Lombok Sumbawa Online
Jual Fiber Optic Link IIX untuk Seluruh Indonesia
FULL FO sampai pelanggan, cocok untuk korporat, game online, isp dll.
tarif: 1 Mbps=13jt, 2Mbps=15jt, 4Mbps=20jt, 6mbps=26jt, 10Mbps 35jt per-bulan.
kami juga menyediakan bandwidth internasional 10jt/Mbps per-bulan
info lebih lanjut hubungi : 081353570001
Google
 
Saturday, 22 November 2008 • EKONOMI

MATARAM – Sabtu (8/11) sore itu, Hasanudin mengantar istrinya Baiq Muliasih berbelanja di Phoenix Food. Ia mencari dodol nangka dan dodol rumput laut. ‘’Ada teman dari Solo yang akan pulang,’’ kata karyawan Dinas Sosial, Kependudukan dan Catatan Sipil Nusa Tenggara Barat. Demikian juga Masnun, seorang karyawan Departemen Perindustrian dan Perdagangan Nusa Tenggara Barat. Sekantong rumput laut dia bawa pergi bakal buah tangan tamunya yang datang dari Bandung. ‘’Ini makanan khas dari sini. Disukai teman-teman di sana,’’ ujarnya pula.

Ya setiap kota tentu memiliki makanan khas daerahnya. Tidak hanya santapan makan tetapi juga jajanan untuk oleh-oleh. Akhir-akhir ini Mataram, tidak hanya dikenal memiliki masakan pelecing ayam khas Taliwang, kangkung, krupuk kulit sapi, ceker ayam, keripik nangka atau tahu Abian Tubuh untuk oleh-oleh. Sejak lama orang dari luar daerah juga mengenal telur asin dari Lombok atau madu dan minyak Sumbawa.

Kemudian, semakin ramainya kota Mataram didatangi tamu-tamu dinas atau lembaga organisasi yang mengadakan pertemuan di Lombok, bertambah banyak pilihan oleh-oleh yaitu setelah adanya usaha kacang mete karena salah satu perusahaan di Mataram melakukan ekspor bijih mete mentah ke Hongkong, buah tangan yang bisa dibawa pergi ke luar daerah adalah dodol nangka dan dodol rumput laut.

Dodol Lombok ini tidak sulit didapat karena memang tersedia di setiap pertokoan yang ada di Mataram. Rupa-rupa merek Ada kemasan kotak plastik kecil, sedang dan besar tergantung pilihan ketersediaan uangnya. Misalnya dodol merek Sari Utami. Ada yang sekotak kecil isi 10 biji harganya Rp4 ribu atau yang isi 15 biji harganya Rp6 ribu. Untuk produksi Phoenix Store yang dalam bentuk kemasan kotak seberat 180 gram dijual Rp9.000. Juga ada kemasan parsel seharga mulai dari Rp25 ribu dalam kotak paket 12 yang isinya 12 macam diantaranya dodol rumput laut, dodol jahe, dodol, dodol wortel atau tomat seharga Rp70 ribu atau paket toplesan berisi ting ting, dodol sirsak,dodol nangka yang ditambah kacang mete seharga Rp74 ribu.

Kesemuanya itu bisa dikatakan berkembang dari usaha rumah tangga. Seorang pensiunan karyawan Kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Sutami, 62 tahun, dikenal sebagai penyedia dodol nangka di rumahnya yang terletak di tengah kampung di Jalan HOS Cokroaminoto Gang Macan IV Belakang SDN VIII Mataram. ‘’Awalnya untuk memenuhi kebutuhan nafkah sehari-hari,’’ katanya.

Rata-rata seharinya pembelanja dodol nangkanya hingga Rp500 ribu. Seharinya di rumahnya tersebut menghasilkan 125 kotak kecil. Atau 50 kilo nangka yang memerlukan 10 kali adonan kecuali hari minggu libur untuk membersihkan peralatan dapurnya. Karena dodol nangka itu, ia bersama suaminya Syamsuddin Nur bisa menunaikan ibadah haji pada tahun 2001 lalu. Selain bisa merehab rumahnya menjadi tampak bagus seluas 100 meter persegi di atas tanah seluas 5,6 are. Kini langganan dodol aneka buahnya sampai sebuah hotel berbintang di selatan Lombok Tengah.

Phoenix Store bermula dari Suryani istri pengusaha rumput laut pemilik Phoenix Mas Tjahya Setiawan di Jalan Anak Agung Gde Ngurah Cakranegara di Mataram. Menurut Kepala Produksi Phoenix Food Sri Murtini kepada Tempo, produksinya berawal dari penyaluran hobi memasak makanan Suryani yang adik ipar dari Menteri Perdagangan Mari Pangestu yang dimulai Tahun 1999.

Kini, produksinya sudah dilakukan secara modern menggunakan oven agar tahan lama ‘’Sudah tidak mengandalkan matahari untuk mengeringkannya,’’ kata Titin – panggilan Sri Murtini yang didampingi oleh pelaksana pengembangan produk Ary Satriawan. Karenanya, agar lebih menarik dikemas menggunakan kotak yang menarik yang disediakan oleh bagian pengembangan produk. ‘’Kemasannya harus cantik. Tidak hanya isinya yang enak,’’ kata Ary.

Adalah Titin yang menegaskan bahwa produksinya menggunakan tepung rumput laut baik untuk melancarkan pencernaan sebagai unggulan produknya sebagai makanan sehat berkwalitas. Ini mengutip kata-kata Prof Hembing ketika datang ke sana. ‘’Jadi tidak perlu takut kolesterol dibanding kalau makan kacang mete,’’ ucap Titin.

Kini, Phoenix Food Store yang rata-rata didatangi 100an orang pembelanja sudah mengembangkan 21 jenis produk makanan di dua tempat penjualan di bilangan kota Mataram selain juga memiliki tempat penjualan di Bali dan rencananya membuka yang baru di Surabaya.

21 jenis produksi Phoenix Food ini mulai dari manisan, ting ting mete, dodol rumput laut, sirsak, nangka, wortel, jahe, pisang, nanas, labu siam, labu, semangka, mangga, tomat. Sebenarnya ada banyak bentuk kemasan. Untuk pilihan kepentingan, ada bentuk toples, kotak, mika, keranjang. Juga ada minuman dalam bentuk jus rumput laut kemasan gelas plastik.

Dodol Nangka Ibu Sutami
Pada mulanya, 1982-1983 ia ditugasi oleh kepala kantornya untuk mengikuti pameran. Pada peringatan ulang tahun Dharma Wanita, Hari Kartini, Hari Ibu Hari Pendidikan Nasional sewaktu kantornya mengikuti pameran juga mengisi makanan khas daerah. Kemudian sewaktu penyelenggaraan Pertemuan Nasional Pertasikencana (Pertanian, Koperasi dan Keluarga Berencana) 1996, melakukan demo membuat dodol dan rempeyek.

Sampailah kemudian 1998 usahanya dilembagakan dalam badan hukum. Sebagai usaha rumah tangga, perharinya rata-rata mengolah 60 kiloan nangka. Sebungkul nangka biasanya seberat lima kilo. Karena nangka tidak dapat diperoleh sepanjang tahun tergantung musim, maka ia kemudian mengembangkan dodol aneka buah. Setiap tahun ada empat bulan. ‘’Supaya pekerja di rumah tidak ada liburnya. Kasihan karyawan,’’ katanya. Tenaga kerjanya adalah tetangga di sebelah rumah yang kebanyakan istri dari buruh bangunan atau loper koran.

Maka sejak 1999 dibuatlah dodol aneka buah yang merupakan campuran dari sirsak, nagka, nenas, pisang kayu atau pisang marlin - pisang lain tidak cocok untuk dijadikan campuran. Selama itu belum ada yang pernah menyoba membuatnya. ‘’Kalau dodol nangka banyak,’’ ucapnya. Tidak kawatir ditiru, ia yang ringan tangan mengajarkan kepada orang lain, menyebutkan aneka buah yang berwarna coklat namun tidak menggunakan pewarna dan pengawet itu setiap lima kilo buah masing-masing sekilo buah nangka, sirsak, pisang, papaya dan nanas dicampur dengan 1,5 kilo gula. Sedangkan khusus dodol nangka setiap lima kilo nangka dicampur gula sekilo. ‘’Lebih banyak gula pada aneka buah karena sirsak dan nanas itu rasanya asam,’’ ujarnya.

Karena enaknya, walaupun di dalam gang yang ‘’tersembunyi’’ rumahnya jauh dari jalan raya, banyak dicari pembeli untuk oleh-oleh. Tidak sedikit dijadikan tempat praktek kerja lapangan mahasiswa dari Fakultas Ekonomi dan Fakultas Pertanian Universitas Mataram. ‘’Saya ingin semua maju,’’ ucapnya. Maka ditularkan kebisaannya membuat dodol nangka dan aneka buah tersebut, sehingga tidak ada yang dirahasiakan.

Pesanan banyak diterimanya tidak hanya dari Mataram saja, selain menjelang hari raya Idul Fitri. Tetapi juga berasal dari luar daerah seperti Nusa Dua Bali dan Jakarta atau Bandung. Kalau Balik Papan tidak disanggupinya karena lama pengiriman dikawatirkan jamuran. Pengolahan yang dilakukan Sutami secara alami, menjemurnya mengandalkan sinar matahari. Order sering diterimanya bahkan untuk jajan kotakan orang menikah.

Ia menjual tanpa kiloan karena berat produksinya bisa basah dan kering. Ada yang minta setengah basah dan ada yang minta kering. Menjemurnya empat hari. ‘’Yang enak tidak terlalu kering. Aroma segar,’’ katanya. Produksinya walaupun pengolahannya dilakukan sederhanan menggunakan kompor biasa, dan menjemur di bawah sinar matahari bisa tahan lebih dua minggu.

Untuk mendapatkan buah nangka, ia memiliki pekerja yang berada di dusun penghasil nangka di Jelateng Dasan Geria Kecamatan Lingsar Lombok Barat. Selain harganya bisa lebih murah, di sana ditampung dan dibersihkan agar limbahnya dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak sapi. ‘’Kalau di kota kan kulit nangkanya jadi sampah,’’ ucapnya. Sedangkan biji nangkanya oleh pekerjanya dibuat keripik atau sambel goreng.

Kerupuk Kulit Sapi
Untuk melengkapi oleh-oleh perlu dicoba membawa kerupuk kulit. Ini adalah produksi penduduk Seganteng yang dikenal sebagai pemukiman pedagang daging pejagal sapi. Setiap harinya ada 25 ekor sapi yang dipotong para pejagal asal Seganteng tersebut.

Datangilah kampung yang terletak di pinggir timur selatan kota Mataram tersebut. Ada banyak pedagang. Tidak jarang bis perjalanan wisata pun singgah mengantar langsung pembelinya yang datang dari luar daerah.

Salah satunya, milik Haji Samiarto yang sehari-harinya koresponden RCTI. Berusaha bersama saudara iparnya, dikenal sebagai pedagang kerupuk kulit Bunga Mawar. Setiap harinya, tidak kurang dari 30 kilo keadaan setengah matang yang disuplainya kepada orang-orang yang datang, keperluan dibawa keluar daerah. Harga sekilonya Rp70 ribu.

Mereka tentu membeli yang setengah matang yang setiap bijinya berukuran persegi empat 2,5 senti, dan digoreng matang setelah sampai di tujuan. Cara menggorengnya sekali celup empat biji. ‘’Untuk memudahkan membawanya,’’ kata Samiarto. Sebab, apabila yang sudah matang terlalu sulit membawanya karena volumenya besar sehingga memerlukan kemasan besar. Juga mudah layu. Umumnya, mereka membeli dalam kemasan setengah kilo.

Dikatakan oleh Samiarto, kekhasan kerupuk kulit Seganteng adalah tidak mengandung campuran selain hanya garam sehingga tidak menjadi manis seperti kerupuk kulit di daerah lain.(supriyantho khafid/lomboknews)

No Comments »

No comments yet.

Leave a comment








Recent Comments
» DHC MULAI BUKA POSKO RELAWAN PALESTINA
01/08/2009 04:18 am | 1 Comment
» PEMPROP NTB BANTU DANA SKRIPSI 3.000 MAHASISWA
01/07/2009 04:20 pm | 3 Comments
» PERTUMBUHAN PENDERITA HIV/AIDS NTB 5 BESAR NASIONAL
01/06/2009 04:33 pm | 1 Comment
» ENAM TAHUN ANTRIAN CALON JEMAAH HAJI NTB
01/05/2009 02:27 pm | 1 Comment
» GUBERNUR NTB PIMPIN AKSI SOLIDARITAS UNTUK PALESTINA
01/05/2009 01:08 pm | 2 Comments
Lomboknews.com - 2007 - Media Lombok - Developed by andiraweb.com | busby seo challenge