MATARAM - Kawasan wisata pulau Gili Trawangan yang dijuluki sebagai kawasan bule di Lombok Barat mulai dihijaukan. Dirintis oleh karyawan Hotel Vila Ombak yang seorang diantara 150 orang karyawan masing-masing bertanggung jawab memelihara dua batang tanaman, mulai Jum’at (31/10) siang tadi bukit yang gundul seluas ditanami 1.000 pohon Trembesi, Mahoni dan Sengon. Teknisnya menggunakan irigasi tetes.
Ada puluhan wisatawan mancanegara (wisman) yang terlibat memulai penanaman pohon penghijauan tersebut. Ada Julianne Kucheran, 23 tahun, asal Canada yang sedang menginap di kampung penduduk, juga ada Urska Pibernik dan Natasa Krajna dari Ljubljana Slovakia – tamu menginap Vila Ombak - yang sudah lima berlibur di sana. ‘’Ya saya senang ikut terlibat penghijauan ini,’’ ucap Kucheran sambil tertawa.
Penghijauan tersebut dilakukan berkat kerja sama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nusa Tenggara Barat (Budpar NTB) dan Dinas Kehutanan (Dishut) NTB untuk menghijaukan kawasan wisata primadona Gili Trawangan. Untuk tahap pertama, bibitnya diperoleh dari Dinas Kehutanan NTB. ‘’Ke depan, wisatawan diminta partisipasinya dalam paket wisata menanam dengan menyisihkan fee untuk bibitnya,’’ kata Kepala Dinas Budpar NTB Lalu Gita Ariadi bersama Kepala Dishut NTB Hartinah di Gili Trawangan.
Vila Ombak menggagas penghijauan dalam rangka ulang tahun ke-10 menggunakan biaya Rp50 juta dari relasi usahanya. Dinamakan Program Jumpa Berlian (Jum’at Pagi Bersih Lingkungan) bukit seluas 3,5 hektar yang berada di sekitar hotelnya yang pertama kalinya dihijaukan. ‘’Setelah di sini hijau, bukit di sebelahnya juga ditangani,’’ kata General Manager Vila Ombak Imam Wahyudi kepada LombokNews, selesai menanam di atas bukit setinggi 150 meter di atas permukaan laut.
Kepala Desa Gili Indah Muhammad Taufik menyebutkan bukit di Gili Trawangan seluas 15 hektar yang perlu dihijaukan. Dari luas pulau Gili Trawangan mencapai 338 hektar sudah ditempati sekitar 25 persen untuk hunian rumah 300an kepala keluarga atau 1.540 jiwa penduduk, dan 750an unit kamar homestay yang dimiliki oleh penduduk setempat hingga hotel berbintang milik pengusaha.(supriyantho khafid/lomboknews)


