional Keselamatan Pelayaran.
Hadir pula Direktur KPLP Joni Anggaman dan Direktur Perkapalan dan Kelautan Abdul Gani. Ikut mendampingi mereka Kepala Dinas Perhubungan Nusa Tenggara Barat Ahmad Baharuddin dan Administrator Pelabuhan Lilik Hariwanto.
Simulasinya, sebuah kapal feri yang diperankan oleh KMP Putri Gianyar tengah berada di perairan Teluk Labuan Tereng, geladaknya terbakar. Maka upaya mengatasinya pun dilakukan. Pertama dilakukan oleh awak kapal sendiri dan seterusnya bala bantuan dari daratan, utamanya tim kesehatan. Ada keterampilan penanganannya tapi ada juga kelemahannya. ‘’Saya yakin, kalau orang di kapal kurang latihan,’’ kata Sunaryo, selesai simulasi.
Misalnya, cara membalik perahu karet yang tidak mudah, atau sekoci penyelamat korban yang berisi enam orang. ‘’Lha yang ditolong dimana tempatnya,’’ ujarnya. Demikian pula mereka melaju sambil berdiri. Padahal seharusnya duduk supaya tidak jatuh. ‘’Jangan biasakan naik sambir berdiri. Itu nampang,’’ ucapnya menambahkan. Tim kesehatan pun dikoreksinya karena peralatan yang dibawanya menggunakan tas yang lentur yang memudahkan isinya pecah.
Semula acara pencanangan kampanye nasional keselamatan pelayaran ini dilakukan langsung Menteri Perhubungan Jusman Syaffi Djamal. Namun, seperti pekan sebelumnya, pada workshop kepelabuhanan, lagi-lagi batal hadir.
Dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Sunaryo, ia mengatakan faktor pendorong kecelakaan kapal akibat kurangnya kesadaran operator dan awak kapal mematuhi aturan. Bahkan ada kesan hanya mencari keuntungan belaka, mengabaikan keselamatan pelayaran.
Menurutnya, kondisi di lapangan masih memprihatinkan karena ada operator yang belum sepenuhnya melengkapi armadanya dengan peralatan keselamatan sesuai ketentuan. Ironisnya, pengguna jasa pelayaran masih sering mengabaikan terhadap keberadaan peralatan keselamatan tersebut ketika berada di kapal yang akan berlayar. ”Kondisi yang memprihatinkan tersebut merupakan kenyataan yang masih terus berlangsung,” kata Jusman.
Selain itu, ia juga menyebutkan masyarakat pengguna jasa pelayaran masih sering mengabaikan keselamatan pelayaran. Masih sering memaksakan diri naik kapal meskipun sudah penuh dengan tekad asal dapat tempat di atas kapa karena hanya ingin cepat berangkat.(supriyantho khafid/lomboknews)


