MATARAM – Akibat krisis global, pengadaan mesin pembangkit listrik arus laut di perairan Tanjung Menangis Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur gagal terpasang tepat waktu, bulan Nopember 2008 ini. Pengembang teknologi Kobold asal Italia masih meminta tambahan dana pengadaan mesin kepada United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) selaku pemberi bantuan.
Menurut Kepala Sub Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Barat Yusron Hadi, gagal terpasangnya mesin tepat waktu karena adanya fluktuasi harga. Semula untuk mesin tersebut dialokasikan EUR 180.000 namun masih mengalami kekurangan. ‘’UNIDO diminta menambah. Ya akhirnya bisa dibilang macet,’’ kata Yusron yang sudah belajar selama lima bulan di International Center for Science anda High Technology di Trieste Italia.
Direncanakan Kobold di Lombok Timur tersebut untuk memenuhi kebutuhan 138 rumah penduduk di Dusun Ketapang. Ini adalah prototip kedua di dunia setelah dibangun di negeri asalnya Italia. Ditempatkan sekitar 450 meter dari pantai di kedalaman 25 meter menggunakan arus laut 2,75 meter per detik, pengelolaannya akan diserahkan kepala kelompok Cahaya Baru. Setiap rumah akan mendapatkan daya 60an watt untuk tiga titik mata lampu.
Untuk kali pertama di luar negerinya, Italia, teknologi pembangkit listrik tenaga arus laut (PLTAL) Kobold dibangun di perairan Tanjung Menangis Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Teknologi Kobold mengadopsi konsep propeler (baling-baling kapal) yang diputar arus vertikal. Bisa menghasilkan 110 kilowatthour (KWH).
Proyek prototype pertama Kobold di Indonesia ini senilai Rp8 miliar tersebut mulai Januari 2008 lalu, separonya dibiayai UNIDO. Sedangkan selebihnya berasal dari dana Pemerintah Indonesia 30 persen, Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Barat 10 persen dan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur 10 persen.(supriyantho khafid/lomboknews)


