Lombok Sumbawa Online

Jual Link/Bandwidth IIX & Internasional Utk Seluruh Indonesia
call. 081-3535-70001 www.andira.co.id
Google
 
Thursday, 20 November 2008 • NASIONAL

MATARAM – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Madjdi menyatakan kekecewaannya terhadap kebijakan kawasan timur Indonesia (KatimIn) yang identik dengan daerah Sulawesi dan sektiarnya. NTB sering tidak dianggap sebagai wilayah Katimin yang juga memerlukan perhatian pembangunan. Karenanya, untuk lebih memajukan daerahnya selama lima tahun pemerintahannya, ia menggagas dibentuknya kawasan tenggara Indonesia (KateI) bersama Bali dan Nusa Tenggara Timur.

Zainul Madjdi mengemukakan kritisi terhadap Katimin dan gagasan KateI tersebut sewaktu berbicara di depan peserta workshop kepelabuhanan di Indonesia, Kamis (20/11). ‘’KatimIn ternyata identik dengan Sulawasi dan bagian atas Indonesia,’’ katanya. Workshop Kepelabuhan tersebut diselenggarakan oleh Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor (PKSDPL IPB) bekerja sama dengan mitra lembaga asal Jerman Internationale Weiterbildung und Enttwicklung gGmbH (In Went) dan Brementports GmbH & Co KG.

Menurutnya, NTB memiliki peluang yang sangat besar untuk membangun. Pelimpahan wewenang kepada daerah juga memunculkan tantangan. Lima tahun mendatang, sesuai visi misinya Bersaing (beriman dan berdaya saing), diantaranya ingin menumbuhkan ekonomi pedesaan berbasis sumber daya lokal dan mengembangkan investasi dengan mengedepankan prinsip pembangunan berkelanjutan. ‘’Sebagai daya ungkit untuk pembangunan regional,’’ katanya.(supriyantho khafid/lomboknews)

4 Comments »
  • Kebijakan mengenai KTI saat ini juga tidak jelas bentuknya yang dapat dinikmati bagi daerah. Dulu pernah ada didengungkan kebijakan “tax holiday” bagi investasi di KTI namun sampai sekarang tidak terdengar lagi. Sebenarnya issue KTI-KBI itu lebih banyak nuansa politisnya.
    Ketimbang membuat regionalisasi Kawasan Tenggara yang masih banyak kendala struktural maupun fungsionalnya, lebih baik Pak Gubernur mengintensifkan saja ke dalam dulu (penataan wilayah NTB), sembari menciptakan dan memperkuat jaringan ke pusat. Kunci perhatian pusat ke Sulawesi dan sekitarnya selama ini, salah satunya karena banyak orangnya di pusat baik di eksekutif maupun legislatif, termasuk dunia usaha (modal sosial mereka kuat). Barangkali “otonomi khusus” berupa provinsi kepulauan dapat dijadikan bargaining dengan pusat, untuk sekadar mengingatkan bahwa NTB juga penting bagi Indonesia. NTB punya kesamaan kultur dan agak dekat dengan Jawa, sebenarnya ini modal untuk memaksimalkan potensi jaringan tersebut. Bergabung kembali dalam sebuah regionalisasi Nusa Tenggara seperti saat ini, bisa dilihat hasilnya, bahwa yang akan mengambil manfaat terbesar adalah daerah yang mempunyai posisi outlet dan infrastruktur yang sudah lengkap. Saya pikir konsep “daya saing”-nya Pak Gubernur harus juga memperhatikan aspirasi dari Bali dan NTT yang sudah barang tentu berkeinginan juga sebagai yang utama. RTRWN dapat dijadikan tolok ukur mengenai apa yang nasional inginkan di NTB. Selanjutnya pertanyaan yang mengemuka adalah mengapa nasional berkeinginan seperti itu? Jawabannya bisa jadi oleh karena masalah struktural. Untuk memotongnya, maksimalkan Bandara Internasional Lombok (BIL) sebagai motor penggerak pertumbuhan di Lombok, restrukturisasi Kapet Bima di Sumbawa bagian timur untuk menangkap peluang ekonomi Flores bagian barat dan Pulau Sumba, dan mantapkan potensi Sumbawa bagian barat dengan sektor unggulan bebasis sumber daya alam.

    Wasalam

    LHW (Semarang)

    Comment by Lale Hartika Wulan — November 20, 2008 @ 9:53 pm

  • Gubernur NTB menggagas untuk terbentuknya Kawasan Tenggara Indonesia atau KaTeI…? Nggak akan mungkin bisa menandingi KaTimIn. Kayak nggak tau aza….Kan ada orang KaTimIn yang masih berkuasa di Pemerintahan Pusat. Jadi. Apapun yang dibutuhkan untuk kelancaran pembangunan di KaTimIn…..gampang. Dari masalah kecil maupun besar. Ini sih bukan rahasia umum lagi.

    Comment by Insyaf Sadar — November 21, 2008 @ 3:38 am

  • setuju sekali dengan pembentukan Katei (kawasan Tenggara Indonesia) dari dulu kalau kita lihat wilayah timur yang berkembang hanya sulawesi saja… bukan begitu batur2 senamian…?

    Comment by rahmat — November 21, 2008 @ 9:39 am

  • Saya rasa kita tak perlu berkonfrontir atau menyalahkan kawan-kawan dari KTI, yang justru perlu di”tekan” itu adalah pemerintah pusat. Pak JK (dan juga SBY serta Aburizal)selama ini sepertinya cukup “bersahabat” dengan NTB dibandingkan pemerintahan sebelumnya. Terutama bila dilihat dari perhatian untuk investasi2 yang diarahkan, terlepas dari motif politis maupun ekonomi dibelakangnya.
    Selama ini kelemahan NTB adalah kalah bersaing dalam “lobi” di pusat. Kondisi ini tercipta karena kita baru belakangan mengarahkan perhatian ke sana, sehingga kalah cepat dengan kawan-kawan dari NTT maupun Bali yang sedari awal sudah berputar di kisaran pusat pengambilan keputusan di Jakarta. Di samping itu kebijakan implisit-strukturalis dua arah baik dari masalah di pusat maupun masalah internal daerah yang juga menyebabkan NTB sulit berkembang.
    Diperlukan solidaritas yang kuat dari semua stakeholders di NTB atas dasar kebersamaan, menghilangkan segregasi sosial internal terlebih dahulu agar mampu menjadi kekuatan yang diperhatikan. Banyak orang-orang NTB di pusat tapi masih bergerak sendiri2 tidak dalam kelompok yang solid. kecuali beberapa hal yang sudah dirintis oleh jaringan teman-teman dari Bima dan sebagian Samawa, namun itu pun masih untuk konteks lokal masing2.
    Daripada mencari kambing hitam dengan kecewa pada KTI, sebaiknya pembenahan melalui pemantapan/penataan wilayah (inward looking)NTB dilakukan terlebih dahulu sebagai fokus tahun pertama Pak Gubernur.
    Berkembangnya KTI (khususnya Sulsel) karena faktor geografis sebagai penyebar mobilitas yang menghubungkan timur dan barat Indonesia. Di samping itu ada kekuatan permintaan berupa besarnya penduduk, kekuatan finasial, keragaman daerah sebagai pemicu Sulawesi berkembang.
    Sebagai catatan, NTB sebenarnya hanya kalah dari Sulawesi Selatan saja kalau dilihat dari tingkat perkembanga. Sulawesi Utara hampir sama kondisinya dengan NTB. Adapun Papua dan Maluku berkembang karena besarnya transfer fiskal saja.

    Adapun untuk tenggara Indonesia sperti yang dimaksudkan oleh pak Gubernur, peran tersebut sudah diambil oleh Denpasar Bali sebagai pusat penyebaran. Itu didukung oleh RTRWN sebagai pedoman tata ruang. Untuk itulah sekiranya tiga pusat pertumbuhan di NTB, yaitu BIL, Kapet Bima dan Sumbawa bagian barat diintensif dan ekstensifkan pembangunanya maka melalui mekanisme pasar (sebagai pemotong kendala strukturalis tadi) secara otomatis akan bekerja. Jadi kembangkan saja sisi supplai berupa pengembangan infrastruktur dulu pada ketiga pusat pertumbuhan tadi, baru kemudian sisi demandnya akan menguat.

    Wasalam

    LHW (Semarang)

    Comment by Lale Hartika Wulan — November 24, 2008 @ 12:55 am

  • Leave a comment








    Lomboknews.com - 2007 - Media Lombok - Developed by andiraweb.com